"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"
Budaya  

Asal-usul Nama Kelurahan Pluneng di Kebonarum Klaten dengan Dua Umbul Bersejarah dan Mitos

Profil Kelurahan Pluneng

Pluneng adalah sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Indonesia. Kelurahan ini dikenal dengan pemandian alami yang menarik perhatian wisatawan, serta tradisi lokal yang kaya akan makna dan nilai budaya.

Kelurahan Pluneng terdiri dari 13 desa, yaitu: Cinde, Dawe, Jati, Karang Lor, Karang Wetan, Miren, Ngebakan, Ngemplak, Pluneng, Samberan, Sawahan, Simpar, dan Tempel. Pembagian administratif ini memudahkan pengelolaan wilayah sekaligus menjaga identitas budaya masing-masing desa.

Secara geografis, Kelurahan Pluneng berbatasan dengan Desa Ngrundul di sebelah utara, Kelurahan Nglinggi di sebelah timur, Kecamatan Klaten Selatan di selatan, dan Kelurahan Basin di sebelah barat. Lokasi kelurahan ini berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Klaten, atau bisa ditempuh dalam waktu sekitar 12 menit menggunakan kendaraan pribadi.

Sejarah dan Asal Mula Nama

Nama “Pluneng” memiliki asal-usul yang menarik dan terkait dengan tradisi lokal. Menurut cerita para tetua di wilayah ini, kata “Pluneng” berasal dari ungkapan “Nyemplung Seneng”. Suku kata “plu” diambil dari kata “nyemplung”, sedangkan “neng” berasal dari kata “seneng”. Ungkapan ini berarti, “Jika masuk (ke dalam air) akan merasa senang”, yang merujuk pada pemandian alami di Pluneng, di mana masyarakat percaya bahwa mandi di sana membawa kesenangan dan kesejukan.

Saat ini, Pluneng memiliki dua pemandian alami utama yang menjadi destinasi wisata populer, yakni Umbul Tirta Mulyani dan Umbul Tirta Mulyono.

Objek Wisata di Pluneng

Kelurahan Pluneng terkenal akan pemandian alaminya yang berasal dari mata air langsung, atau dikenal dengan istilah umbul. Dua pemandian utama yang menjadi ikon wisata Pluneng adalah:

  1. Pemandian Tirtomulyono (Umbul Lanang)
  2. Luas: 700 m²
  3. Kedalaman: 2 meter
  4. Lokasi: Desa Tempel

Pemandian ini kerap disebut Umbul Lanang oleh penduduk setempat. Dahulu, Tirtomulyono digunakan untuk mandi laki-laki dan perempuan, namun atas perintah Sunan Paku Buwono X, penggunaannya dipisahkan. Kini, perempuan mandi di pemandian Tirtamulyani yang terletak di sebelah timur. Setiap tahunnya, Tirtomulyono menjadi pusat upacara adat Ciblon, sebagai bentuk syukur atas kelimpahan air di Pluneng. Selain itu, pada bulan Ramadan, digelar kegiatan Padusan, yaitu mandi bersama sebelum menyambut bulan puasa.

  1. Pemandian Tirtomulyani (Umbul Wedok)
  2. Luas: 400 m²
  3. Kedalaman rata-rata: 75 cm
  4. Lokasi: Desa Karang Lor

Pemandian ini dikenal dengan nama Umbul Wedok. Salah satu ciri khasnya adalah adanya patung Buddha berukuran besar. Menurut legenda lokal, dulunya pemandian ini dihuni oleh seekor ular naga raksasa. Sebelum menjadi objek wisata, pemandian ini digunakan sebagai tempat memandikan hewan ternak. Saat ini, Umbul Wedok ramai dikunjungi oleh anak-anak, remaja, dan orang dewasa, terutama saat kegiatan Padusan tiga hari sebelum Ramadan.

Tradisi Lokal di Pluneng

Pluneng memiliki berbagai tradisi yang masih dilestarikan hingga kini, baik yang terkait dengan religi maupun sosial budaya:

  • Ciblon

    Ciblon adalah seni yang dilakukan di dalam air dengan menepuk tangan ke permukaan sehingga menghasilkan bunyi ritmis. Di Pluneng, seni Ciblon dipentaskan setiap tahun di Pemandian Tirtomulyani, diiringi musik tradisional dan pertunjukan seni rakyat lainnya.

  • Padusan

    Padusan adalah tradisi mandi besar sebagai persiapan menyambut bulan Ramadan. Warga berkumpul di pemandian untuk bersuci bersama, tanpa membeda-bedakan status sosial, sekaligus mempererat solidaritas antarwarga.

  • Nyadran / Sadranan

    Nyadran merupakan tradisi syukuran yang digelar beberapa hari sebelum Ramadan. Masyarakat mengadakan upacara dengan sajian nasi, sayuran, dan buah-buahan sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan.

  • Merti Desa

    Tradisi ini adalah kegiatan gotong royong untuk membersihkan desa agar tetap mendapatkan berkah dan perlindungan Tuhan.

  • Sambatan

    Sambatan adalah bentuk solidaritas warga untuk membantu memperbaiki rumah salah satu warga secara gotong royong.

  • Kumbakarnan

    Dilakukan sebagai persiapan hajatan, khususnya pernikahan, di mana warga berkumpul untuk membantu dan diberi tanggung jawab tertentu. Tradisi ini dinamai berdasarkan kisah Kumbakarna, menggambarkan kemakmuran dan kebersamaan.

  • Miwit

    Miwit adalah tradisi petani sebelum panen, berupa ritual membagikan makanan di sawah untuk anak-anak dan simbol syukur atas hasil panen yang akan datang.

Pendidikan di Pluneng

Pluneng memiliki sejumlah institusi pendidikan yang mendukung perkembangan generasi muda, di antaranya:

  • TK Pertiwi
  • SDN Pluneng 1
  • SDN Pluneng 2
  • SMPN Kebonarum 1

Sekolah-sekolah ini menjadi tempat pembelajaran bagi anak-anak di wilayah Pluneng, dari tingkat pendidikan dasar hingga menengah pertama.

Kuliner Legendaris: Tahu Kupat Bu Endang

Pluneng tidak hanya kaya akan budaya dan wisata alam, tetapi juga kuliner khas. Salah satu yang terkenal adalah Tahu Kupat Bu Endang, berlokasi di Desa Pluneng, sekitar 6 km barat Alun-Alun Klaten dan dekat dengan Umbul Pluneng. Warung ini telah ada sejak 1985 dan dikelola oleh Lestari, generasi ketiga dari keluarga pendirinya.

Resep tahu kupat ini diwariskan dari Mbah Trimo dan tetap dipertahankan hingga kini. Setiap porsi berisi ketupat, tahu goreng, kubis, kecambah, seledri, bawang goreng, kuah gula jawa, irisan bakwan, dan telur. Harganya terjangkau, mulai dari Rp13 ribu per porsi, dan bisa lebih dengan tambahan telur, bakwan, atau teh poci.

Warung ini banyak dikunjungi warga lokal, wisatawan yang datang ke Umbul Pluneng, hingga penggemar wisata kuliner dari Klaten, Yogyakarta, Sukoharjo, dan Solo.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *