"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"
Budaya  

Menari Lawan Zaman: Gek Ade dan Pelestarian Tari Bali



Ketangkasan tubuh bocah perempuan bernama Ida Ayu Kade Safna Dewi saat menari mengundang banyak perhatian dari warganet. Tubuhnya sangat fleksibel hingga mampu membentuk huruf S atau mirip lekukan bebek. Aksi tari yang dilakoninya menjadi viral di media sosial, terutama setelah diunggah oleh akun TikTok @Ni Kadek Astini pada 12 Desember 2025. Postingan tersebut telah ditonton sebanyak 28 juta kali.

Namun, aksi tari Gek Ade ini juga memicu pro dan kontra di kalangan netizen. Beberapa mendukung kemampuannya, sementara lainnya khawatir dengan kondisi kesehatannya. Ada yang menyebut bahwa ia mungkin terserang penyakit lordosis atau scoliosis, yaitu kelainan tulang belakang yang dapat memengaruhi postur tubuh.

Gek Ade, begitu ia dipanggil, sedang berlatih tarian dasar Bali yang disebut cengket. Tari ini melibatkan gerakan kaki, pantat, dan kepala secara serempak. Penari menurunkan badan lalu naik lagi dengan kaki tertutup. Latihan ini penting untuk membangun postur tubuh yang kokoh sesuai estetika tari Bali.

Menurut Ni Kadek Astini, guru tari Gek Ade, kelebihan fleksibilitas tubuh Gek Ade bukan hanya karena latihan intensif. “Dia memang lentur banget orangnya. Si Gek Ade memang bagus bodinya, tapi dia kalau jalan biasa dia enggak seperti itu,” ujarnya.

Latihan dasar tari Bali memang rumit. Penari harus belajar gerakan kaki, gerakan tubuh, serta gerak dasar mata dan wajah. Posisi tubuh yang benar belum menjamin gerakan tari benar.

Astini mengatakan bahwa anak-anak membutuhkan waktu sekitar enam bulan hingga satu tahun untuk latihan dasar tari hingga mampu menari satu atau dua jenis tarian Bali. Mereka juga dievaluasi dan mengikuti ujian untuk dinyatakan lolos naik tingkat.

Agem adalah latihan dasar tari Bali dengan posisi tubuh, kaki, dan tangan bertumpu pada salah satu kaki. Kaki lainnya berada di depan dan tangan sejajar mata.

Tari Bali memiliki penjiwaan yang lebih mendalam dibandingkan tarian tradisional daerah lainnya. Hal ini bisa dilihat dari gerakan mata, kepala, dan lengkungan tubuh penari.

Gerakan seledet, yaitu gerakan bola mata yang diarahkan ke samping, kanan atau kiri, secara cepat dan berulang. Kadang diikuti gerakan kepala, yang berfungsi memberikan ekspresi dan karakter. Gerakan muler dalam tari Bali merujuk pada gerakan memutar, khususnya gerakan dasar yang melibatkan kepala dan leher.

Astini mengaku sedih membaca komentar negatif dalam postingan latihan tari Gek Ade. Dia tak mau membalas karena tak sanggup meladeni satu per satu ratusan ribu komentar pro dan kontra. Baginya, menanggapi komentar itu justru memicu rasa sakit hati dan stres.

“Anak itu kan dia sudah punya kelenturan sendiri bukan kita yang memaksakan badannya seperti ini. Nah contohnya kayak tari balet, tari balet itu kan bahkan kepalanya itu bisa nempel loh di pantatnya, gitu modelnya. Jadi melihat komen bisa jadi penyakit tapi saya ambil positifnya aja,” katanya.



Astini, yang sudah mengabdi selama 32 tahun sebagai guru tari Bali, menjelaskan bahwa tari Bali penting sebagai sarana komunikasi spiritual, persembahan, doa, dan ucapan syukur pada Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam setiap upacara keagamaan.

Kecintaannya pada seni tari Bali ditunjukkan dengan sekolah jurusan tari di SMKN 3 Sukawati sembari mengajar tari di balai desa. Astini membangun sanggar di kampung suaminya tahun 2011 lalu.

Saat ini, Astini bersama 18 guru dan asisten mengajar sekitar 280 peserta setiap Selasa hingga Minggu, secara bergantian. Astini juga mengajar secara gratis untuk 19 penyandang disabilitas di sanggar.



Astini sengaja membangun sanggar di Kabupaten Jembrana untuk melestarikan seni tari Bali. Dia khawatir budaya populer membuat anak-anak muda di sana lupa dengan tari Bali.

Astini mengingat suatu kali pihak desa kesulitan mencari anak-anak muda menari dalam upacara keagamaan baik karena malu hingga tak paham. “Jadi di sini keinginan keras untuk membuka sanggar untuk anak-anak itu karena di sini kita memerlukan penari untuk kegiatan upacara itu sangat-sangat sulit. Makanya penting banget sih kalau misalnya itu tidak kita lestarikan dari dini,” katanya.

Astini sudah menari dalam kurun waktu selama 32 tahun. Pengabdiannya tak sia-sia lantaran banyak siswa yang sempat berkesempatan menari di ajang lokal hingga internasional.

Astini bahkan menerima sejumlah penghargaan. Salah satunya dari Tiktok Indonesia tahun 2025 lalu dengan kategori Changemaker of The Year dalam wujud pelestarian tarian Bali.

“Ini adalah tugas sebagai guru tari, memperkenalkan biar anak-anak kita tidak lupa dengan seni budayanya serta melestarikan budaya itu sendiri,” katanya.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *