Komunitas Badale Memukau Penonton dengan Balon Raksasa di Festival Balon Mirombo
Festival Balon Mirombo 2026 yang digelar di Lapangan Mirombo, Wonosobo pada Rabu (25/3/2026) berlangsung sangat meriah. Berbagai peserta hadir untuk menampilkan kreativitas mereka, namun salah satu kelompok berhasil menyedot perhatian para penonton.
Kelompok tersebut adalah Komunitas Badale dari Pagerotan, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo. Mereka menerbangkan balon raksasa setinggi 21 meter sambil mengenakan kostum koboi unik yang terbuat dari plastik kresek. Diiringi oleh drumben, penampilan mereka memberikan kesan yang luar biasa dan memikat pengunjung.
Atraksi yang Menarik Perhatian
Dari awal penampilan hingga akhir, suara drumben terdengar membahana. Para anggota Komunitas Badale tampil seirama, bergerak mengelilingi balon raksasa yang telah siap diterbangkan. Tidak hanya itu, mereka juga menampilkan aksi teatrikal dengan dua orang anggota bertopeng yang menari-nari, semakin memperkuat nuansa pertunjukan yang spektakuler.
Di sekitar balon, kerja sama antaranggota komunitas terlihat sangat padu. Sebagian pemuda sibuk melakukan pengasapan agar balon bisa mengembang secara maksimal. Sementara itu, anggota lainnya berdiri siaga mencengkeram tali tambang untuk menjaga kontrol balon agar tidak saling berbenturan dengan balon milik peserta lain.
Lantunan musik tidak pernah berhenti selama proses penerbangan berlangsung. Tabuhan drumben dan instrumen pelengkap lainnya membuat suasana festival semakin hidup dan semarak. Ketika balon berhasil mengudara, kerumunan warga langsung merangsek mendekat, antusias meminta foto bersama para anggota komunitas.
Konsep Budaya yang Mendalam
Syaiful, perwakilan Komunitas Badale, menjelaskan bahwa tema balon yang mereka usung berasal dari kisah budaya tradisional Jawa. “Hari ini konsepnya adalah Babad Songgolangit, yang menggambarkan kisah Raja Klono Sewandono dan Dewi Songgolangit dari Ponorogo,” katanya.
Menurut Syaiful, konsep ini memiliki makna filosofis yang dalam, terutama dalam konteks pelestarian kesenian. “Filosofinya adalah menggabarkan kesinian yang berasal dari Jawa, khususnya dari Jawa Timur,” ujarnya.
Proses Pembuatan yang Panjang
Balon yang dipamerkan memiliki dimensi yang sangat besar, dengan diameter 16 meter dan tinggi 21 meter. Untuk menciptakan satu buah balon raksasa, tim Komunitas Badale menghabiskan waktu selama empat bulan. Biaya produksi yang dikeluarkan mencapai Rp6-7 juta, yang berasal dari kantong mereka sendiri.
Biasanya, balon berukuran jumbo ini memiliki masa pakai selama satu tahun dan akan diganti dengan yang baru jika sudah tidak layak terbang. Bagi Komunitas Badale, ajang adu kreasi balon ini bukanlah pengalaman perdana. Mereka sudah beberapa kali ikut serta dalam kegiatan serupa di berbagai penjuru Wonosobo.
Libatkan Puluhan Pemuda
Komunitas ini terdiri dari puluhan pemuda yang mayoritas didominasi oleh generasi muda. “Anggota dari 50 sampai 70 orang,” kata Syaiful. Ia menilai peran aktif generasi muda sangat penting dalam melestarikan warisan budaya lokal.
Selain sebagai bentuk pelestarian budaya, kehadiran Komunitas Badale juga dilandasi oleh niat tulus untuk membantu menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar. “Semangat ikut, ya istilahnya biar untuk menunjung UMKM sekitar dan menaikkan wisata-wisata di daerah Wonosobo juga,” ujarnya.
Konsep yang Selalu Segar
Di setiap penampilannya, Komunitas Badale selalu menyuguhkan konsep yang segar, terutama dalam pemilihan kostum para personel. “Hari ini konsepnya adalah kostum menggunakan koboi,” ujar Syaiful. Untuk penampilan berikutnya, mereka bahkan sudah membocorkan kejutan kostum yang tak kalah seru, yaitu menggunakan kostum warog di daerah Candiyasan, Candimulyo.
Melalui perpaduan visual balon raksasa, lantunan musik, balutan kostum tematik, serta ikatan kebersamaan, Syaiful berharap bisa menjadikan komunitasnya sebagai pelopor wajah baru tradisi balon Wonosobo yang semakin hidup di tangan anak muda.











