Rangkasbitung, ibukota Kabupaten Lebak di Banten, memiliki daya tarik yang tak tergantikan. Meskipun bukan kota besar, ia menawarkan pesona yang khas dan menyimpan banyak cerita dalam setiap sudutnya. Dari stasiun yang ikonik hingga alun-alun yang ramai, Rangkasbitung selalu memberi kesan hangat seperti pulang ke tempat yang familiar.
Ketika Click X Kreatoria mengadakan kunjungan ke Rangkasbitung, saya langsung mendaftar. Tujuan utamanya adalah Stasiun Rangkasbitung, Museum Multatuli, dan Rumah Multatuli. Berikut adalah pengalaman saya selama kunjungan tersebut:
Wajah Baru Stasiun Rangkasbitung yang Modern
Pada hari Sabtu (20/12/2025), saya berangkat dari Stasiun Daru Tangerang. Peserta lain juga berasal dari Tanah Abang dan stasiun lainnya. Total peserta sebanyak 10 orang. Perjalanan dari Daru ke Rangkasbitung memakan waktu sekitar 40 menit dengan commuter line. Pemandangan sepanjang perjalanan yang didominasi oleh sawah dan pepohonan hijau membuat mata segar.
Tiba di Rangkasbitung, suasana terasa berbeda. Saya terakhir kali ke sini pada bulan Agustus lalu, saat berkunjung ke Gua Maria bersama teman-teman gereja. Saat itu, kondisi stasiun sedang direnovasi dan terlihat berantakan. Kini, Stasiun Rangkasbitung hampir rampung direnovasi menjadi Stasiun Rangkasbitung Ultimate.
Gedung utama baru yang lebih luas terintegrasi dengan bangunan heritage atau bangunan lama. Stasiun terlihat lebih modern dengan area lantai 2 yang lebih luas dan nyaman. Fasilitasnya pun lengkap, termasuk ruang tunggu, lift, eskalator, gate tiket otomatis, toilet disabilitas, area komersial, dan jembatan penyeberangan. Salah satu spot estetik adalah jembatan penyeberangan, tempat kami sempat berfoto-foto.
Meski tampak modern, nuansa historis tetap dipertahankan. Beberapa elemen lama masih ada, seperti bagian depan bangunan lama yang sedang diperbaiki dengan pemasangan kanopi baru.
Melihat Jejak Antikolonialisme di Museum Multatuli
Dari Stasiun Rangkasbitung, kami melanjutkan perjalanan ke Museum Multatuli yang berjarak sekitar 1,5 kilometer. Museum ini berada di sisi timur Alun-alun Rangkasbitung. Meskipun bangunannya sederhana, museum ini menyimpan kisah penting tentang perlawanan terhadap kolonialisme.
Nama Multatuli berasal dari nama pena Eduard Douwes Dekker, seorang pejabat kolonial Belanda yang membela rakyat Lebak dari penindasan bupati setempat. Kisah ini dituangkan dalam novel Max Havelaar, yang kemudian mengguncang Eropa.
Museum Multatuli menyajikan narasi sejarah dengan pendekatan visual. Ada diorama, kutipan-kutipan, dan dokumen lama yang disusun agar pengunjung bisa memahami ketimpangan dan ketidakadilan masa lalu. Yang menarik, museum ini juga memberi ruang bagi tokoh lokal seperti Raden Kartini, Pramoedya Ananta Toer, dan tokoh Indonesia lainnya. Ini membuat narasi museum tidak hanya fokus pada tokoh Belanda, tetapi juga pada rakyat Indonesia.
Setelah mengunjungi museum, kami melanjutkan ke Perpustakaan Saidjah dan Adinda yang ada di samping museum. Kami juga makan siang di kantin sebelum melanjutkan ke tujuan berikutnya.
Rumah Dinas Multatuli yang Kondisinya Memprihatinkan
Usai makan siang, kami berjalan kaki ke Rumah Dinas Multatuli yang berada di belakang RSUD Ajidarmo, di sebelah barat laut Alun-alun Rangkasbitung. Rumah ini memiliki arsitektur khas kolonial dengan dinding tinggi dan jendela besar.
Sayangnya, kondisinya kini terlihat memprihatinkan. Beberapa bagian rusak, cat terkelupas, dan atap bocor. Padahal, rumah ini menyimpan nilai sejarah yang tinggi. Di sinilah Eduard Douwes Dekker pernah tinggal saat bertugas di Lebak. Rumah ini menjadi saksi bisu awal mula lahirnya karya Max Havelaar.
Jika dirawat dengan baik, rumah ini bisa menjadi situs sejarah yang menarik. Bahkan bisa menjadi pelengkap narasi dari Museum Multatuli. Sayangnya, kami hanya bisa melihat dari luar karena kondisi yang tidak memungkinkan.
Rumah Dinas Multatuli menjadi destinasi terakhir kunjungan Clickers ke Rangkasbitung. Dari sini, kami kembali ke stasiun untuk melanjutkan perjalanan pulang ke rumah masing-masing.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











