"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"
Budaya  

Filsafat, Al-Azhar, dan Akal Terbuka



Banyak orang sering menganggap filsafat sebagai hal yang berbahaya dalam konteks keimanan. Di ruang-ruang pesantren, majelis taklim, atau panggung dakwah, filsafat sering dianggap sebagai “pemicu kesesatan” karena dianggap sebagai aktivitas akal yang berlebihan dan berpotensi merusak iman. Bahkan, terkadang dikaitkan dengan dampak liberal dan sekuler.

Namun, jika kita memahami lebih dalam—sebagaimana diajarkan oleh para guru besar di Al-Azhar, Mesir—justru di situlah kita menemukan “kunci” untuk memahami bahwa iman tanpa rasionalitas adalah buta, sementara rasionalitas tanpa wahyu adalah pincang. Belajar filsafat, khususnya di tengah lingkungan akademik Al-Azhar, bukanlah upaya mengganti al-Qur’an dengan logika Aristoteles. Sebaliknya, ini adalah usaha untuk menempatkan teks suci dalam konteks zaman yang dinamis.

Saya sendiri bersyukur bisa mencicipi “racun” sekaligus “penawar” bernama filsafat. Belajar filsafat, khususnya di Al-Azhar, melatih kita untuk tidak mudah mengkafirkan, tidak cepat menghakimi, dan tidak kaku dalam beragama. Filsafat memaksa kita memiliki pikiran terbuka (open-mindedness).

Al-Azhar Kairo, dengan lorong-lorongnya yang penuh tumpukan buku murah dan sejarah, memaksa saya bertemu dengan berbagai pemikiran, dari mistisisme Ibnu Arabi hingga rasionalisme Ibnu Rusyd dan kritik Hasan Hanafi. Di sini, saya belajar bahwa Islam adalah peradaban yang kaya, bukan hanya sekadar daftar haram-halal.

Dengan ilmu filsafat, kita sadar bahwa “kebenaran” tidak selalu tunggal. Ada ruang-ruang ijtihad yang luas. Saat kita berhenti berfilsafat, saat itulah kita berhenti berpikir, dan agama menjadi kering, bahkan nampak kaku dan jumud, mirip doktrin gereja di abad pertengahan.

Jejak Intelektual Indonesia yang Terinspirasi Al-Azhar

Argumen bahwa belajar filsafat penting diperkuat oleh jejak panjang intelektual Indonesia yang lahir dari rahim Al-Azhar. Tidak bisa kita abaikan kontribusi mereka yang telah membentuk wajah Islam Indonesia yang moderat dan santun hari ini.

Jika kita melihat biografi Almarhum Prof. Dr. H. Mohammad Rasjidi, Menteri Agama pertama, kita belajar bahwa Islam harus berdialog dengan modernitas tanpa kehilangan identitas. Lalu ada Prof. Dr. Harun Nasution dan Prof. Dr. Hj Zakiah Daradjat yang membuka pintu rasionalitas dan kesehatan mental dalam studi Islam di tanah air.

Selanjutnya, Prof. Dr. Abdul Mukti Ali membawa pendekatan “pesantren” dalam melihat agama-agama lain secara objektif. Mereka semua—termasuk generasi pelanjut seperti Prof. Dr. H. Abuddin Nata, Prof. Dr. Nursamad Kamba, Dr. KH. Ahmad Faudzi Tijani, Dr. Phil KH. Habiburrahman El Syirazi, Dr. KH. Nanang Firdaus, Gus Dubes Zuhairi Misrawi, Dr. KH Aguk Irawan MN, M. Guntur Romli, Dr. Zainul Maarif, hingga yang belakangan muncul seperti Muhammad Nurrudin, MA—semuanya memberikan contoh nyata bahwa lulusan Al-Azhar yang berlatar belakang jurusan filsafat tidak hanya menjadi ulama atau pengasuh pesantren, tetapi juga mampu menggunakan akal strategis untuk menjawab tantangan zaman.

Mereka adalah “penjaga gawang” Islam Wasathiyah. Mereka melawan arus ekstremisme dengan argumentasi filsafat yang kokoh.

Mengapa Memilih Filsafat?

Di era post-truth ini, di mana hoaks dan fitnah keagamaan berseliweran, Indonesia membutuhkan lebih banyak pemikir yang berlatar belakang filsafat Islam. Sebab, filsafat memberikan ketajaman analisis. Kita tidak lagi mudah terombang-ambing oleh narasi-narasi dangkal.

Filsafat juga mengajarkan etika dan dialog. Filsafat Islam (terutama yang dipelajari di Al-Azhar) menghubungkan tradisi klasik (turats) dengan metodologi modern. Belajar filsafat di Al-Azhar adalah pilihan untuk menjadi bagian dari solusi, bukan masalah. Ini adalah jalan bagi santri untuk berani keluar dari zona nyaman intelektual, untuk berani berpikir “tak biasa,” namun tetap mengakar pada keislaman yang kuat.

Bagi saya pribadi, filsafat adalah cara saya bersyukur atas akal yang diberikan Allah. Dengan filsafat, saya belajar untuk melihat dunia dengan kacamata yang lebih terbuka, penuh empati, dan tidak kaku. Meskipun terkadang dianggap “nyeleneh”, melawan arus dan dicap “provokator”. Tidak mengapa sebuah resiko berpikir kritis secara terbuka.

Mari kita warisi semangat para pendahulu kita, para ulama Al-Azhar yang menjadi pelita keilmuan, untuk menjadikan filsafat sebagai alat untuk menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin di Indonesia. Sebab, hanya dengan akal yang terbuka, kita bisa mencintai agama ini dengan cara yang paling cerdas. Wallahu a’lam bish-shawabi.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *