Film pertama yang saya tonton di awal tahun 2026 adalah film Tinggal Meninggal yang tayang di Netflix pada tanggal 1 Januari 2026. Film ini menceritakan seorang pemuda biasa yang memiliki kebiasaan aneh saat kecil, yaitu suka berbicara sendiri atau terdengar seperti berbisik sendirian saat sedang sendirian. Dari sudut pandang penonton, pemuda bernama Gema ini seolah sedang berinteraksi dengan penonton.
Gema Pradana (Omara) adalah seorang pemuda yang bekerja sebagai analis data di sebuah perusahaan. Dalam keseharian, ia tidak terlalu dekat dengan rekan kerjanya. Hanya bekerja dan pulang. Pokoknya bekerja di balik meja masing-masing.
Gema memiliki latar belakang keluarga yang tampak harmonis dari luar, yang selalu ditunjukkan oleh ayahnya saat promosi bisnisnya. Namun, Gema kecil tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari orangtuanya. Ia anak tunggal. Ayahnya sibuk bekerja, ibunya sibuk mengikuti arisan. Belum lagi saat masa sekolah, orangtuanya bercerai. Ibunya kesepian dan sering berganti pasangan. Gema bahkan diminta memanggil ibunya dengan sebutan “Kakak” agar pacar barunya tidak mengetahui bahwa ia sudah punya anak. Sejak perceraian orangtua Gema, ia tidak pernah mengetahui kabar ayahnya lagi. Yang ia tahu, ayahnya kembali ke kampung dan sudah menikah lagi. Sampai sini, saya meresapi makna bahwa beban seorang anak yang orangtuanya bercerai memang berat dan serius.
Suatu hari, ayah kandung Gema meninggal mendadak karena serangan jantung. Hal ini diketahui oleh rekan kerjanya. Gema datang ke rumah duka, dan baru mengetahui bahwa ayahnya tidak benar-benar tinggal di kampung, melainkan domisili di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Membuat Gema terkejut, ternyata mereka masih sama-sama di Jakarta, tetapi ibunya telat memberi tahu.
Setelah kematian ayahnya, rekan-rekan kantor Gema memberikan belasungkawa dan menyampaikan rasa prihatin. Semua rekan kantor mulai memperhatikan Gema. Mereka mengajak makan apa yang ingin Gema makan. London Fried Chicken menjadi salah satu wishlist Gema dalam buku catatannya sejak kecil. Meskipun tidak bisa makan bersama Mama Papa, setidaknya makan bersama teman-teman. Mendapat berbagai perhatian dari rekan dan bos di kantor membuat Gema senang dan bersemangat. Gema memiliki kebiasaan mengobrol dengan foto dirinya semasa kecil. Seperti foto itu memberikan saran-saran bijak bagi dirinya di masa sekarang.
Beberapa hari berlalu, Gema merasa rekan kantor kembali cuek dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sampai Gema merasa harus ada yang meninggal lagi supaya teman-teman tetap perhatian. Kata Gema dengan foto kecilnya yang sedang memakai toga. Gema mulai merasa haus untuk diperhatikan. Ia mencari cara apa yang bisa membuat ia berduka dan mengundang keprihatinan teman-teman kantornya.
Gema mencari kucing liar, dibawanya pulang. Sudah membawa senjata tajam berencana menghilangkan nyawa seekor kucing. Gema justru memeluk kucing, memberinya kalung lonceng dan memberinya makan. Ia berencana membuat kabar duka melalui Instagram. Walau tak seheboh saat ayahnya meninggal, hal ini memberikan perhatian teman pada Gema. Misal Kerin yang merasa senasib, bahwa peliharaannya kucing yang lucu nan cantik itu mati karena sakit. Gema senang mendapatkan simpati teman-teman kantornya. Beberapa minggu kemudian perhatian kembali turun, kemudian ia mulai merencanakan mengabarkan bahwa Opa dan Oma-nya wafat bersamaan. Si Opa meninggal karena sakit keras sedangkan Oma meninggal mendadak menyusul di hari si Opa meninggal. Padahal yang terjadi Opa dan Oma Gema sudah bertahun lalu meninggal. Kembali Gema mendapat kenyamanan atas perhatian teman-temannya, ia dipeluk sebagai tanda belasungkawa.
Mencari hal lain yang bisa membuat tahan lama adalah membuat sesuatu yang heboh dan satu kantor tahu, dan kali ini harus bombastis. Gema kali ini membuat rencana ibunya. Ya, ibunya yang akan dikabarkan meninggal. Padahal Ibu Gema (Nirina Zubir) yang bernama Ayu ini masih sehat walafiat. Takdir seakan mendukung, tiba-tiba dalam sebuah berita TV ditayangkan berita kejadian pesawat yang hilang kontak. Lalu keluarlah ide Gema, untuk membuat seolah-olah ibunya ada di dalam pesawat yang hilang kontak tadi.
“Mamaaaaa!” Ucap Gema sambil jongkok dan menutup dua telinganya. Teman-teman kantor Gema terkejut dan menangkap bahwa itu ekspresi duka dari Gema. Teman-teman memeluk Gema, dan meminta Gema sabar karena sedang menghadapi duka berturut-turut. Gema mulai membuat cerita bahwa ibunya sedang berada di dalam pesawat yang hilang. Gema kembali dapat memberi ceklist di wishlist dalam buku masa kecilnya itu.
Ibunya Gema datang dengan pakaian yang rapi, tampak cantik dan muda seperti biasa. Ia ingin menengok Gema. Namun Gema curiga bahwa ibunya hanya mau minta uang dan minta rumah yang ia tempati untuk dijual. Gema sebal juga karena ibunya datang sebulan sekali setiap setelah tanggal 20 saja. Tiba-tiba bel pintu masuk berbunyi. Gema melihat teman satu kantornya datang untuk menjenguk Gema. “Surprisee!” Ucap teman kantor Gema berbarengan. Gema panik. Karena ibunya ada di dalam, padahal ia buat cerita ibunya lagi di pesawat yang hilang kontak.
“Kalian teman-temannya Gema?” Mendengar suara ini Gema kaget, dan Gema menjawab polos. “I…iya…..”
“Yaudah aku pulang dulu ya…” ucap ibunya Gema.
Tatapan mata teman-teman Gema sama sekali tak ada yang curiga. “Itu Pacar lo Gem? Kejar gih. Marah loh nanti…” ucap Kerin.
“Gakpapa kok, aman.. ayo masuk.. masuk..” namun Gema minta waktu 2 menit untuk merapikan semua yang di dalam rumah. Hal ini malah membuat spekulasi oleh Pak Cokro (bosnya Gema) bahwa Gema baru saja melakukan hubungan terlarang dengan pacarnya tadi. Teman-teman kantor Gema datang dan bercengkrama bersama. Gema mulai bisa mengendalikan obrolan, Gema sering mengeluarkan jokes yang lucu dan membuat teman-temannya terbahak. Hal ini memberi kesan tersendiri buat Gema. Ia merasakan kebahagiaan. Sampai jokes yang ia utarakan sering diulang-ulang saat teman-teman sudah pulang.
Gema tidur seperti biasa, dengan kebiasaannya: sengaja membiarkan TV menyala, dilengkapi dengan bantal-bantal yang mengimpit tubuhnya. Melihat TV menyala, sayup Gema melihat tayangan sinetron TV malam itu. Menunjukkan adegan seorang pemain sinetron menangis di atas peti kembarannya. Ia seperti tak rela kembarannya meninggal. Melihat adegan itu Gema kembali memiliki ide.. bagaimana membuat perhatian temannya tetap kekal padanya, ia tidak lagi dicuekin. Membuat keadaan seolah-olah Gema meninggal. Ya, kali ini dirinya sendiri yang akan diisukan meninggal.
Malam itu juga Gema menyusun rencana di atas kertas, judulnya “Mempersiapkan Bagaimana Aku Meninggal”. Poin-poin rencana Gema ia tuliskan. Beberapa di antaranya: menyewa orang untuk menjadi tamu melayat, orang yang berperan sebagai pendeta, izin pada Pak RT dan bilang akan diadakan syuting sinetron di rumahnya. Kemudian sosok yang Gema buat adalah kembaran Gema. Yang bernama Bima! Muncul di kantor dengan gaya berbeda, menginfokan kabar duka.
Seorang laki-laki sangat mirip Gema dengan rambut klimis, kacamata dan tahi lalat di dagu kanan muncul. Dengan wajah sendu laki-laki itu mengabarkan bahwa Gema sudah meninggal kecelakaan ditabrak truk pagi hari tadi, karena sendirian mengurus ibunya yang belum ketemu dalam tragedi pesawat kehilangan kontak. Ia adalah Gema yang sudah berpenampilan menjadi Bima. Seluruh warga kantor langsung percaya dan menangis. Namun ada 1 orang yang menaruh curiga pada Gema. Ia mencari banyak data tentang Gema. Kemudian Bima meminta teman-teman kantor untuk datang ke rumah duka.
Setting Rumah duka tampak sangat apik. Ada bendera kuning, ada pengunjung berpakaian hitam, dan pendeta yang menyampaikan khutbah. Khutbah disampaikan dengan khusyu. Ditambah adegan Bima yang meraung menangisi Gema yang ada di dalam peti. Tidak kalah hebat pemeran mengunjung yang juga nangis histeris. Adegan pingsannya Bima pun turut memperdalam peran. Teman-teman Gema menangis semuanya. Bima izin masuk kamar sambil tersedu.
Tak berapa lama datang perempuan cantik yang tak asing lagi. Orang yang disebut Gema, Kakak. Melihat foto Gema di atas peti membuat Ayu sontak menangisi Gema. Anaknya yang ia rasa kurang perhatian darinya. Pak Cokro menjawab pertanyaan Ayu. Alasan Gema meninggal.. “Gema ditabrak Truk tadi pagi saat ia pulang dari urus kabar ibunya yang ada di dalam pesawat yang kehilangan kontak…” ucap Pak Cokro.
“Ayu terkesiap, ha? Saya Mama nya Gema! Info dari mana ini?”
“Dari Bima, kembarannya Gema..” jawab teman yang lain.
“Sini, mana orangnya!” Ayu mulai emosi. Saat Bima datang, “Apa-apaan sih Gem! Kamu ngeprank Mama ya!”, Ayu dengan cepat membuka kacamata Gema dan melepas tahi lalat buatan di pinggir dagu. Semua pemain sandiwara pun bubar.
Teman-teman kantor Gema kaget. Semuanya kecewa. Akhirnya Gema menceritakan semuanya. Menghiraukan teman lelaki Gema yang baru datang, yang mau membongkar kebohongan Gema. Karena Gema sudah cerita semuanya malam itu. Malam itu Gema terpukul, ia merasa hancur. Tidak akan ada lagi perhatian, yang ada semua memusuhinya. Gema jalan sendirian tak tentu arah malam itu. Saking beratnya ia sampai mau bunuh diri dari atas jembatan penyeberangan di bawahnya mobil berjalan kencang sekali. Tangannya sudah bergetar akan naik di pagar JPO itu.
Namun sebuah kalung lonceng berbunyi.. kucing liar yang sudah menjadi peliharaannya itu, yang Gema isukan sudah mati justru memberi kesadaran buat Gema. Walau dia tidak punya teman lagi setidaknya kucing ini masih menemaninya, masih menggap ia majikannya yang selalu memberinya makan.
Gema pulang menggendong kucingnya sampai rumah. Pagi itu tiba-tiba rumah di ketok. Orang yang kemarin berperan sebagai pendeta datang, dompetnya ketinggalan katanya. Vapak itu penasaran akhir cerita adegan kemarin. “Semua pemerannya bagus bagus ya mas aktingnya. Apalagi yang peranin jadi temannya, duh.. tulus banget!”
Lalu Gema tersadar.. “Tulus ya Pak?” Gema berlari mencari kado untuk teman-temannya. Karena Pak Cokro juga sudah meminta untuk Gema membawa barang-barangnya. Gema yakin ia dipecat dari kantor.
Gema mencari berbagai hadiah kecil untuk kenang-kenangan. Ia berlari dari Semanggi ke kantornya yang jauh. Belum sarapan. Sampai Gema ingin membaca surat permintaan maaf, Gema malah muntah.. diikuti teman-teman Gema yang ketularan muntah juga. Asam lambung Gema naik karena belum sarapan sari pagi. Adegan muntah-muntah tak terelakkan.
Setelah tenang dan merepotkan semua orang. Gema beli teman-temannya hadiah satu persatu. Hadiah yang menunjukkan bahwa Gema ternyata memperhatikan hal kecil yang dilakukan teman-teman kantornya. Teman-teman Kantor Gema terharu karena ternyata Gema perhatian sekali pada mereka.
Surat teguran datang ke meja Gema. Ternyata Gema tidak di pecat! Hanya mendapat SP 3. Gema tak jadi membawa barangnya pulang. Dan ia masuk ke dalam lift bersama teman-temannya. Suasana mencair, teman-teman tampak sudah memaafkan Gema. Di dalam lift akhirnya mereka semua jujur. Bahwa mereka juga berbohong. Ada yang berbohong pergi liburan, padahal, tak kemana-mana. Ada yang tampak suka kopi. Padahal tak suka sama sekali. Ada juga yang diantara mereka ternyata ponakan Pak Bos. Ternyata kehidupan orang dewasa membuat orang harus berbohong untuk validasi? Akhirnya mereka jujur satu sama lain. Saat keluar dari lift wajah mereka tampak sumringah. Bebas dari tekanan.
Kini Gema mau memulai hidup yang baru. Mulai bekerja dengan baik. Tidur dengan tenang, TV disingkirkan, bantal yang penuh tidak tampak lagi. Mulai memperbaiki hubungan dengan Mama nya. Makan makanan favorite dan ngobrol bersama.
Sampai suatu ketika Gema ingin makan siang bersama Mama. Gema menyeberang jalan hendak menuju Mama nya yang ada diseberang. Tiba-tiba Sebuah truk yang pengemudinya menyetir sambil menonton video di handphone, jalan dengan kecepatan tinggi menyambar Gema yang sedang menyeberang. Cepat.
Ibunya Gema menghubungi Pak Cokro, menginfokan bahwa Gema meninggal. Di ruang kerja, Pak Cokro menginfokan hal ini, dengan nada sedih.
Namun teman-teman Gema tertawa, terbahak. “Dia kira, kali ini kita bisa ditipu lagi…” ujar salah satu teman Gema diikuti tawa teman lainnya.
Di rumah duka, Ayu menangis sendirian di atas peti mati Gema sungguhan. Ya, kali ini Gema benar-benar meninggal.
Di Alam Sana (pov Gema yang sudah meninggal)
Gema mengenakan pakaian serba putih di ruangan yang serba putih. Gema menangis. Karena belum siap meninggalkan Mamanya dan Teman-temannya. Tiba-tiba pemuda-pemudi tampan dan cantik datang menghampiri Gema. Bertanya dengan pelan serta memberi saran untuk bersabar. Karena rasanya memang seperti itu. Pasti sedih meninggalkan orang-orang yang disayang. Perempuan cantik dan lelaki tampan memeluk Gema. Dan bilang jika Gema mau cerita kami disini bersama kamu, dan siap dengar cerita kamu.
Gema dipeluk bersama. Suasana begitu damai dan nyaman. Sampai Gema menatap kamera, seperti berkata… “Ini yang gue idamkan di dunia! Ternyata jadi kenyataan di alam yang ini”.
Menurutku ini film bagus sekali. Ternyata di luar sana ada orang yang rela berbohong demi dapat perhatian dan validasi. Ternyata ditinggal orangtua bercerai itu berat sekali. Ternyata jika teman sedih, tolong jangan datang saat duka saja, jika kamu benar-benar temannya. Bahwa kadang hal kecil yang kita remehkan justru yang menjadi penyelamat kita. Dan jangan bersedih saat di dunia kita tak dapat sesuatu yang kita inginkan, karena di akhirat nanti semua yang kita inginkan akan terwujud. Asal selalu berbuat baik dan tak lupa beribadah pada Sang Pencipta. Selamat untuk pemulis film ini, Kristo Immanuel selaku sutradara serta Ernest Prakarsa sebagai Produser film yang keren ini.
Dear kompasianer, apakah sudah menonton film ini? Masih tayang di Netflix ya.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











