Ketersediaan Nafta yang Mengalir dari Berbagai Negara
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyampaikan bahwa Indonesia telah menerima pasokan baru nafta dari beberapa negara, termasuk India dan Amerika Serikat (AS). Kedatangan pasokan tersebut diharapkan dapat mengatasi kelangkaan bahan baku plastik di dalam negeri yang terjadi sejak perang Iran meletus pada akhir Februari lalu.
Nafta merupakan produk sampingan dari proses penyulingan minyak bumi mentah dengan titik didih antara 30°C hingga 200°C. Nafta menjadi bahan baku penting dalam pembuatan plastik, resin, serat sintetis, serta berbagai bahan kimia industri lainnya.
Beberapa hasil senyawa kimia dari nafta meliputi etilena yang digunakan dalam produksi kantong plastik dan kosmetik. Benzena digunakan untuk membuat nilon dan sterofoam, sedangkan paraxylene digunakan dalam pembuatan botol minum (Polyethylene Terephthalate) dan PVC (Polyvinyl Chloride).
“Kami impor nafta untuk bahan bijih plastik dari Timur Tengah, saat ini sudah ada alternatif pasokan dari India, Afrika, dan Amerika,” ujar Budi saat ditemui di JIEXPO Kemayoran, Kamis (16/4).
Target Harga Plastik Turun Bulan Ini
Dalam rangka menurunkan harga plastik, pemerintah memiliki target untuk menurunkan harga plastik dalam bulan ini. Hal ini dilakukan karena kenaikan harga plastik telah memengaruhi sektor ekonomi lainnya, terutama sektor industri kemasan.
Sebelumnya, sejumlah pengusaha kemasan mencari alternatif pasokan bahan baku dari berbagai negara, termasuk Cina. Namun, krisis bahan baku plastik tetap menjadi tantangan besar bagi industri ini.
Kelangkaan Pasokan Nafta dan Dampaknya
Kelangkaan pasokan nafta menyebabkan kenaikan harga plastik di Indonesia. Mayoritas atau 54% pasokan nafta Asia disuplai dari Timur Tengah, utamanya dari Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait.
Di Indonesia, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), sebuah perusahaan petrokimia besar, mengumumkan force majeure pada awal Maret karena menghadapi kelangkaan bahan baku nafta.
“Memang (pasokan alternatif ini) masih dalam perjalanan, tetapi industri kita terus jalan ya,” ujar Mendag Budi Santoso.
Pencarian Alternatif LPG sebagai Bahan Baku
Selain mencari pasokan nafta, Indonesia juga akan mencari stok LPG yang digunakan sebagai bahan baku pengganti nafta untuk menghasilkan bijih plastik. Menurut Budi, pencarian pasokan LPG ini berasal dari kawasan Eurasia, yakni negara-negara di sekitar Rusia.
“Kami sudah coba melakukan pendekatan, mudah-mudahan segera selesai krisis ini. Jadi harga plastik juga bisa segera teratasi,” ucapnya.
Dampak Kenaikan Harga Plastik pada Sektor Ekonomi
Budi menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik akan berdampak pada sektor ekonomi lainnya, karena plastik secara masif digunakan sebagai kemasan atau alat pembungkus.
Asosiasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia (Akumindo) mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik mulai dirasakan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kondisi ini memaksa para penjual untuk menahan kenaikan harga jual sekaligus memangkas margin keuntungan demi menjaga daya beli konsumen.
Sekretaris Jenderal Akumindo, Edy Misero, mengatakan bahwa plastik merupakan kebutuhan yang tidak terpisahkan dari aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, gangguan pasokan maupun kenaikan harga bahan baku plastik akan berdampak luas ke berbagai sektor usaha.
“Plastik itu sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Jadi apapun pergerakannya, termasuk kesulitan impor biji plastik, pasti berdampak terhadap kebutuhan di dalam negeri,” ujar Edy.
Strategi UMKM dalam Menghadapi Kenaikan Harga
Namun di tengah tekanan tersebut, banyak pelaku UMKM memilih tidak serta-merta menaikkan harga jual. Mereka justru menahan harga dan mengurangi margin keuntungan agar tetap kompetitif di pasar.
“Salah satu alternatifnya, menaikkan harga seminimal mungkin. Kedua, mengurangi margin profit (keuntungan). Misalnya dari 15% menjadi 10%, selisihnya dipakai untuk menutup kenaikan biaya plastik,” kata Edy.











