Pagi yang cerah di Banda Neira mulai terang oleh sinar matahari, ketika smartphone Burhan yang tergeletak di meja taman The Maulana Resort, tepat di samping cangkir kopi hitam pekat yang masih mengepulkan asap putih itu bergetar tanpa mengeluarkan nada dering, hanya memunculkan tulisan “Boss!” di layarnya.
Tentu saja, Burhan yang sedang menyantap nasi kelapa dengan ikan kuah pala, mood booster pagi ketiga di Banda Neira sambil menikmati view laut Banda berikut eksotisnya gunung api Banda dengan Puncak Lewerani-nya yang mengerucut di hadapan sedikit kaget dibuatnya dan tanpa ba bi bu langsung menyambar dan mengangkatnya!
“Han, ke Krui ya! Kejuaraan dunia selancar!” kata boss-nya singkat.
“Tapi Pak, Banda baru mu…” Ucap Burhan.
“You yang bisa. Kita butuh foto terbaik. Eksklusif!” Potong si-Boss sebelum bunyi tut…tut…tut… terdengar yang disusul pesan Whats App dari Nina, asisten si-Boss yang memberi tahu akomodasi ke Krui-Pesisir Barat, Lampung sudah di email.
Tentu, Burhan kecewa berat! Pulau Banda, mimpinya sejak kecil itu mulai memberi ketenangan yang belum pernah dirasakannya ketika memotret laut, sejarah, dan juga manusia-manusia dengan budayanya itu, tiba-tiba harus segera ditinggalkannya!
Tapi, lelaki berambut gondrong bernama lengkap Muhammad Burhanuddin Rabbani, jurnalis foto dari holding media ternama itu tetap berusaha untuk tenang, salah satunya dengan menghisap tingwe alias nglinting dewe, kretek hasil racikannya itu dalam-dalam sambil terus menatap sebuah foto hitam-putih dalam smartphone-nya.
Itulah “ritual” wajibnya untuk menenangkan diri dari tekanan-tekanan kehidupan, ketika pilihan-pilihan hidup selalu memaksanya berjalan ke arah yang tak ia pilih, bertentangan dengan hati nuraninya! Menatap dalam-dalam foto ibunya, satu-satunya “artefak” tertinggal selain nama, Sunarti yang dia tahu! Selalu memberinya energi lebih untuk membuatnya hidup, hidup dan hidup.
“Bye, Insha Allah jumpa lagi Banda Neira! Mudahan, kabar baik dari Krui-Lampung ya!” Begitulah caption postingan terbaru Burhan di Instagram pribadinya yang menampilkan caroussel jepretan ajaibnya pada obyek-obyek bersejarah di Banda Neira yang sempat di datangi, sisi melow dari Mas Gondrong.
Ternyata! Ada satu rahasia besar yang membuat Burhan mulai bisa mengikhlaskan Banda Neira, yaitu kata Lampung! Krui yang dituju merupakan Ibu kota Kabupaten Pesisir Barat, bagian dari Propinsi Lampung. Tahu kenapa?
Sejak bayi, Burhan telah kehilangan satu hal yang tak pernah bisa digantikan oleh apa pun dan siapa pun, yaitu seorang ibu dan bapak! Sunarti yang disebut-sebut orang sebagai nama ibunya, tersimpan rapi dalam lipatan ingatan dan untaian doa-doa yang tak pernah benar-benar selesai.
Burhan yatim sejak bayi, karena itulah cita-citanya sejak kecil adalah bisa keliling dunia untuk mencari ibunya! Beruntung, takdir berpihak kepadanya! Gara-gara hobi fotonya, sebuah potret tentang humaniora pasar tradisional di Kaki Gunung Lawu memenangkan lomba foto nasional yang berujung pada kesempatan magang sebagai jurnalis foto yang megantarkannya keliling Indonesia.
Dari rawa-rawa Kalimantan dan Papua, Punggungan bukit dan gunung di Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, juga gang-gang sempit di pesisir Jawa, hingga area pertambangan dan perkebunan tua peninggalan Belanda di Sumatera, bahkan ganasnya ombak pantai-pantai dari pulau terluar Nusantara seperti Anambas, Natuna hingga ujung Timor, Burhan terus berburu potret terbaik, juga pelukan seorang ibu.
Konon, Sunarti ikut transmigrasi di akhir 80-an bersama suami keduanya, setelah Rahmad, bapak kandung Burhan dikabarkan meninggal dunia di pedalaman Kalimantan karena malaria. Sedangkan bayi Burhan dititipkan kepada kerabat jauhnya. Sayang, tidak seorangpun yang mengetahui ke mana Sunarti ditransmigrasikan!
Menariknya, dari berbagai sumber yang didapat Burhan, ada banyak nama Sunarti dari kawasan kaki Gunung Lawu yang bertransmigrasi ke berbagai penjuru Indonesia saat itu dan sayangnya, tidak satupun yang merujuk pada sosok ibunya. Tapi Burhan tetap mencatat dan menyimpan semua datanya, sambil terus berdoa agar diberi rezeki, waktu dan kesempatan untuk bisa mencari dan menemui Sunarti-sunarti dalam data itu diantara sela-sela tugas liputannya.
Di era milis atau mailing list di awal-awal penetrasi internet, Burhan salah satu nama yang paling rajin muncul di kotak masuk banyak orang. Ia selalu menulis pesan panjang selayaknya surat-surat kerinduan pada sang Ibu yang melahirkannya! Ribuan balasan memang datang dengan beragam isi! Simpati, doa, cerita serupa, bahkan sosok ibu yang mau mengangkatnya menjadi anak dan banyak lagi yang lainnya. Sayang, tak satu pun kabar meyebut keberadaan ibunya, Sunarti!
Di era media-sosial, Burhan terus mencobanya. Ia mengunggah foto hitam putih ibunya bersama ungkapan kerinduannya pada sang ibu, hingga tak jarang “surat cintanya” itu banyak megundang simpati dan tanggapan masyarakat dunia maya. Sayang, sampai detik ini, ketika si-burung besi yang membawa Burhan terbang lebih dari separuh bentang panjang nusantara dari Bandara Bandaneira di Kepulauan Banda, Maluku sampai akhirnya mendarat di Bandara Raden Inten, Bandar Lampung, setelah sebelumnya sempat transit beberapa lama di Bandara Patimura, Ambon dan Bandara Soetta, Tangerang, semuanya tetap nihil! Sunarti tetap tidak diketahui rimbanya.
Dari Bandar Lampung, Burhan langsung menuju penginapan Sinar Krui dengan armada travel yang dipesankan kantor untuk bertemu Nurani, guide lokal yang disiapkan kantor untuk memandunya menemukan lokasi-lokasi dengan angle terbaik selama even World Surf League (WSL) Krui Pro. Wajar dalam beberapa hari berikutnya, gadis manis pemilik lesung pipit yang tampak selalu full energi dan fresh dalam balutan hijab kasual yang modis, hingga sering membuat Burhan lupa lelah itu terus mengawalnya, dari pantai ke pantai, dari pagi ke senja, gadis polyglot yang mengusai lebih dari lima bahasa asing itu pasti ada di sampingnya.
Hari demi hari yang berlalu, kedekatan mereka terlihat semakin intim selayaknya sepasang kekasih daripada sekedar hubungan profesional antara seorang guide dengan tamunya! Akankah keduanya cinta lokasi? Sejauh ini, Burhan temasuk pria yang paling malas berurusan dengan asmara. Dia selalu cuek untuk sekedar menanggapi sinyal cinta dari lawan jenis. Karena hatinya “kekeuh” hanya ingin satu nama saja, Sunarti. Ibunya!
Tapi hari ini, anomali tidak hanya terjadi pada cuaca saja, hati Burhan yang berbunga-bunga juga sedang ber-anomali! Burhan jatuh hati pada gadis Krui yang cerdas itu dan sudah bertekad menyatakan perasaannya sore ini, saat ada jeda liputan karena cuaca laut yang sedang buruk.
“Abang kopi Lampung? Sama makannya? Biar sekalian dibuatkan sama ibu!” Tanya Nur saat keduanya duduk di teras penginapan ketika hujan lebat sore itu benar-benar seperti ditumpahkan dari langit.
“Kok sama ibu?” Tanya Burhan.
“Lhoh, kan ibu saya yang punya penginapan ini, Bang!” Jawab Nur sambil cekikikan melihat ekspresi kaget Burhan mendengar pejelasannya.
“Kok nggak ngomong sih! Pantesan!” Jawab Burhan sambil geleng-geleng kepala, merasa dikerjai Nurani.
“Ibu dan almarhum bapak merintis penginapan ini sejak pindah ke Krui di awal 90-an, setelah lahan transmigrasinya gagal karena kebanjiran terus, hingga akhirnya dijual sama tetangga sesama transmigran dan uangnya di belikan lahan disini sambil pelan-pelan dibangun”
“Nama ‘Sinar’ itu singkatan dari Sigit-Sunarti, nama bapak dan ibu saya Bang!” Terang Nur sambil menunjuk papan nama penginapan di atas kepala mereka.
Mendengar nama Sunarti disebut, membuat Burhan sangat terkejut mendengarnya, hingga refleksnya memegang tangan Nurani membuat si-empunya tangan juga tidak kalah terkejut dibuatnya.
“Eh maaf! Siapa nama ibumu tadi?” Tanya Burhan sambil melepaskan tangan Nurani.
“Sunarti,” ulang Nurani. “Dulu Ibu transmigrasi setelah menikah untuk yang kedua kali dengan bapak. Sedangkan suami pertama Ibu, konon meninggal di pedalaman Kalimantan karena malaria.”
Mendengar penjelasan Nurani, Burhan langsung berdiri.
“Boleh sa…” Belum selesai Burhan berbicara. “Itu ibu!” Dengan dagunya, Nurani menunjuk ke arah perempuan paruh baya yang tiba-tiba muncul dari kejauhan dengan nampan berisi piring-piring yang mengepulkan asap putih.
“Ibu…! Allahu Akbar!” Seketika Burhan berteriak sambil meyongsong Bu Sunarti yang kebingungan. Begitu juga degan Nurani yang hanya bengong meyaksikan semuanya.
“Seumur hidup Burhan mencari Ibu,” kata Burhan lirih dihadapan Bu Sunarti sambil menujukkan foto hitam putih di galeri smartphone-nya.
Seketika kaki Bu Sunarti seperti tidak sanggup menanggung beban badanya sendiri, saat mengenali foto hitam putih itu, sekaligus mengenali siapa yang duduk berlutut dihadapannya, Burhan anak yang dulu ditinggalkannya!
“Maafkan Ibu, Nak!” Bu Sunarti memeluk erat tubuh Burhan yang juga tak lagi sanggup berdiri, hingga keduanya berpelukan erat dalam duduk untuk waktu yang cukup lama.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah!” Lirih Burhan berucap syukur kepadaNya, pemilik rencana sekaligus penunjuk jalan terbaik yang akhirnya kembali mempertemukannya dengan “gambar” yang selama ini ia cari. Ibu! (BDJ261225)
Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











