Pentingnya Khutbah dalam Ibadah Salat Jumat
Ibadah salat Jumat memiliki kedudukan istimewa bagi kaum Muslim laki-laki sebagai momen untuk meraih keberkahan melalui amal saleh dan penguatan ketakwaan. Salah satu rukun utama yang tidak terpisahkan dalam ibadah ini adalah khutbah, yang berfungsi sebagai sarana bagi khatib untuk menyampaikan pesan keimanan dan nasihat perbaikan diri kepada jemaah.
Setiap hari Jumat, kaum Muslim laki-laki memiliki kewajiban menunaikan ibadah salat Jumat yang menempati posisi istimewa dalam ajaran Islam. Hari Jumat juga dikenal sebagai hari yang penuh keberkahan, sehingga banyak umat Islam memanfaatkannya untuk meningkatkan amal kebaikan, seperti bersedekah dan melakukan perbuatan saleh.
Dalam rangkaian pelaksanaan salat Jumat, khutbah memiliki peran yang sangat penting karena termasuk salah satu rukun yang tidak dapat ditinggalkan. Melalui khutbah, khatib menyampaikan pesan-pesan keimanan, nasihat, serta peringatan kepada jamaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan dan memperbaiki kualitas amal dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai tambahan informasi, anjuran agar khutbah disampaikan secara singkat telah disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad:
“Dari Ammar Ibn Yasir (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesunggunguhnya panjangnya sholat dan pendeknya khutbah seorang khatib adalah tanda kepahaman seseorang tentang agama. Oleh karena itu panjangkanlah sholat dan persingkatlah khutbah; sesungguhnya dalam penjelasan singkat ada daya tarik.” (HR Muslim dan Ahmad)
Berikut ini adalah materi khutbah Jumat berjudul “Rusaknya Hati karena Enam Perkara”.
Khutbah I
1. Sengaja Berbuat Dosa dengan Harapan Kelak Taubatnya Diterima
Pernyataan tersebut berarti sama saja meremehkan dosa, dan ketika kita meremehkan dosa, meskipun dosa yang ringan maka dosa tersebut menjadi besar di sisi Allah. Rasulullah saw bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
“Sesungguhnya kalian melakukan suatu amalan dan menyangka bahwa itu lebih tipis dari rambut. Namun kami menganggapnya di masa Nabi saw sebagai sesuatu yang membinasakan.”
Maka dari itu, apa yang kita anggap kecil bisa jadi besar di mata Allah, meski diperumpamakan dosa itu lebih tipis dari rambut. Karena dosa kecil juga diremehkan maka lama-lama juga menumpuk menjadi besar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Batthol:
“Sesuatu dosa yang dianggap remeh bisa menjadi dosa besar, ditambah lagi jika terus menerus melakukan dosa.”
2. Mempelajari Ilmu Namun Tidak Mau Mengamalkannya
Mencari ilmu merupakan kewajiban bagi setiap mukmin laki-laki dan perempuan, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari sahabat Anas bin Malik:
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”
Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah, banyak umat Muslim sudah menuntut ilmu namun tidak mau mengamalkannya. Sehingga ilmu tersebut hanya sekedar teori bukan praktek. Padahal ilmu yang tidak diamalkan, bagaikan pohon tidak berbuah, sebagaimana yang diucapkan oleh para pepatah Arab.
3. Ketika Beramal Tidak Ikhlas
Beramal merupakan perbuatan yang baik, karena akan memberikan kebaikan bagi dirinya dan sekelilingnya, tetapi kadang juga beramal menjadi tidak bermakna dan berpahala ketika tidak dilandasi dari rasa ikhlas. Atau bahasa sekarang hanya sekedar pencitraan dan pansos semata. Dan ketika seseorang tidak memiliki rasa ikhlas, maka hatinya akan bermasalah yakni mengidap penyakit hati bernama ria, ingin dipuji dan sombong.
4. Memakan Rezeki Allah Namun Tidak Mensyukurinya
Rezeki merupakan karunia Allah swt yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya, jadi sudah sepantasnya kita semua untuk selalu mensyukuri dari setiap apapun yang diberikan kepada kita. Rasulullah bersabda yang diriwayatkan oleh Ahmad dari An Nu’man bin Basyir:
“Barang siapa tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.”
Hadits ini benar sekali. Bagaimana mungkin seseorang dapat mensyukuri rezeki yang banyak, jika rezeki yang sedikit saja tidak mampu disyukuri.
5. Tidak Ridha (Puas) dengan Pemberian Allah swt
Ridha dengan pemberian Allah merupakan sifat qanaah yang akan membuat hati seseorang merasa cukup dan merasa puas dengan rezeki yang dia miliki. Ia juga tidak akan menuntut lebih terhadap apa yang sudah ada di tangannya.
6. Mengubur Jenazah Namun Enggan Mengambil Pelajaran dari Kematian Mereka
Kematian adalah takdir seluruh makhluk, manusia ataupun jin, hewan ataupun makhluk-makhluk lain, baik lelaki atau perempuan, tua ataupun muda, baik orang sehat ataupun sakit. Seperti dalam firman Allah Ta’ala:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.”
Sebaik-baik manusia merupakan yang dapat mengambil hikmah dari peristiwa kematian, karena kematian bukan hanya sekedar takdir melainkan hikmah dan nasihat dari Tuhan untuk yang masih hidup.
Khutbah II
1. Keistimewaan Salat Jumat
Salat Jumat memiliki kedudukan istimewa bagi kaum Muslim laki-laki sebagai momen untuk meraih keberkahan melalui amal saleh dan penguatan ketakwaan. Setiap hari Jumat, kaum Muslim laki-laki memiliki kewajiban menunaikan ibadah salat Jumat yang menempati posisi istimewa dalam ajaran Islam.
Hari Jumat juga dikenal sebagai hari yang penuh keberkahan, sehingga banyak umat Islam memanfaatkannya untuk meningkatkan amal kebaikan, seperti bersedekah dan melakukan perbuatan saleh.
2. Peran Khutbah dalam Ibadah Salat Jumat
Dalam rangkaian pelaksanaan salat Jumat, khutbah memiliki peran yang sangat penting karena termasuk salah satu rukun yang tidak dapat ditinggalkan. Melalui khutbah, khatib menyampaikan pesan-pesan keimanan, nasihat, serta peringatan kepada jamaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan dan memperbaiki kualitas amal dalam kehidupan sehari-hari.
3. Doa dan Harapan
Demikanlah khutbah Jumat yang disampaikan, mudah-mudahan bisa menjadikan kita sebagai hamba yang selalu mengambil pelajaran dari setiap hal positif, sehingga hati kita akan selalu menjadi bersih dan suci, karena selalu ingat kepada Allah swt. Amin ya rabbal ’alamin.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











