Keterbatasan dan Kreativitas Suku Anak Dalam dalam Mencari Kehidupan Baru
Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba di Jambi menghadapi berbagai keterbatasan yang memengaruhi kehidupan mereka. Hutan yang dulu menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi perkebunan sawit, membuat mereka terjebak dalam labirin kemiskinan. Namun, ketidakpastian ini tidak membuat mereka menyerah. Sebaliknya, mereka berjuang untuk menciptakan ekonomi kreatif yang bisa membantu mereka bertahan hidup.
Cedas, seorang penyandang disabilitas dari Rombong Jurai, adalah salah satu contoh. Ia mengolah biji sawit yang keras menjadi cincin yang artistik dan cantik. Proses ini sangat melelahkan, tetapi ia tidak menyerah. Cedas bergabung dengan Gerakan Pemuda Anak Dalam (GPAD) untuk belajar bersama lembaga pendamping yakni Pundi Sumatra. Lembaga ini fokus pada peningkatan kapasitas dan ekonomi masyarakat adat.
Bentang alam yang awalnya hutan kini telah berubah menjadi perkebunan sawit. Untuk bertahan hidup di lingkungan baru tanpa hutan, Cedas memutar otak. Pekerjaan sehari-harinya adalah memungut berondolan. Cangkang-cangkang sawit yang menjadi limbah menjadi bahan baku utama pembuatan cincin. Bentuknya unik dan banyak orang suka.
Bantuan dari lembaga pendamping memberi ruang bagi warga SAD untuk mengadopsi peralatan modern seperti mesin gerinda kecil dan mesin amplas. Awalnya pekerjaan berat jadi ringan. Tekstur kasar biji sawit menjadi halus dan mengkilap. Saat ini, hasil produksi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar di sekitar desanya. Cedas berharap pasar cincin sawitnya didukung dan diapresiasi banyak orang dengan membelinya.
Harga Rp 15.000 per cincin sepadan dengan tenaga yang mereka keluarkan. Pembelian produk ini juga membantu ekonomi kelompok SAD yang ingin menemukan sumber ekonomi baru. Uang yang terkumpul menjadi tambahan pendapatan bagi keluarga sekaligus modal untuk kembali produksi dan merawat peralatan kerja, agar terus berkelanjutan.
CEO Pundi Sumatra, Sutono, menegaskan bahwa inovasi Cedas adalah bagian dari upaya besar komunitas SAD untuk berdaulat di atas kaki sendiri. Mereka tidak lagi meratapi hilangnya hutan, tapi mulai mengisi celah ekonomi melalui pengolahan bahan baku yang ada di sekitar mereka. Ini adalah langkah kecil yang sangat bermakna bagi kedaulatan ekonomi mereka ke depan.
Keberlanjutan usaha cincin biji sawit ini kini bergantung pada penerimaan pasar. Langkah kecil dari pengrajin SAD ini diharapkan menjadi contoh bagi rombong SAD lainnya, bahwa potensi ekonomi bisa digali dari apa yang ada di sekitar mereka, asalkan dikelola dengan keterampilan dan manajemen yang tepat.
Kreativitas Merajut Bambu dan Ikan Asap
Kreativitas juga lahir dari Tumino, warga SAD dari Rombong Lintas yang kini menempati rumah bantuan dari Kementerian Sosial. Persaingan ekonomi di desa cukup ketat, sehingga membutuhkan jalan lain untuk membuka peluang ekonomi. Tumino merajut bilah-bilah bambu menjadi alat penangkap ikan bernama lukah.
Alat yang ia ciptakan dapat bersaing dengan masyarakat desa. Bahkan lukah buatan Tumino terjual dengan harga Rp 150.000 per unit. Untuk mencapai harga kini, awalnya tidak mudah. Tumino terbiasa barter, jadi ia serahkan Lukah sesuai kerelaan hati pembeli.
Pundi Sumatra, melalui dukungan International Fund for Agricultural Development (IFAD), hadir untuk mengawal masa transisi tersebut melalui penguatan ekonomi alternatif. Selain menghapuskan stigma masyarakat terhadap SAD, tantangan terbesar adalah memberikan nilai komersial pada hasil karya mereka.
Pendamping lapangan Pundi Sumatra, Prayoga, menjelaskan bahwa mereka memberikan edukasi ekonomi. Mereka membantu merinci biaya modal, mulai dari tenaga mencari bahan di hutan, waktu meraut, hingga penggunaan bahan pendukung seperti furnis untuk memperkuat bambu agar tahan rayap.
Semangat ekonomi kreatif ini juga bergeliat pada komunitas SAD di Desa Dwi Karya Bakti, Kabupaten Bungo. Di sana, warga yang tergabung dalam kelompok usaha pembesaran ikan mulai melangkah lebih jauh dengan tidak sekadar menjual ikan segar, melainkan mengolahnya menjadi produk pangan bernilai tambah berupa ikan asap.
Sayangnya, meskipun sudah mengantongi izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikasi Halal dari MUI, produk ikan asap warga SAD masih sepi peminat. Legalitas formal yang diperoleh menjadi jaminan kualitas dan keamanan konsumsi, namun kompetisi di pasar retail dan membangun kepercayaan konsumen luar tetap menjadi perjuangan tersendiri.
Tantangan pasar tidak menyurutkan semangat warga SAD. Mereka terus berjuang agar nyala ekonomi baru ini tidak padam. Kehadiran cincin sawit, lukah, dan ikan asap butuh tempat di hati masyarakat luas, agar alih fungsi hutan tidak menjerat mereka dalam lingkaran kemiskinan.











