"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"
Budaya  

Perjalanan Aiman Ricky Meraih Sertifikasi Pembimbing Haji

Kehidupan Aiman Ricky: Perjalanan Menuju Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji



Aiman Ricky berbagi kisah menginspirasi tentang pencapaian penting dalam hidupnya saat ditemui di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Kamis (12/2/2026). Dengan nada penuh rasa syukur, ia menceritakan keberhasilannya menyelesaikan sertifikasi pembimbing ibadah haji yang diikuti pada Desember lalu. Baginya, pencapaian ini bukan hanya sekadar sertifikat, tetapi hasil dari niat yang kuat, usaha berulang, dan keteguhan hati.

“Alhamdulillah, kemarin aku mengikuti sertifikasi pembimbing ibadah haji di bulan Desember, dan itu merupakan salah satu pencapaian hidup aku juga,” ujar Aiman Ricky saat berbicara di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Kamis (12/2/2026).

Keputusan Aiman untuk mengikuti sertifikasi tersebut bukanlah tiba-tiba. Awalnya, ia memulai perjalanan dengan menjadi tour leader umrah. Dari sana, ia mengikuti sertifikasi tour leader umrah dan mendaftar ke lembaga resmi. Namun, proses ini justru membuka jalan bagi ambisi lebih besar.

Dalam proses pendaftaran, Aiman sempat ditanya mengapa tidak langsung mengikuti sertifikasi pembimbing ibadah haji, mengingat dirinya telah menunaikan ibadah haji dan bahkan pernah menjadi petugas haji. Pertanyaan ini membuatnya teringat kembali pada mimpi lama yang sempat terpendam.

Aiman mengenang momen saat menunaikan ibadah haji pada tahun 2022. Saat itu, ia sangat terkesan melihat para petugas haji yang dengan penuh keikhlasan membantu jemaah lanjut usia—nenek-nenek dan kakek-kakek—dalam menjalani rangkaian ibadah yang berat secara fisik.

“Waktu itu aku mikir, ‘Wah, ini salah satu pekerjaan yang mulia,’ apalagi melayani tamu-tamu Allah,” tuturnya.

Sejak saat itu, niat untuk menjadi petugas haji semakin kuat. Pada tahun 2023, Aiman mulai melengkapi berbagai persyaratan yang dibutuhkan. Ia bahkan dua kali mengajukan pendaftaran, tetapi gagal karena berkas yang tidak lengkap, termasuk surat rekomendasi penting yang belum dimilikinya.

Kesempatan baru akhirnya datang melalui jalur sertifikasi pembimbing ibadah haji. Aiman menyadari bahwa pembimbing ibadah haji adalah bagian dari petugas haji itu sendiri. Melihat peluang tersebut, ia memutuskan untuk menjadikannya sebagai jalan alternatif untuk tetap bisa mengabdi.

“Dan itu jadi kesempatan buat aku,” katanya.

Proses sertifikasi yang dijalani Aiman ternyata sangat berat. Saat tiba di lokasi pelatihan, ia mendapati sekitar 200 peserta lain yang ikut serta, terdiri dari 125 laki-laki dan sisanya perempuan. Banyak dari peserta memiliki latar belakang profesional—mulai dari dokter, profesor, hingga praktisi berpengalaman di bidangnya. Sementara Aiman datang sebagai peserta mandiri.

“Aku ngerasa, ‘Wah, kecil banget,’” ungkapnya jujur.

Meski merasa minder, Aiman tidak mundur. Ia menanamkan tekad untuk tetap mencoba dengan penuh keyakinan. Baginya, hasil akhir bukanlah satu-satunya tujuan, melainkan proses belajar itu sendiri.

Selama delapan hari, ia menjalani karantina di asrama haji dengan jadwal kegiatan yang padat dan menguras fisik. Aktivitas dimulai sejak pukul 3 dini hari hingga berakhir sekitar pukul 11 malam. Rangkaian kegiatan meliputi salat berjamaah, olahraga bersama demi menjaga ketahanan fisik, hingga materi pembelajaran yang nyaris tanpa jeda. Waktu istirahat pun sangat terbatas—dari biasanya delapan jam, menjadi hanya empat hingga lima jam per hari.

“Kita mulai start dari jam 3 sampai beres lagi jam 11 malem. Itu diisi dari mulai sholat berjamaah, kemudian juga olahraga bersama karena dituntut fisik yang kuat, kemudian belum lagi kita materi, setiap saat tuh materi, kemudian juga ada lagi ujian,” katanya.

Ujian menjadi tantangan tersendiri dalam proses ini. Sejak hari pertama, peserta sudah dihadapkan pada pre-test, disusul berbagai ujian praktik, micro-guiding, hingga tes akhir yang berlapis. Materi ujiannya pun tidak main-main, mulai dari kemampuan Bahasa Arab, hafalan Al-Qur’an, hingga pemahaman teknis dan praktik pembimbingan jemaah.

“Dan itu ujian nggak habis-habis. Dari mulai masuk udah pre-test, kemudian udah ujian latihan-latihan, kemudian lagi ada micro-guiding-nya, kemudian akhirnya juga sampe terakhir itu ada ujian tes yang berturut-turut,” kata Aiman.

“Dari mulai Bahasa Arab-nya, hafalan Qur’an-nya, kemudian juga ada tes-tes lagi yang menurut aku ‘Wah, ini berat banget’ gitu. Karena aku ngerasa aku sebagai newcomer gitu, sedangkan yang lain tuh pada udah profesional,” sambungnya.

Sebagai peserta baru di antara para profesional, Aiman sempat merasa ujian tersebut sangat berat. Namun alih-alih patah semangat, kondisi itu justru memacunya untuk belajar lebih giat. Ia kembali membuka catatan, memperdalam materi, dan memaksimalkan setiap kesempatan belajar yang ada.

Kerja keras itu akhirnya berbuah manis. Saat pengumuman kelulusan dibacakan, nama Aiman Ricky dinyatakan lolos. Di tengah ketatnya seleksi, terdapat empat peserta yang harus menerima kenyataan tidak lulus.

“Alhamdulillah, pas diumumin aku lolos, ya bersyukur aja,” ucapnya.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *