"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Perang dan Damai: Luka Tersembunyi, Duka Tak Berkesudahan

Perang yang Mengguncang Dunia dan Dampaknya pada Peradaban

Perang yang diprovokasi oleh Israel dan didukung oleh Amerika Serikat (AS) sejak 28 Februari 2028 hingga kini telah memporakporandakan wilayah Israel dan Iran serta mengguncang pangkalan militer AS di Kawasan Timur Tengah. Perang ini merupakan ambisi dari Benjamin Netanyahu dan Donald Trump, bahkan mengajak negara-negara lain agar berada di belakang mereka.

Celakanya, tidak semua negara mendukung AS. Masyarakat AS juga tidak sepenuhnya mendukung perang, banyak negara yang menolak keterlibatan langsung dalam konflik, bahkan ada juga yang mengancam serangan ke Iran tersebut. Iran melawan ekspansi perang Amerika-Israel dalam pola asimetris dengan menghidupkan aliansi yang telah lama dibinanya dalam sebuah ideologi.

Menurut sumber terbuka Google, Proksi Iran (jaringan Axis of Resistance) adalah kelompok milisi dan politik di Timur Tengah yang didukung Iran untuk memperluas pengaruh dan melawan pengaruh AS serta Israel. Kelompok utamanya meliputi Hizbullah di Lebanon, Hamas dan PIJ (Palestina), Houthi di Yaman, serta berbagai kelompok milisi di Irak dan Suriah.

Perang panjang pertahanan yang dilakukan oleh Iran, semacam gerilya bahkan “gerilya udara”, bagaimana dengan AS? Presiden Donald Trump dengan ambisi untuk ekspansi perang tersebut melakukan berbagai klaim informasi sepihak. Bahkan kebohongan dalam berbagai pemberitaan suatu propaganda yang akan merugikan AS sebagai masyarakat rasional atas berbagai sikap, perilaku, dan tindakannya terhadap kejahatan kemanusian dan propagandanya.

Apa yang akan terjadi bila perang yang berkempanjangan dan negosiasi buntu? Maka perang ini akan menelan biaya besar, menghancurkan peradaban manusia. Oleh karena itu, perang ini akan berimbas, akan dirasakan dampaknya oleh semua negara dan masyarakat internasional.

Perang yang berkepanjangan dan negosiasi yang terancam buntu akan membuat peradaban mundur ke belakang. Situasi ini harus menjadi perhatian serius masyarakat dunia dan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk mendorong kembali para pihak yang berperang dalam perundingan, negosiasi, perdamaian.

Mandat PPB untuk menghentikan perang suatu yang sangat urgensi dilakukan segera atas nama kemanusiaan, dan kerusakan ekologi. Apa yang dapat mendasari negosiasi, ketika para pihak harus menyadari bahwa mereka tidak dapat mencapai tujuan mereka dengan kekerasan.

Bahwa kekerasan memerlukan biaya yang sangat besar untuk dilanjutkan, kompromi, pengakuan, dialog dan memerlukan sebuah transformasi yang sangat kompleks, memerlukan kampanye internasional yang luas untuk menghentikan perang dan gencatan senjata. Karena perang bukan sebuah ilusi, perang ciptaan manusia yang rasional namun tidak berperadaban, untuk hasrat dan nafsu kekuasaan.

Perang bukan sekadar dentuman senjata, ledakan bom, atau pergeseran peta kekuasaan. Di balik itu semua, perang adalah kisah panjang tentang luka, sukka dan duka yang tidak selalu tampak di permukaan. Konflik yang melibatkan aktor provokator serangan awal yang dilakukan oleh Zionis Yahudi Benjamin Netanyahu dan dukungan dari Donald Trump, serta kemudian terjadi eskalasi antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat, memperlihatkan bahwa setiap keputusan politik yang berujung pada perang akan selalu berimplikasi pada penderitaan manusia, ekologi alam yang luas dan mendalam.

Luka akibat perang tidak hanya berupa kerusakan fisik, tetapi juga luka batin, gila (pungoe massal) yang membekas sepanjang hayat. Namun, untuk memahami kedalaman luka itu, kita tidak bisa mengabaikan angka-angka yang berbicara.

Dalam Perang Dunia II, sekitar 70 –85 juta manusia kehilangan nyawa. Artinya, setiap hari selama perang tersebut berlangsung, puluhan ribu manusia gugur, sia-sia. Sementara dalam Perang Dunia I, lebih dari 16 juta orang tewas dan sekitar 20 juta lainnya terluka. Angka ini menunjukkan bahwa perang bukan hanya membunuh, tetapi juga menyisakan generasi yang hidup dalam penderitaan fisik dan mental.

Duka perang semakin nyata ketika melihat tragedi di Hiroshima dan Nagasaki. Lebih dari 200.000 orang meninggal akibat bom atom, dan ribuan lainnya meninggal dalam tahun-tahun berikutnya akibat radiasi. Bahkan hingga kini, dampak kesehatan masih dirasakan oleh keturunan para korban. Ini adalah bukti bahwa satu peristiwa perang dapat menciptakan duka lintas generasi.

Dalam konflik modern, angka-angka penderitaan terus bertambah. Perang di Suriah telah menewaskan lebih dari 500.000 orang, dengan lebih dari 6,8 juta pengungsi ke luar negeri dan sekitar 6 juta lainnya mengungsi di dalam negeri. Di Yaman, konflik yang melibatkan Houthi movement diperkirakan telah menyebabkan lebih dari 377.000 kematian, di mana sebagian besar bukan karena pertempuran langsung, tetapi akibat kelaparan, penyakit, dan runtuhnya sistem kesehatan.

Ini menunjukkan bahwa dampak perang jauh melampaui medan tempur. Mendorong perdamaian. Setiap angka tersebut sejatinya adalah wajah manusia, anak-anak yang kehilangan orang tua, ibu yang kehilangan anak, keluarga yang kehilangan masa depan. Lebih dari 100 juta orang di dunia saat ini hidup dalam kondisi pengungsian akibat konflik dan kekerasan. Ini adalah krisis kemanusiaan global yang tidak bisa lagi diabaikan.

Perang juga menciptakan duka kolektif bagi peradaban manusia. Infrastruktur hancur, ekonomi runtuh, pendidikan terhenti, dan generasi muda kehilangan kesempatan untuk berkembang. Dalam kondisi ini, peradaban tidak hanya mundur, tetapi juga kehilangan arah. Tidak ada kemajuan yang dapat dibangun di atas puing-puing kehancuran dan penderitaan.

Dalam konteks ini, perang modern yang melibatkan jaringan aktor seperti Hezbollah semakin memperumit penyelesaian konflik. Perang menjadi panjang, tidak pasti, dan penuh dengan kepentingan tersembunyi. Tidak ada kemenangan sejati, yang ada hanyalah akumulasi korban yang terus bertambah.

Melihat besarnya angka korban dan kedalaman duka yang ditimbulkan, maka tidak ada alasan moral maupun kemanusiaan untuk melanjutkan perang. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak senjata, tetapi membutuhkan lebih banyak dialog. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak konflik, tetapi membutuhkan lebih banyak keadilan, dan perdamaian.

Di sinilah peran Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi sangat penting untuk segera mendorong penghentian perang baik di Iran maupun konflik di tempat lain dan membuka kembali ruang negosiasi, perundingan damai. Gencatan senjata, diplomasi aktif, dan komitmen terhadap hukum internasional harus menjadi prioritas utama.

Pada akhirnya, setiap detik perang yang berlangsung berarti bertambahnya korban, bertambahnya luka, dan bertambahnya dukka. Statistik korban bukan sekadar angka, melainkan jeritan kemanusian yang meminta untuk didengar. Karena itu, menghentikan perang dan kembali ke meja perundingan bukan hanya pilihan politik, tetapi sebuah keharusan moral. Perdamaian adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran yang lebih besar. Tanpa itu, luka akan terus menganga, dan duka akan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Semoga dapat bersiap untuk perdamaian abadi.




Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *