Fenomena Gerhana Bulan Total dan Tradisi Sholat Khusuf
Pada hari ini, Selasa (3/3/2026), akan terjadi fenomena langit yang sangat istimewa, yaitu Gerhana Bulan Total. Kejadian ini terjadi ketika posisi Bulan berada di belakang Bumi, sehingga Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, dan ketiganya berada dalam satu garis lurus.
Kementerian Agama (Kemenag) mengajak umat Islam untuk melaksanakan sholat khusuf sebagai bentuk syukur atas kebesaran Allah SWT. Sholat Gerhana atau sholat khusuf adalah sholat sunah yang hukumnya sunnah muakkadah alias sunah yang sangat dianjurkan. Cara melaksanakan sholat gerhana ini tidak jauh berbeda dengan sholat sunah pada umumnya.
Tiga Tingkatan dalam Sholat Khusuf
Menurut ulama besar Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Kitab Nihayatuz Zain, sholat khusuf memiliki tiga tingkatan:
- Tingkatan paling minimal, yakni dua rakaat seperti salat sunah Zuhur biasa.
- Tingkatan pertengahan, yaitu dua rakaat dengan dua kali rukuk dan dua kali sujud pada setiap rakaat.
- Tingkatan paling sempurna, yakni setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan surat-surat panjang seperti Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, dan Al-Ma’idah atau yang sepadan, dengan rukuk dan sujud yang dipanjangkan sesuai panjang bacaan tersebut.
Niat dan Tata Cara Sholat Gerhana Bulan
Sebelum melaksanakan sholat gerhana, muslim perlu mengetahui bacaan niatnya, seperti berikut:
Niat Sholat Gerhana Bulan
أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ لله تَعَالَى
Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Saya niat shalat sunah gerhana bulan dua rakaat karena Allah SWT.”
Tata Cara Sholat Gerhana Bulan/Sholat Khusuf:
- Membaca niat sholat gerhana bulan.
- Membaca doa Iftitah.
- Membaca Ta’awudz dan Al-Fatihah.
- Membaca surat Al-Qur’an dengan jahr (lantang).
- Rukuk pertama (lama).
- Bangkit dari ruku (I‘tidal).
- Membaca surat Al-Fatihah kembali.
- Membaca surat yang lebih pendek dari surat pada poin 4.
- Rukuk kedua (lebih singkat dari rukuk pertama).
- Bangkit dari ruku (I‘tidal).
- Sujud pertama.
- Duduk di antara dua sujud.
- Sujud kedua.
Sejarah Gerhana pada Masa Rasulullah SAW
Pada masa jahiliyah di Jazirah Arab, penduduk setempat percaya bahwa gerhana erat kaitannya dengan kematian tokoh pembesar. Namun, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa gerhana bukanlah akibat dari kematian seseorang, melainkan salah satu tanda kebesaran Allah SWT.
Dalam sebuah riwayat, dikisahkan bahwa Ibrahim putra Mariah al-Qibtiyyah, satu-satunya putra Nabi Muhammad SAW dari selain Khadijah, meninggal bersamaan dengan gerhana matahari. Orang-orang kemudian berkata bahwa gerhana matahari terjadi karena kematian Ibrahim. Namun, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa matahari dan bulan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana, maka salat dan berdoalah kalian kepada Allah.
Perbedaan Pendapat Ulama tentang Sholat Khusuf
Beberapa ulama memiliki pandangan berbeda mengenai perintah melaksanakan sholat khusuf saat gerhana. Syekh Yusuf al-Qaradawi berpendapat bahwa salat gerhana pertama kali dilaksanakan pada tahun ke-10 Hijriah, bertepatan dengan wafatnya Ibrahim, putra Nabi Muhammad SAW.
Sementara itu, ulama pengikut Mazhab Syafi’i menyatakan bahwa salat gerhana matahari disyariatkan pada tahun ke-2 Hijriah, sedangkan gerhana bulan pada tahun ke-5 Hijriah, sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imam asy-Syafi’i (juz 1, hlm. 239).











