"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"
Budaya  

Intan Paramaditha: Sastra Sebagai Senjata Perlawanan

Sastra sebagai Ruang Berpikir dan Kritik Sosial



Bagi Intan Paramaditha, sastra bukan sekadar media untuk bercerita. Ia melihatnya sebagai ruang berpikir yang memungkinkan manusia untuk berhenti sejenak dari kehidupan yang serba cepat dan memahami kompleksitas hidup. Dalam wawancara dengan WOMAN beberapa waktu lalu, ia menjelaskan bahwa sastra bekerja sebagai alat membangun kesadaran kolektif di tengah masyarakat yang cenderung melihat dunia dalam hitam dan putih.

Menurut Intan, feminisme yang ia pahami tidak hanya terbatas pada isu kesetaraan gender. Feminisme adalah cara pandang untuk membaca sistem penindasan yang saling berkelindan—mulai dari gender, kelas sosial, hingga ras dan etnisitas. Dengan sastra, hubungan-hubungan ini bisa terlihat lebih utuh.

“Feminisme bukan sekadar kesetaraan gender. Ini adalah cara pandang terhadap sistem penindasan, di mana penindasan berbasis gender berkelindan dengan penindasan kelas, ras, dan etnisitas,” ujarnya.

Sastra sebagai Media Refleksi dan Empati

Di tengah era media sosial yang menuntut respons cepat dan penilaian instan, ruang refleksi semakin langka. Namun, sastra memberikan ruang yang berbeda dibandingkan bentuk tulisan lain. Melalui fiksi, pembaca tidak hanya menerima argumen seperti dalam tulisan akademik atau nonfiksi. Mereka diajak hidup bersama karakter, memahami motif, keraguan, bahkan keputusan paling kelam yang dilakukan manusia.

Sastra membuka wilayah abu-abu—zona yang membuat seseorang tidak mudah menghakimi. Intan mencontohkan bagaimana kisah tragis tentang seorang ibu yang melakukan kekerasan terhadap anaknya dapat dibaca berbeda melalui sastra. Jika hukum segera menentukan benar atau salah, cerita memungkinkan pembaca bertanya: apa yang sebenarnya terjadi di balik tindakan itu?

“Lewat sastra kita bisa berhenti sejenak. Kita mencoba memahami kenapa seseorang bisa melakukan sesuatu yang tampak seperti tindakan monster,” jelasnya.

Kekuatan dan Bahaya Sastra

Intan juga menyadari bahwa kemampuan memahami kompleksitas ini sangat penting, terutama ketika membicarakan pengalaman perempuan. Tidak semua perempuan memiliki pilihan yang sama, termasuk ketika menghadapi kekerasan domestik. Sastra membantu menghadirkan empati tanpa harus membenarkan tindakan.

Namun ia juga mengingatkan, kekuatan sastra adalah pisau bermata dua. Keindahan bahasa dan narasi yang kuat dapat membangun empati, tetapi juga berpotensi menyembunyikan bias ideologis jika pembaca tidak kritis. Karena itu, membaca sastra juga berarti melatih kesadaran emosional sekaligus intelektual.

“Seni punya potensi membebaskan dan membuat kita lebih berempati. Tapi di saat yang sama, kita juga bisa termanipulasi olehnya,” ungkap Intan.

Melawan Stereotip Perempuan Lewat Tubuh dan Cerita



Sebagai penulis yang karyanya sudah mendunia, Intan Paramaditha memiliki sudut pandang yang unik ketika menggambarkan karakter perempuan. Dalam karya-karyanya, perempuan jarang hadir sebagai tokoh yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya jahat. Pilihan ini bukan kebetulan. Intan secara sadar menolak gambaran dikotomis yang selama ini melekat pada perempuan, antara sosok ibu penuh pengorbanan yang ideal atau perempuan “nakal” yang disalahkan.

“Perempuan sering digambarkan secara dikotomis. Ada perempuan baik, biasanya ibu yang berkorban, atau perempuan yang dianggap tidak baik,” pungkasnya.

Menurut penulis buku Apple and Knife ini, kategori moral semacam itu justru menjebak perempuan dalam standar budaya yang sempit. Kehidupan nyata, katanya, jauh lebih rumit: seorang ibu bisa marah, melawan, bahkan bersikap keras, tanpa kehilangan kemanusiaannya.



Gagasan tersebut juga muncul dalam eksplorasinya terhadap tubuh perempuan. Dalam sejumlah karya awal seperti Sihir Perempuan, tubuh digambarkan sebagai ruang perlawanan terhadap berbagai bentuk kontrol sosial, dari objektifikasi hingga tuntutan untuk selalu tampil baik, cantik, atau teratur.

Tubuh perempuan sering diatur supaya baik, didisiplinkan, dijadikan objek. Nah, saya ingin menunjukkan bahwa tubuh perempuan tidak bisa diregulasi seperti itu. Tubuh perempuan bisa berdarah, mengeluarkan cairan, dan itu tetap tubuh perempuan.”

Jadi bukannya menghadirkan tubuh yang ideal, Intan justru menampilkan tubuh yang berdarah, tidak terkontrol, bahkan dianggap menjijikkan. Baginya, ketika tubuh perempuan dinilai menjijikkan, masyarakat cenderung menyingkirkannya. Di situlah perlawanan terjadi: tubuh yang menolak untuk patuh.

Sekolah Pemikiran Perempuan sebagai Ruang Belajar Bersama



Di luar dunia sastra, Intan Paramaditha juga terlibat dalam pendirian Sekolah Pemikiran Perempuan, sebuah inisiatif kolektif yang lahir dari kegelisahan serupa: pengetahuan sering kali bias dan menyingkirkan suara kelompok tertentu, terutama perempuan dan minoritas.

“Ini kerja kolektif. Upaya bekerja bersama teman-teman yang punya kegelisahan serupa,” ungkapnya.

Program ini menghadirkan ruang belajar lintas wilayah Nusantara selama 17 minggu setiap tahun, membahas pemikiran feminis, gender dalam seni dan budaya, serta aktivisme feminis. Tidak hanya melalui diskusi akademik, pengetahuan juga diekspresikan lewat tari, film, suara, dan berbagai praktik kreatif lain yang kerap tidak dianggap sebagai produksi intelektual.

“Hal-hal yang sering tidak dianggap sebagai pengetahuan justru kami tampilkan,” kata Intan.

Tujuannya sederhana namun ambisius: meretas batas siapa yang dianggap berhak menghasilkan pengetahuan.



Intan melihat selama ini teori sering datang dari perspektif Barat, laki-laki, dan kelompok dominan. Padahal, pengalaman perempuan di Nusantara memiliki konteks sosial dan sejarah yang berbeda. Melalui sekolah ini, ia dan rekan-rekannya mencoba membangun jaringan pemikiran feminis yang lebih inklusif dan berakar pada pengalaman lokal.

“Ada kebutuhan untuk menciptakan ruang belajar bersama. Sekolah Pemikiran Perempuan ini bisa jadi tempat kita berpikir dan bertumbuh tanpa merasa sendirian,” tutup Intan.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *