Laporan Group-IB Mengungkap Evolusi Ancaman Siber terhadap Rantai Pasok
Group-IB, sebuah perusahaan pengembang teknologi keamanan siber yang fokus pada investigasi, pencegahan, dan penanggulangan kejahatan digital, baru-baru ini merilis laporan terbaru berjudul High-Tech Crime Trends Report 2026. Laporan ini menyoroti perubahan signifikan dalam ancaman siber, khususnya terhadap rantai pasok. Menurut laporan tersebut, serangan terhadap rantai pasok telah berevolusi menjadi ekosistem terintegrasi yang sangat kompleks dan sulit diatasi.
Ekosistem Serangan yang Terstruktur
Laporan ini menunjukkan bahwa ancaman siber tidak lagi berupa insiden individu, melainkan bagian dari satu sistem yang saling terhubung. Ketika organisasi semakin saling terhubung secara digital, para pelaku kejahatan siber kini lebih sering membidik vendor dan penyedia layanan di tingkat awal rantai pasok. Tujuannya adalah untuk memperluas dampak serangan, mempercepat eksekusi, serta menghindari deteksi oleh sistem keamanan konvensional.
“Ketika satu celah terbuka, dampaknya bisa mencapai ribuan pihak lain,” ujar Dmitry Volkov, CEO Group-IB. Ia menjelaskan bahwa ancaman siber saat ini merupakan kampanye terkoordinasi yang melibatkan berbagai tahapan seperti phishing, ransomware, kebocoran data, hingga penyalahgunaan akses internal.
Penyebaran Kode Berbahaya Melalui Open-Source
Salah satu poin utama dalam laporan ini adalah peningkatan ancaman terhadap ekosistem open-source. Repositori paket seperti npm dan PyPI kini menjadi target utama serangan. Peretas mencuri akun maintainer dan menyisipkan malware secara otomatis ke library yang banyak digunakan. Akibatnya, proses development (pipeline) yang seharusnya aman justru berubah menjadi jalur penyebaran kode berbahaya ke banyak pengguna sekaligus.
Ekstensi Peramban Web yang Berbahaya
Selain itu, laporan ini juga menyoroti lonjakan penggunaan ekstensi peramban web yang berbahaya. Pelaku kejahatan siber kini semakin sering memanfaatkan ekstensi yang terlihat terpercaya. Mereka membajak akun pengembang dan marketplace resmi untuk menyisipkan kode berbahaya. Ekstensi ini kemudian digunakan untuk mencuri kredensial login, mengambil alih sesi pengguna, hingga mencuri data keuangan langsung dari peramban web korban.
Phishing yang Didukung AI
Kompromi identitas melalui phishing juga meningkat pesat. Kampanye phishing yang didukung AI kini menargetkan integrasi sistem yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi serta alur login berbasis OAuth. Dengan metode ini, penyerang dapat melewati perlindungan MFA (multi-factor authentication) dan memperoleh akses jangka panjang yang terlihat aman ke platform SaaS, pipeline CI/CD (proses pengembangan dan deployment aplikasi), serta lingkungan cloud.
Penggunaan AI dalam Serangan Siber
Pemanfaatan AI dalam berbagai alat serangan membuat siapa pun lebih mudah melancarkan aksi siber. Pelaku dapat membuat phishing kit dengan cepat, melakukan penyamaran yang lebih realistis, serta mengeksploitasi perangkat lunak open-source, sistem autentikasi, dan peramban web secara lebih luas dan terukur.
“AI bukan penyebab munculnya serangan rantai pasok, tetapi membuat serangan tersebut lebih efisien, cepat, dan sulit terdeteksi. Kepercayaan berlebihan terhadap software dan layanan kini berubah menjadi risiko strategis bagi sebuah perusahaan,” ujar Volkov.
Tren Utama dalam Laporan 2026
Beberapa tren utama yang muncul dalam laporan ini antara lain:
-
Ekosistem open-source jadi sasaran
Repositori paket seperti npm dan PyPI kini menjadi target utama serangan. Peretas mencuri akun maintainer dan menyisipkan malware secara otomatis ke library yang banyak digunakan. -
Lonjakan ekstensi peramban web berbahaya
Pelaku kejahatan siber kini semakin sering memanfaatkan ekstensi peramban web yang terlihat terpercaya. Mereka membajak akun pengembang dan marketplace resmi untuk menyisipkan kode berbahaya. -
Phishing berbasis AI
Kampanye phishing yang didukung AI kini menargetkan integrasi sistem yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi serta alur login berbasis OAuth. -
Rantai pasok ransomware yang semakin terindustrialisasi
Initial Access Broker, data broker, dan operator ransomware kini beroperasi dalam ekosistem yang terstruktur. Mereka membidik akses di tingkat hulu agar serangan dapat menjangkau lebih banyak target sekaligus dan menimbulkan kerugian bisnis yang lebih besar.
Kesenjangan dalam Keamanan Digital
Laporan ini juga menegaskan bahwa lonjakan kebocoran data memperparah risiko siber. Kredensial yang dicuri, source code, API key, hingga komunikasi internal memungkinkan penyerang memahami proses bisnis dan relasi antar perusahaan. Ketika digabungkan dengan akses yang diperdagangkan oleh broker, data ini memungkinkan penyerang melancarkan penyusupan yang lebih terarah, menyamar sebagai pihak terpercaya, serta menjalankan penipuan yang tampak seperti aktivitas normal.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











