Keistimewaan Malam Lailatul Qadr dalam Ramadan
Malam Lailatul Qadr adalah salah satu malam yang penuh makna dan keistimewaan dalam bulan suci Ramadan. Meskipun bagi sebagian orang mungkin terasa seperti malam biasa, namun dalam pandangan para ulama hadis, malam ini memiliki keajaiban yang luar biasa.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW memimpin salat jamaah di Baitul Maqdis, Palestina, menjelang mi’raj ke langit, para nabi yang hadir memohon untuk dihidupkan kembali sebagai umat biasa di muka bumi. Mereka ingin tunduk kepada ajaran Islam meskipun hanya sebagai umat biasa. Rahasia di balik permohonan ini ialah keberadaan Lailatul Qadr yang tidak pernah ada sebelum umat Nabi Muhammad. Namun, permohonan itu tidak dikabulkan Tuhan.
Para nabi tersebut melihat pentingnya Lailatul Qadr karena mereka hidup di alam barzah, yaitu bagian dari alam gaib. Mereka menyaksikan betapa sibuknya para malaikat langit turun memberikan fasilitas spiritual kepada manusia. Hal ini juga disebutkan dalam ayat-ayat Al Quran.
Keutamaan Lailatul Qadr dalam bulan Ramadan sangat luar biasa. Dalam ayat:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS al-Qadr/97:4).
Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadr adalah waktu yang penuh makna untuk berkomunikasi aktif dan intensif dengan Allah SWT. Meskipun siang hari Ramadan kita melakukan puasa wajib, tetapi malam hari lebih ditekankan dalam ayat ini.
Karena itu, para sahabat dan para ulama yang memahami rahasia keutamaan malam Ramadan lebih banyak begadang di malam hari. Mereka melakukan berbagai aktivitas ibadah untuk meraih berkah dan kemuliaan Ramadan. Bahkan ada sahabat yang membentangkan tali dari tiang ke tiang agar bisa terus melaksanakan salat-salat sunat meski tubuhnya sudah lemah.
Pada masa turunnya Al Quran, bilangan yang paling tinggi adalah seribu. Jika saat ini ada bilangan triliun, maka mungkin redaksi Al Quran akan menjadi “lebih mulia dari pada setriliun bulan”. Oleh karena itu, ulama tafsir tidak mengartikan kata “alfun” dalam ayat di atas dengan “seribu” tetapi ribuan atau beribu-ribu bulan, bahkan tanpa batas.
Di sini bukan angka yang penting, melainkan kualitas dan intensitas waktu itu. Kita bisa memahami bahwa meskipun malam hari penuh kegelapan, ia juga menjanjikan ketenangan, keteduhan, keakraban, kepasrahan, kerinduan, kehangatan, kesyahduan, dan kekhusyukan.
Sebaiknya kita lebih bersahabat dengan rahasia malam hari agar bisa memperoleh keberkahan hidup yang luar biasa. Alangkah ruginya kita yang menjadi umat Nabi Muhammad SAW tetapi masih menyia-nyiakan dan membiarkan peristiwa dahsyat Lailatul Qadr berlalu begitu saja, tanpa memanfaatkannya sebaik-baiknya untuk menyiapkan bekal hidup akhirat kita.
Jika hidup kita dikaruniai usia panjang misalnya 70 tahun, maka kita akan melewati 70 kali momen Lailatul Qadr. Setelah memotong usia masa anak-anak yang belum mukallaf 15 tahun, usia produktif kita masih ada 55 tahun. Jika dikalikan 1000 bulan, maka jumlah usia produktif kita setara dengan 55.000 bulan atau 4583 tahun.
Inilah kelebihan kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW yang mendapatkan keistimewaan khusus yang tidak diberikan selain kita. Mari kita menjemput kehadiran Lailatul Qadr di dalam jiwa kita masing-masing.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











