"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Senja Ramadan yang Menggugah

Ramadan, Bulan yang Penuh Makna dan Pengajaran



Pada saat cahaya senja mulai memancar, kita diingatkan untuk menikmati momen-momen indah sebelum langit dan bumi berubah. Ramadan, bulan suci yang penuh makna, telah memberikan banyak pelajaran berharga bagi umat Islam. Tidak terasa, perjalanan puasa ini akan segera berakhir. Namun, kehadirannya selama ini sangat berarti dalam kehidupan kita. Ramadan seperti vitamin spiritual yang memberi energi baik secara lahir maupun batin. Cahaya yang hangat dari Ramadan membuat kita ingin terus dekat dengannya.

Bulan ini adalah bulan rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka. Jika kita tidak memanfaatkan waktu dengan baik, maka kita akan merugi. Tidak ada jaminan bahwa kita akan kembali bertemu dengan Ramadan tahun depan. Oleh karena itu, kita harus menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas iman dan amal ibadah.

Perubahan Positif Selama Ramadan

Disadari atau tidak, kehadiran Ramadan telah membawa banyak perubahan positif dalam kehidupan kita. Banyak orang yang awalnya sering bolong-bolong dalam solat lima waktu kini menjadi rajin berjamaah di masjid. Mereka yang sebelumnya jarang membuka mushaf Al-Quran kini merutinkan membaca satu juz setiap hari. Bahkan, mereka yang sebelumnya sungkan berderma kini menjadi lebih rajin dalam berbagi.

Ada pepatah bijak yang mengatakan, “Tidak apa-apa sedikit, yang penting konsisten. Lama-lama jadi bukit.” Hal ini menjadi motivasi bagi kita untuk tetap konsisten dalam beribadah meskipun awalnya sulit. Di awal puasa, mungkin kita masih kesulitan mengendalikan hawa nafsu. Aroma masakan saja bisa membuat kita ingin segera mencicipinya. Namun, setelah beradaptasi, kita mulai semangat melakukan amalan-amalan yang memiliki potensi pahala besar.

Kehidupan Harian Selama Ramadan

Di pagi hari, kita melaksanakan solat lima waktu di masjid, berusaha berdiri di shaf terdepan. Setelah itu, kita mulai membaca kitabullah, sesekali dengan terjemahannya. Target kita adalah membaca satu juz setiap hari. Meski kebiasaan tidur pagi sempat menggoda, kita segera bangkit menjemput rezeki (cuan). “Memang uang tidak dibawa mati, tetapi kalau tidak ada uang rasanya pengen mati,” kata orang bijak.

Saat menjelang magrib, kita juga mengambil peran lain, yaitu menyiapkan menu berbuka untuk saudara-saudara kita. Berbagai jenis kuliner khas nusantara seperti kurma, es buah, kolak, jalangkote, bakwan, dan lainnya disajikan. Malam hari pun dipenuhi dengan solat tarawih dan witir berjamaah. Sesampainya di rumah, kita melanjutkan dengan santap sisa-sisa buka (SSB). Nikmat betul, alhamdulillah. Tak lupa, kita juga membaca buku sejenak, tidur, bangun untuk tahajjud di sepertiga malam terakhir, makan sahur bersama keluarga, dan solat subuh berjamaah. Lebih kurang begitulah siklus aktivitas kita selama Ramadan.

Puasa dan Kesehatan Mental

Dalam sebuah podcast yang tayang di kanal YouTube, ada pertanyaan menarik: “Mengapa orang muslim yang sedang berpuasa jarang mengeluhkan asam lambung naik?” Jawaban dari mantan binaragawan Ade Ray cukup menarik. Ia menjelaskan bahwa puasa memiliki efek menguatkan hati. Orang yang berpuasa memiliki asosiasi di alam bawah sadarnya. Tubuh beserta seluruh perangkatnya merespons dengan afirmasi positif. Hati dan persepsi kita yang tenang, gembira, dan sukacita itulah yang menguatkan saat kita berpuasa.

Demikianlah, puasa benar-benar menjadikan kita berada dalam nuansa pikiran yang bagus. Kita menjadi orang yang tangguh, tidak hanya secara spiritual tetapi juga sosial.

Setelah Ramadan Berlalu



Mendekati akhir Ramadan, tentu sudah banyak amaliah yang kita kerjakan. Siang maupun malam. Setelah Ramadan berlalu, kita seyogianya terus berupaya untuk istiqomah menunaikan ibadah. Bukan hanya kuantitas, tetapi kualitas ibadah itulah yang sejatinya patut kita berikan atensi khusus. Harus dengan niat ikhlas, lurus karena Allah Swt. Bukan karena mengharapkan pujian orang lain.

Rasulullah Saw mewanti-wanti, “Tidaklah seorang hamba meminta pujian dari manusia kecuali Allah akan mengambil kehormatannya.” Dalam posisi kita sebagai makhluk sosial, kita juga harus terus menjaga silaturrahmi dengan sesama warga bangsa.

Begitu istimewanya Ramadan, para sahabat Rasulullah Saw sampai bersedih ditinggalkan oleh bulan yang mulia ini. Mereka merasakan kenikmatan beribadah di bulan Ramadan yang sangat luar biasa. Dalam suatu riwayat, sahabat bernama Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Sungguh aku merasa lebih sedih di penghujung Ramadan daripada ketika kehilangan anakku sendiri.”

Jika para sahabat saja bersedih di penghujung Ramadan, bagaimana dengan kita? Saudara Rasulullah. Jangan kaget! Dalam percakapan dengan para sahabatnya, Rasullulah menyebut kita adalah saudaranya. Sabdanya, “Kalian adalah sahabatku. Tetapi saudara-saudaraku adalah mereka yang datang setelahku dan beriman kepadaku tanpa pernah melihatku.”

Allahumma Sholli Alaa Sayyidinaa Muhammad.

Pada akhirnya, Ramadan memasuki masa senjanya untuk bergegas meninggalkan kita. Namun sebelum dia benar-benar pergi, dititipkannya pertanyaan penting untuk kita renungkan. “Bagaimana ibadah kita setelah Ramadan berlalu? Masihkah kita memiliki motivasi beribadah seperti di bulan Ramadan?”

Mari kencangkan ikatan sarung kita. Hidupkan malam-malam terakhir Ramadan bersama keluarga. Marilah fokus mengejar pakaian taqwa ketimbang baju lebaran. Semoga kita semua dimampukan oleh Allah Swt untuk meraih “ijazah” La’allakum Tattaqun, sehingga kita dapat berhari raya bersama keluarga dan sanak famili dengan penuh sukacita dibalut dengan kedamaian dan kesyukuran. Aamiin yaa rabbal aalamin.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *