Kota Lama memiliki daya tarik yang khas dan unik. Di sini, pengunjung bisa menemukan jejak sejarah yang terpahat dalam deretan bangunan dengan arsitektur bernuansa khas. Tempat ini memberi kesempatan untuk bernostalgia dan mengabadikan estetika dari deretan bangunan klasik bergaya Eropa yang berdiri anggun.
Kota Lama merupakan kawasan musium terbuka. Pengunjung dapat bebas menyusuri blok demi blok, gang demi gang, bahkan memasuki bangunan-bangunan tersebut. Benda-benda bersejarah terpajang di sini dalam ukuran besar hingga sangat besar. Ini berbeda dengan konsep museum biasanya, yang umumnya hanya berupa ruangan dengan benda-benda bersejarah ditempatkan di dalam satu ruang.
Berikut adalah beberapa hal menarik yang bisa ditemui saat mengunjungi Kota Lama:
Susur Jalan di Kota Lama
Dari Jakarta, saya naik kereta menuju Stasiun Tawang, Semarang. Stasiun ini berada di kawasan Kota Lama. Keluar dari halaman stasiun, saya langsung disuguhi pemandangan bangunan bertampak klasik. Berjalan di depan bangunan ini, seketika saya merasa seperti sedang berada di Eropa, meskipun belum pernah ke sana.
Di kawasan yang dahulunya menjadi pusat pemerintahan ini, konsep arsitektur seperti tata letak bangunan, lansekap kota berikut kanal-kanal yang mengelilingi, dibuat mirip seperti di Belanda. Tak heran bila kemudian kawasan Kota Lama dijuluki “Little Netherland”.
Arsitektur Klasik Eropa dan Adaptasi di Iklim Tropis
Bangunan klasik bergaya Eropa bisa nampak dari ciri tertentu seperti: bangunan tinggi, jendela besar, adanya pilar-pilar, ukiran, serta profil tampak luar yang tak sederhana. Di negara-negara Eropa, arsitektur berkembang seiring iklim negaranya. Ketika dibawa ke Indonesia yang notabene berbeda iklim, ada penyesuaian.
Desain klasik iklim subtropis empat musim, diadopsi, diadaptasi, dikreasikan sesuai iklim tropis dua musim, Indonesia. Bangunan tampil dalam fungsi kegunaannya, menarik secara estetika, dan secara budaya bisa menampilkan jatidiri bangsa.
Beberapa Bangunan Ikonik di Kota Lama
Berikut adalah beberapa bangunan yang saya temui:
Gereja Blenduk
Gereja GPIB Immanuel Semarang awalnya dibangun secara sederhana tahun 1753 oleh Bangsa Portugis. Kemudian, pada era yang berbeda, dibangun ulang oleh Bangsa Belanda. Pembangunan ulang termasuk penggantian atap bangunan dengan bentuk yang sekarang dapat kita lihat.
Gereja GPIB Immanuel lebih dikenal dengan nama Gereja Blenduk. Hal ini karena bentuk kubah yang membulat atau mblenduk (bahasa Jawa). Kubah yang mblenduk ini menyerupai arsitektur Bizantium, seperti pada Hagia Shofia, Turki. Sementara bentuk lengkung menyerupai arsitektur Romawi seperti di Colloseum, Italia.
Ciri bangunan Eropa juga nampak pada bagian depan. Adanya pilar silinder berwarna netral (putih) dengan kolom besar, memberi kesan megah secara visual. Saya memutari bangunan. Saya melihat ada penggunaan ornamen kaca patri. Kaca patri digunakan agar cahaya dapat masuk. Selain itu, menampilkan estetika klasik.
Gedung Marba
Gedung Marba awalnya berupa sebuah toko yang dibangun dan dimiliki oleh Jolink Barend. Sempat berganti kepemilikan kepada pengusaha Jerman bernama Carl Zikel, bangunan kemudian dijual kepada saudagar Yaman bernama Marta Badjunet. Untuk mengenang nama pemilik baru, gedung dinamakan Gedung Marba, kependekan dari nama Marta Badjunet. Gedung beralih fungsi, menjadi kantor pelayaran ekspedisi.
Gedung Marba posisinya berada di seberang, arah serong dengan Gereja Blenduk. Gedung Marba berhadapan dengan Taman Srigunting. Gedung Marba juga terlihat sangat Eropa. Selain jendela besar berjumlah banyak, ada detail rumit pada tampak luar bangunan. Khususnya pada profil jendela.
Meski tak serumit seperti di negeri nun jauh di sana itu, tampilan Gedung Marba terlihat memikat. Di antara gedung lain yang berwarna netral yaitu putih, Gedung Marba satu-satunya yang berwarna berbeda, yaitu merah.
Genting Tanah Liat
Dari tampilan google map dapat terlihat bahwa sebagian besar bangunan di kawasan Kota Lama menggunakan genting tanah liat sebagai atap. Genting tanah liat cocok untuk segala musim di Indonesia. Saat kemarau, mampu manahan sinar matahari dan membuat area rumah tetap sejuk. Saat penghujan, mampu menahan angin dan menggulirkan air hujan.
Selain ramah lingkungan, genting tanah liat dipilih karena bisa bertahan sampai jangka waktu lama.
Gedung Museum dan Jendela Krapyak
Saya melipir menuju gedung ini. Dahulu digunakan sebagai kantor perusahaan asuransi bernama Indische Lloyd, tahun 1938. Sekarang difungsikan sebagai museum. Pada sisi samping bangunan, nampak jendela-jendela kayu krapyak. Ini sudah sangat Indonesia. Kayu-kayu yang dipilih pun pasti kayu terbaik dari hutan tropis Indonesia.
Menyusuri Kota Lama, membuat saya belajar tentang apa itu bangunan sehat dan nyaman. Adanya pengaturan sirkulasi udara juga pencahayaan pada ruang dengan tetap menjaga privasi penghuni bangunan.
Peluang Wisata Edukasi, Sejarah, Budaya
Bangunan memang tak bersuara. Namun manusia generasi penerus memiliki kesempatan membubuhkan makna padanya. Manusia bisa membuat setiap bangunan ini seolah “bisa bicara”. Adanya penanda berisi informasi pada muka bangunan, akan memudahkan pengunjung mengetahui sejarah bangunan tersebut.
Tantangan Klasik Kota Lama
Genangan air merupakan tantangan klasik yang memerlukan perhatian dari pemerintah dan dinas terkait. Efek banjir rob yang secara berkala melanda kawasan ini, bukan hanya berdampak pada tatanan paving blok di jalan yang menjadi tidak rata. Lebih-lebih lagi, dapat memengaruhi kualitas bangunan di kawasan cagar budaya Kota Lama.
Pengawasan dan perawatan kepada bangunan cagar budaya, terutama yang masih difungsikan secara aktif, perlu dilakukan. Sebagai upaya melestarikan sekaligus memanjangkan usia kebermanfaatan bangunan.
Terima kasih, salam hangat.
Catatan perjalanan tanggal 16 Agustus 2025
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."











