Situasi Pelayaran di Selat Hormuz dan Dampaknya pada Pasokan Energi Global
Selat Hormuz, jalur penting yang menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak global, kembali menjadi sorotan akibat pembatasan pelayaran yang diberlakukan oleh Iran. Pembatasan ini muncul sebagai respons terhadap konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Meski situasi ini memicu gejolak energi di pasar dunia, beberapa negara telah mendapatkan izin untuk melintasi selat tersebut.
Negara-Negara yang Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Berdasarkan laporan media internasional, beberapa negara seperti Rusia, China, dan India telah masuk dalam daftar “negara sahabat” yang diizinkan melintasi Selat Hormuz. India, khususnya, disebut sebagai prioritas utama bagi Iran. Beberapa kapal pengangkut LPG dan minyak mentah seperti Jag Vasant, Pine Gas, Shivalik, dan Nanda Devi berhasil melewati selat dalam beberapa pekan terakhir.
Selain itu, Pakistan dan Irak juga termasuk dalam daftar negara yang diberikan izin pelayaran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa kapal-kapal dari China, Rusia, India, Pakistan, dan Irak, serta negara-negara lain yang dianggap sahabat, diperbolehkan melewati Selat Hormuz. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan energi global.
Thailand diizinkan melintasi jalur tersebut setelah koordinasi diplomatik, sementara Sri Lanka mendapat akses sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama kemanusiaan dan logistik selama konflik. Turkiye juga berhasil meloloskan sejumlah kapal melalui selat tersebut, meskipun lebih dari selusin kapal masih menunggu izin hingga Sabtu.
Negara-negara lain yang diizinkan melintasi Selat Hormuz antara lain Malaysia, Mesir, Korea Selatan, dan Bangladesh. Beberapa kapal yang melintasi jalur tersebut bahkan membayar biaya menggunakan yuan, sesuai dengan kebijakan baru Iran.
Upaya Eropa dan Jepang Melewati Selat Hormuz
Perancis dan Italia sedang berupaya membuka jalur diplomasi dengan Teheran untuk memperoleh izin melintasi Selat Hormuz. Sebuah kapal milik Perancis yang beroperasi dengan bendera Malta telah berhasil melintas pada Jumat (3/4/2026). Namun, belum dipastikan apakah akses yang diberikan bersifat penuh atau terbatas seperti yang dialami Turki.
Di sisi lain, Jepang mulai kembali mengirimkan kapal melalui jalur tersebut, dengan satu kapal telah melintas pada Kamis (2/4/2026). Laporan The Japan Times menyebutkan sekitar 45 kapal yang terkait dengan Jepang sebelumnya tertahan di Teluk Persia selama berminggu-minggu. Meski demikian, hingga kini belum ada kejelasan alasan di balik izin pelayaran yang baru diberikan tersebut.
Kapal Pertamina Masih Tertahan
Sejauh ini, kapal milik Pertamina belum bisa melewati Selat Hormuz untuk melanjutkan perjalanannya. Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menilai posisi Indonesia cukup rumit terkait kapal Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz, Iran.
Menurut Hikmahanto, Indonesia berada dalam posisi yang dilematis. Di satu sisi, Indonesia berkepentingan agar kapal tankernya dapat melintasi jalur tersebut demi kebutuhan nasional. Namun di sisi lain, langkah tersebut berpotensi menimbulkan persepsi bahwa Indonesia berpihak dan bisa dianggap sebagai lawan oleh Amerika Serikat.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan bahwa pemerintah Iran telah merespons positif permintaan pemerintah Indonesia supaya dua kapal tanker Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz dapat melintas dengan aman. Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela menyebutkan bahwa pihaknya bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran sejak awal telah melakukan koordinasi intensif dengan semua pihak terkait di Iran untuk keselamatan kapal tanker tersebut.
Meski telah ada tanggapan positif dari pihak Iran, hingga saat ini belum ada waktu pasti kapan kapal tanker tersebut bisa keluar dari Selat Hormuz. Proses teknis dan operasional masih terus berlangsung.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











