"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

20 Ribu Disabilitas Mental Diduga Jadi Korban Kekerasan di Panti

Pengungkapan Kekerasan terhadap Penyandang Disabilitas Mental di Panti Sosial



Pengungkapan dugaan kekerasan terhadap penyandang disabilitas mental di panti sosial kembali menjadi perhatian masyarakat. Ribuan individu diduga mengalami perlakuan tidak manusiawi, termasuk dirantai, dikurung, dan menerima makanan yang tidak layak. Hal ini terungkap saat Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menerima kunjungan dari aktivis Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) di Kantor Kemensos, Jumat (27/2).

Yeni Rosa Damayanti, Ketua PJS, menyampaikan bahwa diperkirakan hampir 20 ribu penyandang disabilitas mental berada di panti-panti sosial. Dalam audiensi tersebut, ia menjelaskan adanya tindakan tidak manusiawi yang dilakukan di sejumlah panti.

Tindakan Tidak Manusia di Panti Sosial



Menurut Yeni, banyak penghuni panti dipasung atau dirantai. Mereka juga diberi makanan yang tidak layak dan bahkan hanya dimandikan sebulan sekali menggunakan sabun deterjen. Kesaksian para penyintas pun memperkuat laporan ini.

Ahmad Bejo (25), salah satu penyintas, mengaku pernah dirantai selama lima bulan di sebuah panti di Kebumen, Jawa Tengah. Ia menyebutkan bahwa selama dirantai, aktivitas makan, buang air, dan tidur dilakukan di tempat yang sama. Bejo juga mengatakan hanya mandi satu kali dalam sebulan dan pernah dirantai di ruang terbuka selama lebih dari sepekan.

Tuti Haryati (33) menyampaikan kesaksian serupa. Ia menuturkan bahwa penghuni perempuan tetap dirantai saat menstruasi tanpa diberi pembalut. Selain itu, mereka juga tidak diperbolehkan beribadah. Sementara itu, M. Hibatul Hidris (26) mengungkapkan bahwa ia tidak mendapat pengobatan layak meski mengalami gangguan mata. Ia juga menyebut kualitas makanan yang diterima sangat buruk.

Motif Ekonomi di Balik Praktik Tidak Manusia



Menurut Yeni, praktik tidak manusiawi tersebut banyak ditemukan di panti nonpemerintah atau swasta. Ia menyebut bahwa sebagian besar panti mengeklaim sebagai lembaga amal, namun penelitian PJS menunjukkan bahwa motif ekonomi lebih dominan.

PJS menemukan hampir seluruh panti menerapkan sistem berbayar dengan tarif mulai dari Rp 1.500.000 hingga Rp 2.500.000 per bulan. Beberapa lokasi yang disebut antara lain panti di Kebumen, Serang, Bekasi, dan Temanggung. Salah satunya adalah Panti Bani Syifa di Serang, Banten.

Yeni juga menyampaikan bahwa laporan kekerasan terhadap penyandang disabilitas mental sudah disampaikan berulang kali ke pemerintah, namun belum mendapat respons memadai. Ia mengatakan bahwa kedatangan mereka ke Kemensos hari ini bertujuan untuk memastikan masalah ini mendapat perhatian yang lebih serius.

Langkah yang Diambil oleh Menteri Sosial

Terhadap pengaduan tersebut, Mensos Gus Ipul mengatakan akan melakukan penelusuran lebih lanjut. Ia menegaskan bahwa informasi yang diberikan akan segera ditindaklanjuti. “Kami tidak ingin membiarkan informasi-informasi yang berharga itu lewat begitu saja,” ujarnya.

Gus Ipul menyebut bahwa penguatan pengawasan terhadap lembaga kesejahteraan sosial menjadi fokus Kementerian Sosial sejak tahun lalu. Ia menjelaskan bahwa regulasi telah diperbaiki, terutama dalam hal registrasi, akreditasi, dan pengawasan. Selain itu, pemerintah juga sedang berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan data lembaga sosial yang masih beroperasi valid.

Ia menekankan bahwa lembaga kesejahteraan sosial harus memberikan layanan yang manusiawi karena yang ditangani adalah kelompok rentan. “Kita ingin memastikan bahwa Lembaga Kesejahteraan Sosial ini benar-benar melayani kelompok rentan dengan baik, tidak melanggar HAM, memberikan hak-haknya,” katanya.

Gus Ipul juga meminta kepala daerah untuk memperketat pengawasan terhadap panti sosial di wilayah masing-masing. “Saya minta sekali lagi kepala daerah untuk benar-benar memperhatikan, memberikan atensi terhadap LKS yang beroperasi di kabupaten masing-masing atau di kota masing-masing,” ujarnya.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *