Koperasi Merah Putih (KMP) Menghadapi Berbagai Tantangan dalam Pengelolaan Usaha
Sejak diluncurkan pada Juli 2025, Koperasi Merah Putih (KMP) menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan usaha. Hasil survei yang dilakukan oleh Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia menunjukkan bahwa banyak pengurus KMP bingung dalam mengelola usaha mereka. Survei ini melibatkan 146 KMP di 19 provinsi, dan ditemukan bahwa sebanyak 92 persen dari koperasi tersebut memiliki rencana usaha. Namun, hanya 56 persen yang telah memiliki mitra.
Human Rights Manager DFW Indonesia, Luthfian Haekal, menyatakan bahwa rencana usaha yang disusun oleh pengurus lebih banyak bertujuan untuk memenuhi permintaan pemerintah, namun kurang didukung oleh kesiapan jejaring. Selain itu, dari sisi kapasitas sumber daya manusia, 66 persen pengurus belum pernah mendapat pelatihan.
“Ke depan, koperasi diharapkan tidak sekadar menjadi instrumen kepatuhan kebijakan. Pendampingan harus berkelanjutan, tidak berhenti pada pelatihan jangka pendek, tetapi disertai peningkatan literasi dan perencanaan kelembagaan yang matang,” ujarnya.
KMP Desa Indrasari: Dinamika Operasional yang Masih Terbatas
Sementara itu, aktivitas KMP Desa Indrasari, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, tampak berjalan dinamis. Pada Senin (19/1/2026), dua petugas perempuan melakukan aktivitas administrasi dan pendataan barang. Salah satu dari mereka fokus mengoperasikan laptop untuk pencatatan data, sementara rekannya memeriksa barang dan mencocokkan dokumen.
Di sekitar mereka, terdapat rak besi dengan berbagai kebutuhan pokok, mulai dari sembako hingga barang kemasan yang sudah dipaketkan. Di lantai, terlihat tumpukan produk siap distribusi, timbangan, serta sejumlah peralatan penunjang lainnya.
Meski tertata rapi, ruangan yang digunakan saat ini bukanlah bangunan permanen. Ketua KDMP Indrasari, Suherman, mengungkapkan bahwa lokasi tersebut dulunya adalah klinik. “Kami pakai yang seadanya dulu untuk ruangan berjualan sembako, sembari menunggu pembangunan gedung baru,” ujarnya.
KDMP Indrasari tercatat memiliki 283 anggota. Jenis usaha yang sudah berjalan meliputi penjualan sembako dan elpiji. “Yang paling laku dan berjalan lancar adalah gas tiga kilogram. Kalau sembako belum stabil. Selama enam bulan berjalan baru dua kali disuplai Bulog,” jelas Suherman.
Simpan pinjam masih belum dapat dijalankan karena kendala aturan dan keterbatasan modal. Koperasi diwajibkan memiliki modal khusus sebesar Rp 500 juta serta petugas yang telah memiliki sertifikasi atau lulus pelatihan.
Untuk rencana penjualan pupuk, Suherman menyatakan belum bisa dilakukan karena terkendala gudang. Mereka harus memiliki gudang dengan kapasitas minimal 10 ton. Terkait pembangunan kantor baru, progresnya sudah berjalan dan ditargetkan rampung pada Maret 2026.
Setelah menempati kantor baru, koperasi akan mulai mengembangkan berbagai unit usaha sesuai arahan pemerintah. “Ke depan dikembangkan tujuh gerai usaha, mulai dari sembako, logistik atau alat mobilisasi, perkantoran, klinik, apotek, pergudangan dan cold storage, hingga simpan pinjam,” katanya.
KMP Desa Awang Bangkal Barat: Fokus pada Galian C
Sementara itu, KMP Desa Awang Bangkal Barat, yang beranggotakan 2.500 orang, masih menjalankan satu usaha, yakni galian C. Rencana akhir bulan ini adalah Rapat Anggota Tahunan (RAT) untuk merumuskan pemenuhan fungsi gerai sesuai arahan dinas dan pemerintah pusat.
Ketua KMP tersebut, Ahmad Artoni, menyatakan bahwa hingga kini koperasi tetap berjalan dengan ketentuan setiap anggota wajib menyetor modal pokok sebesar Rp 1 juta di awal keanggotaan, serta iuran wajib bulanan sebesar Rp 10 ribu.
Pembangunan KMP di Desa Binturung
Pemerintah Desa Binturung, Kecamatan Pamukan Utara, Kabupaten Kotabaru, juga sedang mendirikan bangunan KMP. “Hari ini kami mulai membersihkan lahan untuk pembangunan fisik koperasi,” kata Kepala Desa Binturung, Budi Rahman, Senin.
Dengan menggunakan alat berat, lahan seluas 30×30 meter persegi disiapkan untuk pembangunan gerai seluas 30×20 meter persegi. Mengenai usaha yang akan dijalankan, Budi menyatakan akan menyesuaikan pedoman Kementerian Koperasi. Beberapa gerai yang mungkin bisa diwujudkan sesuai kebutuhan masyarakat seperti pengadaan pupuk, pestisida, sembako, elpiji, BBM, dan mungkin simpan pinjam.
Terkait keanggotaan dan kepengurusan, dia belum melakukan perekrutan. Namun Budi memastikannya terbuka bagi siapa saja. Terlebih bagi yang belum memiliki pekerjaan namun mempunyai keterampilan yang bisa menunjang kepengurusan dan integritas.
“Tentunya kami juga perlu adanya peningkatan kapasitas, bimtek, atau semacamnya bagi pengurus. Namun saat ini masih pada fase pembangunan dan di Kotabaru belum ada yang beroperasi,” ungkap Budi.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











