Pengalaman Menyaksikan Matahari Terbenam di Danau Caspia
Di tengah keindahan matahari terbenam di Danau Caspia, Baku Azerbaijan, saya merasa begitu tenang dan penuh rasa syukur. Pemandangan yang ditawarkan oleh danau ini benar-benar luar biasa. Saat itu, saya sedang berada di sana selama dua hari. Hari pertama, saya menghabiskan waktu dari pagi hingga malam, tetapi tidak sempat menikmati senja dan sunset. Padahal, saya yakin bahwa pemandangan matahari terbenam di sana pasti sangat indah, karena danau ini terlihat seperti tak berujung.
Pada hari kedua, kami benar-benar sengaja menyempatkan diri untuk menikmati sunset dan makan malam bersama tim KBRI Baku. Kami mulai berjalan-jalan di sisi yang berbeda dari sebelumnya, sejak pukul 4 sore. Makan malam kami disajikan dengan ikan tiga jenis, meskipun saya lupa nama spesifiknya, tetapi rasanya sangat lezat. Ini adalah pengalaman yang sangat berkesan.
Baku, ibu kota Azerbaijan, terletak anggun di sepanjang pantai Danau Caspia, menjadikannya salah satu kota terindah di kawasan ini. Saya sangat menikmati keindahan matahari terbenam di sana. Mulai dari awal matahari mulai turun hingga akhirnya benar-benar tenggelam, pemandangan ini sangat memukau.
Saat siang mulai memudar dan matahari mulai turun, arsitektur modern kota mulai bersinar dengan lampu-lampu dekoratif. Matahari itu benar-benar terbenam di sepanjang pantai Baku, mengubah kota menjadi tontonan keemasan. Saya bukan seorang fotografer atau pembuat puisi, tetapi sebagai orang yang romantis, saya bisa merancang kata-kata seindah mungkin untuk menggambarkan perasaan saya. Dada saya terasa hangat ketika melihat matahari perlahan turun dan masuk ke dalam bumi, meninggalkan cahaya semburat orange kekuningan.
Ada sesuatu yang benar-benar istimewa tentang matahari terbenam. Ia menjadi pengingat bahwa bahkan akhir pun bisa indah. Ketika matahari terbenam di bawah cakrawala, ia melukis langit dengan nuansa emas, kuning, dan orange. Saya diberi kesempatan untuk berhenti sejenak, merenung, dan sekadar diam.
Keindahan matahari terbenam bukan hanya terletak pada warnanya, tetapi juga pada perasaan yang ditimbulkannya dalam diriku. Perasaan itu adalah kedamaian, harapan, dan janji tenang akan hari esok yang baru. Kehidupan baru, kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.
Saya berjalan perlahan dengan kursi roda saya, ditemani Zoyir yang selalu ada di sisiku. Bersama beberapa teman dari KBRI Baku, kami berencana untuk makan malam di sisi Danau Caspia, di sisi matahari terbenam. Burung-burung camar terbang rendah, bahkan sampai sejajar dengan saya, sambil terus berkicau. Mungkin mereka tahu bahwa jika ada yang datang ke sana, maka mereka akan mendapatkan sisa-sisa makanan.
Saya duduk di samping burung-burung camar itu, ingin bermain-main dengan mereka sebelum makan dan sambil menyaksikan matahari terbenam dengan indahnya. Seekor kucing sedang menggeliat di atas permukaan batuan. Ketika saya mendekatinya, kucing itu langsung berdiri dan mengikuti saya. Tiba-tiba, kucing itu melompat ke samping kursi roda saya karena saya berjalan sangat perlahan.
Saya berdiri di pembatas railing, memandang Danau Caspia yang mulai bersinar keemasan karena sinar matahari yang perlahan tenggelam. Saya memandang burung-burung camar itu, sesekali mereka melewatiku, bahkan seakan menyambar kepalaku. Saya tertawa riang, karena saya benar-benar bahagia berada di dunia yang antah berantah dengan kehidupan yang berbeda, teman-teman baru, dan malaikat pelindungku yang luar biasa yang Tuhan berikan kepada saya, yang terbaik!
Saya bernyanyi dengan riang, mengeras dendangan saya dan Zoyir tertawa mendengarnya sambil dia tetap memfoto dan merekam saya tanpa tahu gerak-gerik saya itu bagus atau tidak. Bagi saya, apa yang Zoyir ingin lakukan untuk saya, lakukan saja.
Saya melihat matahari terbenam keemasan di ujung Danau Caspia, di ujung mataku, dengan untaian kuning ke orange-an dari sisa-sisa hariku. Di tengah awan tembaga yang meleleh, dengan banyak sinar dan pancaran cahaya yang menyilaukan, dan tetap saja cahaya matahari tidak memudar, tetapi tampak memenuhi langit dengan kemegahan seolah-olah akan tetap selamanya indah dan tidak akan lenyap, kecuali dalam kemuliaan dan dengan tekad yang tak gentar.
Saya memikirkan diri saya dan jiwa-jiwa yang dengan berani melanjutkan perjalanan di bawah langit yang suram, diliputi rasa sakit dan perselisihan. Tanpa cahaya matahari yang menggembirakan untuk mengirimkan, untuk ma uterus berjalan bagi masa depan yang baru, kekuatan kepada mereka, hingga, ketika setiap harapan tampak sirna, awan telah meleleh menjadi cahaya, dan kehidupan tampak tenang dan gemilang pada akhirnya, akhir yang membahagiakan, untuk saya, untuk Anda, dan setiap jiwa yang berani.
Burung-burung camar itu tetap terbang rendah dan menunggu sisa-sisa makanan dari kami tanpa mengganggu kami. Kucing itu juga duduk di samping saya dan terkadang melompat ke atas meja makan, tanpa mengganggu. Kami makan perlahan dengan perasaan bahagia, terutama saya. Karena teman-teman diplomat KBRI Baku beserta pengawalnya dan Zoyir, saya merasa semua menjagaku, dan memang demikianlah.
Duta Besar Indonesia untuk Azerbaijan, Bp Berlian Helmy, meminta tim dari KBRI Baku untuk terus mengawal saya. Beliau bahkan berkata lewat pesan WhatsApp agar saya jangan dibiarkan sendirian. Dan, demikian juga Zoyir yang selalu menjadi pelindungku sejak saya traveling ke Uzbekistan, Armenia, Georgia, dan sekarang di Azerbaijan.
Itulah cara Tuhan menjagaku, lewat malaikat-malaikat-Nya yang terbaik. Lewat orang-orang yang sama sekali tidak kukenal, tetapi Tangan Tuhan memang terus merangkulku. Ajaibnya, Tuhan YESUS ku Maha Besar Kasih-Nya pada ku.
Dan, aku diperlihatkan betapa Karya Tuhan memang luar biasa indahnya. Menyaksikan matahari terbenam di Danau Caspia.











