Perkelahian Antara Dua Remaja Putri di Gorontalo Viral di Media Sosial
Sebuah video yang menampilkan perkelahian antara dua remaja putri viral di media sosial. Insiden ini terjadi di lokasi sepi dan diduga berada di wilayah Gorontalo. Video tersebut memicu berbagai reaksi dari warganet, termasuk kecaman terhadap tindakan perekaman dan penyebaran rekaman tersebut.
Dalam video tersebut, suasana lokasi tampak relatif sepi dan jauh dari permukiman warga. Terdapat delapan orang di tempat kejadian, yang terdiri dari satu pria dan tujuh perempuan—termasuk dua orang yang terlibat perkelahian. Salah satu remaja yang mengenakan baju hitam tampak dalam kondisi kotor dan merangkak di tanah dengan rambut acak-acakan serta tubuh yang dipenuhi bekas lumpur. Sementara itu, lawannya yang mengenakan pakaian motif belang hitam-putih awalnya terlihat duduk di atas sepeda motor.
Tak lama kemudian, remaja berbaju hitam tersebut langsung melancarkan serangan. Perkelahian pun tak terhindarkan; keduanya terlibat aksi saling jambak dan tarik rambut hingga ‘bergulat’ di tanah. Situasi tersebut sempat menjadi tontonan orang-orang di sekitar lokasi. Bahkan, beberapa di antaranya terlihat antusias menyaksikan perkelahian itu tanpa ada upaya untuk melerai.
Aksi tersebut akhirnya dihentikan oleh perekam video. Ia memisahkan keduanya setelah pakaian dalam salah satu remaja terlihat, terlebih karena di lokasi tersebut juga terdapat seorang pria. Hingga saat ini, lokasi pasti dan motif kejadian belum diketahui secara pasti. Namun, berdasarkan percakapan dalam video, peristiwa itu diduga terjadi di wilayah Gorontalo karena menggunakan dialek setempat.
Video ini pertama kali dibagikan oleh akun Facebook bernama Frista Mandak. Dalam unggahannya, ia sangat menyayangkan tindakan perekaman serta penyebaran video tersebut. “Kalian yang memvideokan awas kalian, kurang ajar kalian, kalian pikir mereka hewan yang saling diadu berkelahi,” tulisnya dalam caption.
Dalam keterangan lanjutan di kolom komentar, Frista mengungkapkan bahwa salah satu remaja dalam video merupakan kerabatnya. Ia menyebutkan bahwa remaja yang mengenakan pakaian belang hitam-putih adalah keponakannya yang bernama Ebi. Frista juga menjelaskan kronologi awal kejadian berdasarkan informasi yang ia terima. Menurutnya, peristiwa itu bermula saat Ebi pergi bersama temannya. Teman Ebi tersebut kabarnya diajak berkelahi oleh pihak lain, namun karena kondisi fisik temannya yang kurus dan menolak untuk melawan, justru Ebi yang kemudian menjadi sasaran serangan.
Hingga saat ini, masih berupaya menelusuri lebih lanjut kebenaran informasi tersebut dengan berkoordinasi bersama aparat kepolisian setempat.
Tips untuk Orang Tua: Cegah Anak Agresif
Peristiwa perkelahian di kalangan remaja bukanlah pemandangan yang patut dianggap remeh. Pendidikan karakter sejak dini sangat diperlukan untuk mencegah perilaku menyimpang anak di masa remaja hingga dewasa.
Menurut laman resmi Sehabat Keluarga Kemendikbud via Kompas.com, tindakan agresif saat remaja tersebut bisa dipicu dari bagaimana orangtua merespon prilaku agresif anak sejak ia masih kecil. Saat tindakan agresif anak terus dimaklumi (karena menganggap anak masih kecil), atau justru orangtua meresponsnya dengan tindakan agresif juga (balas memarahi dan melakukan tindakan fisik seperti mencubit atau memukul), itulah yang akhirnya membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang suka menyerang dan menyakiti orang lain.
Itu sebabnya, orangtua dan guru perlu melakukan langkah efektif saat anak menunjukkan sikap agresif di rumah maupun di sekolah. Diharapkan, saat remaja dan dewasa, mereka dapat menuangkan emosinya dalam panggung yang lebih positif, alih-alih melampiaskannya dalam bentuk tawuran atau tindak kekerasan.
Saat anak masih usia balita hingga sekolah dasar, sikap agresif biasanya dipicu oleh beberapa faktor, seperti rasa cemburu, marah, gemas, bentuk pembelaan ataupun rasa iseng yang tiba-tiba masuk ke dalam dirinya. Bisa juga akibat banyaknya tontonan televisi yang memperlihatkan adegan pertarungan. Sehingga anak dengan mudah meniru tindakan tersebut. Salah satu tindak agresivisme yang sering dilakukan anak-anak adalah menjambak rambut teman atau memukul.
Walau begitu, anak-anak sebenarnya tidak 100 persen ingin menyakiti temannya, melainkan sebagai bentuk ekspresi emosi. Sehingga, bentuk ekspresi emosi inilah yang perlu diarahkan oleh orang tua. Bahwa marah atau kesal sangat boleh dirasakan, namun cara mengekspresikannya harus benar.
Berikut beberapa hal yang dapat orangtua dan guru lakukan saat anak sering “menyakiti” temannya:
-
Dengar alasan anak
Tanyakan alasan anak mengapa ia melakukan tindakan tersebut. Pastikan melihatnya dari sudut pandang anak bahwa anak-anak maupun orang dewasa tidak akan melakukan tindak kejahatan ataupun agresif tanpa adanya alasan. Dengarkan alasan anak dan terima apa yang dirasakannya, misal dengan berkata “iya, kamu kesal ya.” Dengan begitu anak merasa didengar, emosinya pun menjadi reda. -
Beri pemahaman, bukan kemarahan
Setelah menerima perasaan anak dan emosinya mereda, lanjutkan dengan memberi pemahaman bahwa itu merupakan tindakan yang tidak baik. Katakan dengan nada lembut, bukan berupa amarah. Semisal, anak menjambak karena temannya merebut mainan. Orangtua dan guru dapat memberi tahu anak bahwa permasalahan itu dapat diselesaikan dengan bicara baik-baik tanpa adanya kekerasan. Cara lain dalam memberi pemahaman dan dapat pula dengan mencontohkan langsung pada anak. Anda dapat menarik lembut atau sehelai rambut pada anak, dan menanyakan kepada mereka bagaimana rasanya. Saat mereka menjawab sakit, secara tidak langsung anak akan belajar bahwa apa yang dilakukan kepada temannya bukanlah hal yang benar. -
Ajak anak mengeluarkan lewat kata-kata
Langkah selanjutnya, ajari anak mengungkapkan keinginan lewat kata-kata. Ini merupakan hal dasar yang harus orangtua ajarkan kepada anak-anak terutama dalam mencegah tindakan agresivisme pada usia dini. Dengan mengajarkan kebiasaan seperti ini, anak akan terbiasa menyelesaikan permasalahannya dengan cara membicarakan atau mengungkapkan permasalahan tersebut dengan kata-kata tanpa harus bertindak agresif. -
Bangga dan kecewa
Ketimbang memarahi anak, orangtua bisa mengungkapkan rasa kecewa terhadap perilaku buruknya di luar rumah, katakanlah bahwa Anda kecewa dan sedih dengan sikapnya. Dengan begitu anak akan belajar memahami perasaan orang lain. Begitu juga sebaliknya, saat anak berperilaku baik katakanlah bahwa Anda senang dan bangga dengan mereka. Perbedaan respon ini akan membuat anak lebih mengerti sikap-sikap mana saja yang membahagiakan orangtua atau sebaliknya. -
Sanksi sosial
Bila anak masih melakukan tindakan agresif, katakan kepada anak bahwa besok mungkin tak ada yang mau berteman dengannya. Karena setiap orang tidak ada yang ingin memiliki teman yang suka menyakiti satu sama lain. Namun, bila anak justru menjadi “korban” tindakan agresif temannya, janganlah sekali-kali menyuruh anak untuk membalas teman. Sebab, secara tidak langsung Anda mengajarkan sikap balas dendam terhadap anak sekaligus membolehkan melakukan kekerasan.











