Kehidupan Pak Tarno di Balik Keterbatasan
Pak Tarno, seorang pesulap legendaris yang dikenal oleh banyak orang, kini menjalani kehidupan dengan berbagai keterbatasan. Ia mengalami gangguan pada kedua kakinya sehingga tidak bisa berjalan sempurna dan harus menggunakan kursi roda. Meski begitu, ia tetap menunjukkan senyum khas dan semangat dalam menjalani hidup.
Pak Tarno tinggal di sebuah rumah kecil di kawasan padat Jakarta Utara bersama istrinya, Lisa Karlina. Di tengah hiruk pikuk lingkungan Warakas, ia menjalani kehidupan yang penuh perjuangan, meski tak banyak diketahui orang.
Jumat pagi (10/4/2026), suasana di lingkungan tersebut terasa gerah. Deruman motor bersahut-sahutan dengan suara penjual gorengan yang hilir mudik di gang sempit. Di balik itu semua, sebuah rumah kecil bercat kusam menjadi tempat tinggal Pak Tarno dan Lisa Karlina.
Saat ditemui di kediamannya, Pak Tarno tampak menyambut dengan senyum khas yang selama ini dikenal publik. Ia duduk bersila di lantai ruang tamu yang sempit, dikelilingi berbagai peralatan sulap yang sudah tampak usang—seakan menjadi saksi perjalanan panjang kariernya di dunia hiburan.
Beberapa foto terlihat menempel di dinding, memperlihatkan potongan kenangan masa lalu yang penuh warna. Namun di sudut ruangan, terdapat pemandangan yang menyentuh hati. Sebuah kursi roda terlipat rapi di pojok ruangan, menjadi perlengkapan utama bagi Pak Tarno saat ini.
Meski tubuhnya masih tampak tegap, kondisi kedua kakinya kini tak lagi bisa berjalan sempurna. Situasi ini menggambarkan perubahan besar dalam kehidupan Pak Tarno, yang kini harus berjuang menjalani hari-harinya dengan keterbatasan fisik, namun tetap mempertahankan semangat dan senyum khasnya.
Aktivitas Harian yang Penuh Perjuangan
“Ya, saya masih jualan tiap Senin sampai Jumat. Sabtu dan Minggu, saya sulap di Kota Tua,” ujar Pak Tarno, matanya berbinar meski wajahnya tampak lelah. Baginya, sulap bukan sekadar hiburan. Sulap adalah martabat. Di akhir pekan, ia menjadi pesulap dadakan di kawasan Kota Tua. Namun, di hari-hari biasa, ia adalah pedagang mainan yang harus menggerakkan badan dengan keterbatasan.
“Kadang sehari enggak nentu. Ada yang beli, kadang juga enggak ada yang beli,” keluhnya sambil mengusap betis kirinya.
Untuk memenuhi kebutuhan dapur, Pak Tarno lebih memilih bertahan dengan tongkat daripada menggunakan kursi roda yang sudah tersedia. “Paling saya jualan di depan rumah, kadang di sekolah dekat situ, kadang juga saya keliling sampai Kebon Bawang. Pakai tongkat saja biar kuat. Kalau pakai kursi roda… malu ah,” katanya.
Harga diri bukan soal gengsi, baginya, tapi soal bagaimana ia dilihat sebagai laki-laki yang masih bisa berusaha, meski harus berjalan pelan di aspal. Namun di tengah kerasnya hidup, Pak Tarno sering menemukan kebaikan yang tak terduga.


“Kadang ada yang beli barang harganya cuma 20 ribu, bayarnya pakai uang 50 ribu. Saya mau kasih kembalian 30 ribu, eh gak mau. ‘Buat Pak Tarno aja’ katanya,” cerita Pak Tarno dengan suara yang tak terdengar dengan jelas. “Saya cuma bisa bilang terima kasih dan mendoakan mereka.”
Di sudut ruangan, Ibu Lisa Karlina ikut menyela. Sebagai istri, ia tak tinggal diam. “Iya, saya masih kerja. Kerja apa saja, yang penting buat makan,” ujar Lisa sambil sesekali melirik suaminya. Ia mengakui, meski kondisi fisik suaminya terbatas dan penghasilan kadang hanya cukup untuk beli beras dua kilogram, ia tak pernah berpikir untuk berhenti berusaha.
“Yang penting buat makan, Pak. Walaupun kondisi begini, perut mah gak bisa boong,” tegasnya.
Pukul sepuluh pagi, Pak Tarno merangkak mengambil tongkatnya. Hari ini ia harus ke SDN Warakas 03 untuk berjualan mainan anak-anak. Ibu Lisa membantu memasukkan dagangan ke dalam kardus bekas. Mereka tak banyak menuntut. Tak ada keluhan soal bantuan dari pemerintah atau kelimpahan harta. Yang mereka punya adalah rutinitas: Senin-Jumat jualan, Sabtu-Minggu sulap. Lelah, kadang putus asa, tapi tetap bangun di pagi hari.











