"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Menteri Luar Negeri Sugiono: Prancis Setuju DK PBB Gelar Rapat Darurat Bahas Serangan UNIFIL

Indonesia Minta PBB Gelar Rapat Darurat Terkait Serangan terhadap Pasukan UNIFIL

Pemerintah Indonesia mengambil langkah tegas dalam menanggapi serangan-serangan terhadap pasukan perdamaian PBB di Lebanon. Langkah ini dilakukan setelah beberapa insiden yang menyebabkan korban jiwa dari pasukan TNI yang bertugas sebagai peacekeepers. Indonesia menilai bahwa keamanan dan keselamatan para prajurit penjaga perdamaian harus menjadi prioritas utama, mengingat tugas mereka hanya sebatas menjaga perdamaian, bukan menciptakan perdamaian.

Desakan untuk Rapat Darurat Dewan Keamanan PBB

Dalam pernyataannya, Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, menyampaikan bahwa pihaknya telah meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menggelar rapat darurat di Dewan Keamanan (DK) PBB. Prancis, yang bertindak sebagai pen holder urusan Lebanon di DK, telah menyetujui desakan tersebut.

“Kemudian juga Pemerintah Republik Indonesia lewat perwakilan tetap kita di New York, satu hari setelah insiden yang pertama meminta kepada Dewan Keamanan PBB untuk melaksanakan rapat dan pada waktu itu Prancis selaku pen holder urusan Lebanon di Dewan Keamanan itu menyetujui untuk menyelenggarakan rapat luar biasa Dewan Keamanan,” ujar Sugiono di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu, (4/4/2026).

Desakan ini muncul setelah terjadi serangan-serangan terhadap pasukan UNIFIL, yang merupakan pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon. Indonesia mengecam keras aksi-aksi yang dilakukan terhadap personel UNIFIL dan menuntut adanya investigasi menyeluruh atas insiden-insiden tersebut.

Kecaman terhadap Serangan terhadap Pasukan Perdamaian

Indonesia tidak hanya mengecam serangan terhadap pasukan UNIFIL, tetapi juga menuntut agar penyelidikan dilakukan secara transparan dan objektif. Menurut Sugiono, pasukan penjaga perdamaian memiliki mandat khusus untuk menjaga situasi damai, bukan untuk terlibat dalam konflik atau operasi militer.

“Kita juga menuntut supaya dilakukan investigasi menyeluruh karena ini adalah misi penjaga perdamaian,” katanya.

Selain itu, Sugiono menekankan perlunya evaluasi keselamatan bagi prajurit UNIFIL, khususnya yang berada di Lebanon. Ia menegaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian harus diberikan jaminan keamanan yang memadai.

“Oleh karena itu kita juga meminta kepada PBB untuk mengevaluasi lagi keselamatan prajurit penjaga perdamaian PBB ini di mana pun berada khususnya di UNIFIL ini,” tambahnya.

UNIFIL: Pasukan Penjaga Perdamaian, Bukan Pencipta Perdamaian

Menurut Sugiono, UNIFIL adalah pasukan penjaga perdamaian yang dibekali dengan kemampuan untuk menjaga situasi damai, bukan untuk menciptakan perdamaian. Oleh karena itu, keselamatan mereka harus dijamin sepenuhnya.

“Karena mereka menjaga perdamaian, they are peace keeping not peace making. Mereka tidak dilengkapi dengan kemampuan untuk membuat ataupun peace making ya. Perlengkapannya dan latihannya adalah untuk menjaga perdamaian, situasi damai yang dijaga. Dan ini juga merupakan mandat dari PBB ya, peace keeping ini,” ujarnya.

Insiden Serangan terhadap Pasukan TNI di Lebanon

Sebelumnya, operasi militer Israel di Lebanon Selatan menyasar pasukan perdamaian di bawah mandat PBB atau UNIFIL di Lebanon. Dalam satu pekan terakhir, terjadi setidaknya tiga serangan terhadap UNIFIL. Dua serangan pertama menyebabkan tiga prajurit TNI Indonesia gugur.

Praka Farizal Romadhon gugur pada Minggu (29/3/2026) akibat ledakan proyektil artileri di posisi UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr. Sedangkan Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan gugur ketika sebuah ledakan di pinggir jalan menghancurkan kendaraan mereka di dekat Bani Hayyan pada Senin (30/3/2026).

Kemudian serangan atau ledakan ketiga terjadi pada Jumat, 3 April 2026 di El Addaiseh, Lebanon selatan. Insiden tersebut melukai tiga personel peacekeepers Indonesia.




admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *