Perayaan Hari Kesehatan Nasional di Sulawesi Tengah
Di bawah langit yang cerah pada pagi hari Rabu, halaman Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah penuh dengan semangat dan warna-warni. Ratusan tenaga medis dari berbagai wilayah hadir dalam barisan rapi, menyambut Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, sebagai inspektur upacara dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 yang jatuh pada 12 November 2025.
Dengan balutan seragam dinas berwarna khaki, Anwar Hafid membuka upacara dengan nada penuh penghormatan kepada para tenaga kesehatan yang ia sebut sebagai “garda terdepan penjaga kehidupan.” Di depannya, hadir Sekretaris Daerah Novalina, Plt Kepala Dinas Kesehatan Wayan Apriani, serta para dokter, perawat, dan bidan dari seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah.
Membacakan sambutan Menteri Kesehatan RI, Gubernur menyisipkan pesan pribadi yang menyentuh: bahwa kesehatan bukan hanya urusan fasilitas, tetapi juga soal empati dan keberanian untuk peduli. “Program Berani Sehat lahir dari cinta terhadap rakyat,” ujarnya lantang, diikuti riuh tepuk tangan peserta.
Program Berani Sehat
Program Berani Sehat menjadi salah satu inisiatif unggulan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dalam menjamin akses layanan kesehatan bagi warga kurang mampu, terutama mereka yang tidak memiliki BPJS Kesehatan atau tengah menunggak iuran. Lebih dari 120 ribu warga telah merasakan manfaatnya sejak diluncurkan awal 2024.
“Bayangkan jika mereka harus menahan sakit di rumah karena tak punya biaya. Alhamdulillah, lewat Berani Sehat, masalah itu kini mulai menemukan jawabannya,” kata Gubernur. Nada suaranya berubah lembut, mencerminkan empati yang tulus terhadap warganya.
Bagi Anwar Hafid, program itu bukan sekadar proyek birokrasi. Ia menggambarkannya sebagai gerakan moral—sebuah tekad kolektif agar masyarakat Sulteng berani hidup sehat, berani berobat, dan berani menuntut pelayanan kesehatan yang layak. “Semangat ini akan menjadi warisan,” ucapnya penuh keyakinan.
Fokus pada Pendidikan dan Kesehatan
Dalam arahannya, Anwar juga menegaskan bahwa pendidikan dan kesehatan akan tetap menjadi dua poros utama pembangunan Sulawesi Tengah. “Setelah Berani Cerdas, kini Berani Sehat adalah prioritas kita berikutnya. Kalau di tahun 2026 kita hanya bisa membiayai dua program itu, tak apa. Dua-duanya adalah hak rakyat yang tak boleh berhenti,” tegasnya.
Suasana upacara sempat hening ketika Gubernur menyinggung tantangan yang dihadapi tenaga kesehatan, terutama di daerah terpencil. Ia menyebut mereka sebagai “pahlawan tanpa pangkat” yang bekerja dalam keterbatasan fasilitas namun tak kehilangan semangat melayani. “Kadang rakyat mengeluh, tapi itu tanda cinta. Maka layani mereka dengan hati,” ujarnya, menutup dengan senyum hangat.
Harapan untuk Sistem Kesehatan yang Lebih Adil
Selepas upacara, para peserta tak langsung bubar. Mereka menyalami Gubernur satu per satu, sementara irama lagu perjuangan kesehatan masih terdengar dari pengeras suara. Di antara wajah lelah itu, terselip rasa bangga—bahwa di bawah kepemimpinan yang berkomitmen, harapan untuk sistem kesehatan yang lebih adil masih menyala.
Peringatan HKN ke-61 di Sulawesi Tengah tahun ini bukan sekadar seremoni. Ia menjadi refleksi perjalanan menuju masyarakat yang benar-benar berani sehat—bukan karena kaya, tapi karena dicintai dan dilindungi oleh negara.











