"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"
Opini  

Di Antara Keraguan dan Ketenangan: Jalan Menuju Iman yang Tak Pernah Berakhir

Menjadi Teman Berjalan dalam Pencarian Iman yang Tak Pernah Selesai

Di sudut ruang function (tempat praktik siswa perhotelan yang biasa kami pakai untuk pelajaran agama) yang redup, di antara derit kursi dan desau angin dari jendela terbuka, seorang guru duduk bukan di depan papan tulis, tapi di antara murid-muridnya. Buku teks tertutup. Yang terbuka adalah hati. Ia tak buru-buru menjawab pertanyaan tentang Tuhan, melainkan bertanya balik: “Apa yang membuatmu bertanya begitu?” ketika mendapati murid ragu dengan kasih Allah karena dia merasa itu asing dalam keluarganya.

Di sini, di ruang yang lebih mirip ruang dengar ketimbang ruang kelas, iman Katolik bukan diajarkan sebagai rumus, tapi ditumbuhkan lewat percakapan jujur tentang kegelapan, keraguan, dan cahaya kecil yang kadang tak bisa dinamai.

Kelas sebagai Ruang Suci: Di Mana Hati Lebih Keras Daripada Buku

Sebagai guru agama, saya percaya: setiap pertanyaan murid tentang dosa, doa, atau keadilan ilahi bukanlah ujian bagi pengetahuan saya, tapi undangan untuk duduk bersama di tanah suci perasaan mereka. Ketika seorang siswa berkata, “Pak, aku bingung kenapa Tuhan mengizinkan ini,” saya tak langsung mengutip Kitab Suci. Saya bertanya balik: “Apa yang terasa paling berat bagimu hari ini?” Atau setelah hampir enam bulan kamu berada di kelas ini, di sekolah ini, “Apa yang paling membuatmu senang? Bagaimana kamu menunjukkan rasa senang itu?”

Pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban langsung, tetapi mengajak siswa masuk ke dalam dirinya sendiri. Ia berefleksi. Mencari dan memaknai setiap pengalaman juga perasaannya sendiri. Dalam dinamika demikianlah iman sejati bertumbuh, bukan dari hafalan ayat, tapi dari keberanian berjalan bersama dalam kebingungan, seperti Yesus yang duduk di sumur dan mendengarkan kisah perempuan Samaria sebelum berkata, “Aku yang bicara dengan engkau” (Yohanes 4:10).

Mendengar sebagai Ibadah: Ketika Doa Tersembunyi dalam Pertanyaan

Hari ini di hari Guru Nasional ke-80, selepas upacara bendera saya menerima WA dari salah satu murid yang menulis demikian, “Terima kasih sudah mendampingi saya mendengarkan keluhan saya dengan sabar.. bahkan ketika saya tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan sendiri.”

[Pesan lengkapnya demikian, “Terima kasih selama ini membimbing saya dengan penuh ketulusan. Ilmu yang diajarkan bukan hanya untuk menghadapi ujian, tetapi juga untuk menuntun saya menjadi pribadi yang lebih kuat dan bertanggung jawab. Terimakasih sudah mendampingi saya mendengarkan keluhan saya dengan sabar, bahkan ketika saya tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan sendiri. Semoga kesehatan dan kebahagiaan yang Tuhan berikan selalu menyertai bapak dalam pengabdian ini.”]

Bagi saya, kalimat itu adalah doa yang jujur dari seorang siwa yang tahu apa artinya mencintai dan mengenal dirinya sendiri. Sebab dalam tradisi Katolik, mendengar adalah bentuk pelayanan yang sakral. Seperti Maria yang “menyimpan segala perkara di dalam hatinya” (Lukas 2:19), saya belajar menjadi tempat para remaja meletakkan kecemasan mereka: cinta pertama yang patah, pertengkaran di rumah, atau rasa kosong yang disangka “dosa”.

Di sini, saya bukan juru selamat, hanya teman yang membantu mereka menemukan kata-kata, lalu perlahan menunjukkan bahwa dalam setiap pergumulan, Allah sudah hadir lebih dulu.

Dari Sepuluh Kusta ke Satu Surat: Pelajaran tentang Syukur yang Tak Terduga

Pesan di WA itu mengingatkan saya pada kisah 10 orang kusta (Lukas 17:11-19). Sembilan sembuh dan pergi, satu kembali bersyukur. Sebagai guru, saya tak menghitung siapa yang “kembali”. Tugas saya adalah terus mengulurkan tangan pada sembilan lainnya yang mungkin masih tersesat dalam pertanyaan mereka.

Sebab iman Katolik bukan tentang kesempurnaan jawaban, tapi tentang keberanian bertanya bersama. Seperti Yesus yang tak marah pada yang diam, saya percaya: bahkan ketika murid tak berkata apa-apa, Tuhan tetap bekerja di dalam diam mereka.


Mengajar agama bagiku adalah menjadi penjaga api, bukan pemberi nyala. Saya hanya menggesekkan kata-kata, pertanyaan, dan keheningan, lalu menunggu Roh Kudus yang meniupkan percikan. Ketika seorang murid akhirnya berkata, “Pak, aku mulai mengerti mengapa Gereja bicara tentang harapan,” di sanalah saya tahu bahwa saya bukan lagi guru yang mengajar, tapi teman yang diizinkan menyaksikan mukjizat, iman yang tumbuh dari akar keraguan.

“Yesus tak pernah memaksa Petrus berhenti ragu. Ia hanya bertanya, ‘Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?’ (Yohanes 21:16). Dan di situlah kasih itu perlahan menjawab.”

(Untuk muridku yang berani jujur pada hatinya, dan untuk semua guru yang percaya: di antara pertanyaan, Allah sedang berbicara).

Hasnah Najmatul

Penulis yang dikenal teliti dalam riset dan penyajian data. Ia menaruh minat pada dunia ekonomi, statistik ringan, dan analisis tren. Di waktu luang, ia menikmati sudoku, membaca artikel panjang, dan mendengarkan musik instrumental. Motto: “Akurasi adalah bentuk tanggung jawab.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *