Kedai Rasa Asli Timur Indonesia (Rasta) di Bandung Tawarkan Kuliner Autentik
Di Jalan Cilaki no 59, Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, terdapat sebuah kedai yang menawarkan kuliner autentik dari Indonesia Timur. Kedai ini bernama Rasa Asli Timur Indonesia (Rasta), dan salah satu hidangan andalannya adalah papeda yang dibuat dari tepung sagu. Wangi ikan kakap kuah kuning semerbak di dalam kedai ini, menciptakan aroma yang menggugah selera.
Papeda, kudapan khas dari daerah timur, kini mulai digandrungi oleh warga Bandung. Proses pembuatan papeda dilakukan dengan cara mengadonkan tepung sagu dengan air yang mendidih panas. Elmut Jonathan Warinussy, pemilik kedai Rasta, melakukan pengadukan cepat menggunakan dua garpu secara beriringan agar tekstur papeda tetap lembut dan tidak gumpal.
Tanpa bumbu penyedap, papeda sudah siap disantap. Menurut Jonathan, rasa papeda memang netral seperti nasi. Ia sering menyajikan papeda bersama ikan kakap kuah kuning atau tumisan kangkung. Harga untuk menu utama ini dibanderol sebesar Rp50 ribu, termasuk papeda, nasi, ikan kuah kuning, tumis kangkung, dan minuman.
Meski menjaga keaslian rasa, Jonathan juga memastikan bahwa bumbu yang digunakan bisa diterima oleh lidah masyarakat lokal. Hal ini menjadi salah satu faktor kesuksesan kedai ini. Selain itu, banyak menu lain yang tersedia dengan harga yang lebih terjangkau, mulai dari Rp20 ribu-an.
Sagu Dari Papua dan Menu Khas Papua
Sebagai putra asli Papua, Jonathan ingin memastikan bahwa bahan-bahan yang digunakan benar-benar autentik. Oleh karena itu, sagu yang digunakan untuk membuat papeda didatangkan langsung dari tanah kelahirannya, Papua. “Jadi yang paling authentic itu papeda yang sagunya langsung kita datengin dari Papua,” ujarnya.
Selain papeda, Kedai Rasta juga menawarkan beragam menu khas Papua yang menggugah selera. Misalnya, berbagai jenis ikan bakar dan suwir ikan cakalang. Salah satu menu yang unik adalah ulat sagu, yang diolah menjadi sate. Jonathan berharap, melalui menu ini, masyarakat dapat lebih mengenal dan menerima makanan khas Indonesia Timur.
“Jadi saya ingin perkenalkan ulat sagu. Nah, itu kita lagi nyari formula yang memang bisa dikemas dan bisa masuk di lidah orang-orang Bandung,” tuturnya.
Trend Musik dan Minat Masyarakat Bandung
Menurut Jonathan, minat masyarakat Bandung terhadap kuliner Timur mulai meningkat seiring dengan tren musik yang populer di platform streaming. “Memang enggak salah saya membuka usaha di Bandung yang pecinta kuliner. Ada yang viral, baru mereka langsung datangi. Jadi animo masyarakat Bandung itu lumayan greget buat cita rasa kuliner dari Indonesia Timur, apalagi ditambah dengan boomingnya musik dari Timur,” jelasnya.
Awalnya, Jonathan hanya menargetkan pelanggan dari daerah Indonesia Timur. Namun, ia memilih lokasi kedai yang berada persis di depan asrama mahasiswa Papua di Kota Bandung. Hal ini bertujuan agar mahasiswa asal Timur dapat mudah mengakses kedai tersebut.
Kerja Sama dengan Mahasiswa Asal Timur
Untuk menjalankan usaha ini, Jonathan merangkul mahasiswa asal Indonesia Timur untuk bekerja paruh waktu. Beberapa dari mereka berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, dan Papua. “Teman-teman yang bantu di sini ada dari NTT, Maluku, Papua. Jadi, mereka diberdayakan di sini, kerja part time,” ujarnya.
Kedai Rasta awalnya berdiri sebagai usaha sampingan setelah Jonathan memutuskan untuk meninggalkan dunia clothing. “Awal mula terbentuk Kedai Rasta itu karena sedang mepet, butuh duit. Terus melihat bahwa ada peluang makanan khas Indonesia Timur di Bandung, karena Bandung itu jadi kota kuliner,” imbuhnya.
Cabang Baru dan Pengunjung Setia
Kedai Rasta telah berdiri sejak tahun 2018 dan kini memiliki cabang baru yang dibuka sejak satu bulan lalu. Lokasi cabang baru ini berada di Jalan Siliwangi nomor 31B, Kota Bandung. Jonathan berharap, kedai ini dapat terus berkembang dan memberikan pengalaman kuliner yang autentik bagi para pengunjung.
Mei, seorang mahasiswi Universitas Pasundan, mengaku mengetahui Kedai Rasta melalui media sosial. “Tahu tempat ini dari TikTok, waktu itu lewat di for your page (fyp). Terus aku penasaran, jadi langsung coba ke sini,” ujar Mei.
Bagi Anda yang tertarik mencicipi hidangan Kedai Rasta, kedai ini buka mulai pukul 10.30 hingga 22.30 WIB.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











