Ambisi Pemerantah untuk Pariwisata Bangka Selatan Menghadapi Tantangan
TOBOALI –
Ambisi pemerintah pusat terhadap Kabupaten Bangka Selatan dalam menjadikan sektor pariwisata sebagai motor penggerak ekonomi daerah kini menghadapi jalan yang tidak mudah. Di tengah upaya memperbaiki destinasi wisata lokal, ancaman ekspansi tambak udang yang semakin masif justru menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan ekosistem wisata.
Titik-titik vital pariwisata dan area produktif warga mulai terkepung oleh aktivitas tambak. Mulai dari wilayah Merbau, kawasan persawahan Desa Rias, hingga destinasi populer seperti Tanjung Ru di Desa Sadai, Desa Tukak, dan Tanjung Kerasak. Kehadiran tambak ini menciptakan dilema besar. Di satu sisi, tambak dijanjikan sebagai pendongkrak ekonomi, namun di sisi lain, ruang lingkup masyarakat untuk menikmati keindahan alam semakin menyempit.
Program pemerintah untuk mendongkrak ekonomi melalui jalur wisata pun kini terasa seperti mimpi jika tidak dibarengi dengan regulasi tata ruang yang ketat.
Pariwisata yang Kian Terhimpit
Pariwisata berbasis alam sangat bergantung pada kebersihan dan estetika. Namun, warga dan pelaku wisata mulai mengeluhkan berkurangnya aksesibilitas dan hilangnya nilai estetika pantai akibat pembangunan kolam-kolam tambak yang terlalu dekat dengan bibir pantai atau area publik.
Bukan hanya soal pemandangan, masalah utama yang menjadi bom waktu adalah pengelolaan limbah. Tanpa sistem pengolahan limbah (IPAL) yang standar, kejernihan air laut Bangka Selatan yang selama ini menjadi daya tarik berada dalam ancaman serius.
Bahaya Tersembunyi: Apa Dampak Limbah Tambak Udang bagi Laut Kita?
Banyak yang bertanya, mengapa limbah tambak begitu ditakuti? Padahal yang dipelihara adalah makhluk hidup. Secara ilmiah, limbah tambak udang mengandung bahan organik tinggi yang jika dibuang langsung ke laut akan menimbulkan efek domino yang merusak:
-
Eutrofikasi (Ledakan Alga):
Sisa pakan dan kotoran udang kaya akan nitrogen dan fosfor. Hal ini menyebabkan populasi alga meledak secara tidak terkendali, yang akhirnya menghalangi sinar matahari masuk ke dasar laut. -
Penurunan Kadar Oksigen:
Saat alga-alga tersebut mati, proses pembusukannya menyedot oksigen di dalam air. Akibatnya, ikan-ikan lokal dan terumbu karang bisa mati massal karena “sesak napas” (Anoxia). -
Pendangkalan dan Bau Tak Sedap:
Endapan limbah organik akan menciptakan lumpur hitam yang berbau busuk. Hal ini tentu menghancurkan pengalaman wisatawan yang ingin berenang atau bersantai di tepi pantai. -
Pencemaran Bakteri dan Kimia:
Penggunaan antibiotik atau bahan kimia tertentu dalam proses budidaya yang tidak terfilter dengan baik dapat mengganggu keseimbangan mikroba alami di laut, yang berisiko pada kesehatan manusia dan biota laut lainnya.
Butuh Ketegasan Tata Ruang
Jika pemerintah serius ingin menjadikan pariwisata sebagai masa depan Bangka Selatan, maka harmonisasi antara industri budidaya dan pelestarian lingkungan adalah harga mati. Masyarakat berharap adanya pengawasan ketat terhadap izin lokasi tambak agar tidak mencaplok wilayah wisata yang sudah ada.
Tanpa langkah tegas, keindahan Tanjung Kerasak hingga hijaunya persawahan Desa Rias hanya akan menjadi cerita masa lalu yang kalah oleh deru kincir tambak dan aroma limbah yang menyengat.











