Kenaikan Harga Minyak Mentah dan Dampaknya pada Ketersediaan BBM di Indonesia
Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan tajam akibat konflik yang sedang berlangsung antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Saat ini, harga minyak mentah berjangka Brent mencapai level 83,62 dolar AS per barrel, jauh di atas asumsi APBN 2026 yang mematok harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar 70 dolar AS per barrel.
Selain itu, cadangan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia disebut hanya cukup untuk 20 hari pasca-penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi BBM penting di dunia. Penutupan tersebut dikhawatirkan akan berdampak pada ketersediaan BBM di Indonesia. Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, mengingatkan agar impor tidak dilakukan saat harga minyak mentah mencapai 100 dolar AS per barel, karena hal itu dapat membuat defisit anggaran melampaui 3 persen.
“Sekarang kan baru sekitar 78 dolar AS per barel,” kata Tauhid, Kamis (5/3/2026). Di sisi lain, ia juga menyarankan agar kuota cadangan BBM Indonesia ditambah, idealnya sekitar 1–2 bulan, untuk mengantisipasi terkendalanya jalur distribusi dunia akibat konflik tersebut, termasuk penutupan Selat Hormuz saat ini. Maka, dunia juga akan mengalami kelangkaan kapal-kapal tanker.
Pentingnya Cadangan BBM
Menurut Tauhid, semakin banyak cadangan BBM, semakin baik bagi Indonesia. Cadangan itu tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan, tetapi juga distribusi dan kemampuan keuangan negara. Ia menegaskan bahwa selama situasi tidak memburuk, masyarakat tidak perlu khawatir cadangan BBM Indonesia akan habis dalam waktu sekitar 20 hari. Karena setidaknya sudah ada rencana pengalihan impor ke kawasan yang lebih aman.
Di sisi lain, Tauhid meminta masyarakat tidak perlu khawatir terkait ketersediaan cadangan BBM nasional yang saat ini berada di kisaran 20 hari. Angka tersebut masih dalam batas aman karena pasokan BBM terus dijaga melalui berbagai langkah yang dilakukan oleh BUMN energi. Ia membenarkan pengertian cadangan sekitar 20 hari, yaitu bahwa stok tersebut akan habis jika selama kurun waktu tersebut tidak dilakukan upaya apapun. Namun, Pertamina tentu melakukan langkah-langkah penstabilan pasokan guna menjaga level cadangan.
Regulasi dan Kapasitas Penyimpanan BBM
Level cadangan BBM tersebut sesuai dengan aturan yang berlaku. Dalam laporan bulan Desember 2025, misalnya, Menteri ESDM menyebut sebagian besar jenis BBM di Indonesia berada di atas standar minimum cadangan yang ditetapkan. Contohnya, sekitar 19–31 hari untuk berbagai produk BBM tertentu. Sedangkan Peraturan BPH Migas Nomor 9 Tahun 2020 tentang Penyediaan Cadangan Operasional Bahan Bakar Minyak, menyebut bahwa Pemegang Izin Usaha wajib menyediakan Cadangan Operasional BBM dengan cakupan waktu paling singkat selama 23 hari.
Tauhid menjelaskan bahwa pencadangan adalah seberapa jauh Pemerintah dan Pertamina memiliki dana untuk menyetok. Bukan hanya bahan-bahan, tetapi juga gudangnya, jalur distribusi, pengapalan, dan sebagainya. “Itu artinya, rata-rata kemampuan keuangan kita mencadangkan segitu. Bukan berarti harinya semakin turun, berarti kan dia akan relatif volatilitasnya di angka itu. Kenapa nggak bulanan? Karena kemampuan keuangan kita terbatas. Selain itu, kita adalah negara importir,” jelasnya.
Kesiapan Pemerintah dan Pertamina
Karena itu, Tauhid mendukung berbagai perencanaan pasokan oleh Pertamina. Mulai dari produksi kilang hingga impor energi. Berbagai perencanaan tadi, menurutnya, penting agar cadangan tetap terjaga.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya menjelaskan bahwa cadangan BBM Indonesia yang berada di kisaran 20 hari bukanlah kondisi darurat. Pernyataan itu disampaikan menyusul penutupan Selat Hormuz akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi dunia.
Menurut Bahlil, cadangan sekitar 20 hingga 21 hari memang merupakan standar minimum nasional yang selama ini diterapkan. Ia menjelaskan, keterbatasan kapasitas penyimpanan menjadi salah satu alasan mengapa cadangan BBM Indonesia tidak disimpan lebih lama. Saat ini, kemampuan maksimal storage atau fasilitas penyimpanan BBM di dalam negeri hanya mampu menampung hingga sekitar 25 hari. Karena itu, meskipun pemerintah ingin menyimpan cadangan lebih banyak, kapasitas penyimpanan yang ada belum mencukupi.
Kenaikan Harga BBM Subsidi
Pemerintah memastikan tidak akan ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi dalam waktu dekat, meski situasi geopolitik di Timur Tengah membuat harga minyak mentah dunia bergejolak. BBM subsidi yang dimaksud yakni Pertalite dan Biosolar (solar subsidi). Saat ini harga Pertalite ditetapkan sebesar Rp 10.000 per liter, sementara Biosolar sebesar Rp 6.800 per liter.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, pemerintah tidak akan mengubah harga BBM subsidi setidaknya hingga perayaan Idul Fitri. “Untuk harga BBM subsidi, saya pastikan bahwa sampai dengan Hari Raya tidak ada kenaikan apa-apa. Sekalipun ada terjadi kenaikan harga minyak akibat perang Israel, Amerika, dan Iran,” ujarnya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Namun, untuk BBM non-subsidi, seperti Pertamax dan sejenisnya, Bahlil menjelaskan bahwa penyesuaian harga tetap mengikuti mekanisme pasar sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2022.
Keamanan Pasokan BBM dan Elpiji
Terkait ketersediaan energi, Bahlil menjamin stok BBM hingga elpiji dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Idul Fitri. “Kami sudah mengantisipasi bahwa stok BBM kita untuk menjelang Hari Raya Idul Fitri, insyaallah semua aman, termasuk dengan elpiji. Jadi enggak perlu ada keraguan sekalipun memang terjadi dinamika global di Iran dan Israel,” tegasnya.
Menurut Bahlil, pemerintah akan terus melakukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga secara intensif hingga masa libur Lebaran usai, guna memastikan aktivitas ekonomi nasional dan mobilitas masyarakat berjalan lancar tanpa terkendala. Adapun gejolak global terjadi seiring memanasnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Situasi tersebut memicu fluktuasi harga minyak mentah dunia.











