"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP yang Klarifikasi Usai Viral Soal Kelelahan Jadi WNI

Kontroversi Pernyataan Dwi Sasetyaningtyas dan Responsnya

Sebuah video yang diunggah oleh Dwi Sasetyaningtyas, atau lebih dikenal dengan nama Tyas, menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Dalam video tersebut, ia memperlihatkan paspor Inggris milik anaknya dan menyampaikan kebahagiaannya atas kepemilikan paspor tersebut. Ia juga menyebut ingin anak-anaknya memiliki “paspor kuat WNA”. Perkataan ini kemudian menimbulkan reaksi keras dari warganet yang merasa pernyataannya merendahkan identitas sebagai Warga Negara Indonesia (WNI), terlebih mengingat ia adalah alumni beasiswa LPDP.

Dwi merupakan lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) yang kemudian melanjutkan studi S2 Sustainable Energy Technology di Delft University of Technology melalui beasiswa LPDP pada 2015–2017. Setelah lulus, ia bekerja di Procter & Gamble (P&G) sebagai Customer Business Development Manager sebelum mendirikan Sustaination, sebuah social enterprise yang berfokus pada produk ramah lingkungan dan dukungan UMKM, serta Sustaination Institute pada 2020 untuk riset dan edukasi keberlanjutan.

Kontroversi bermula ketika video tersebut diunggah dan langsung menarik perhatian publik. Meski akhirnya dihapus, rekamannya telah tersebar luas dan memicu perdebatan di media sosial. Banyak yang mempertanyakan komitmen nasionalisme seorang penerima beasiswa negara yang dibiayai dari dana publik.

Permintaan Maaf Terbuka dari Dwi Sasetyaningtyas

Menanggapi polemik tersebut, Dwi menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ia mengaku pernyataannya dilatarbelakangi rasa lelah dan kecewa terhadap kondisi yang ia rasakan sebagai WNI, namun menyadari penyampaiannya tidak tepat. Dalam pernyataannya, ia menjelaskan bahwa:

  • “Saya meminta maaf atas pernyataan saya yang menimbulkan kegaduhan dan melukai perasaan banyak pihak. Tidak ada sedikit pun niat saya untuk merendahkan bangsa sendiri. Saya bangga menjadi WNI.”
  • “Pernyataan tersebut lahir sepenuhnya dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi saya sebagai Warga Negara Indonesia terhadap berbagai kondisi yang saya rasakan.”
  • “Namun, saya menyadari bahwa kekecewaan tersebut tidak seharusnya disampaikan dengan cara yang berpotensi melukai perasaan banyak orang, terlebih berkaitan dengan identitas kebangsaan yang kita junjung bersama.”
  • “Saya menyadari sepenuhnya bahwa kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai Warga Negara Indonesia.”

Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut. Ia mengakui kesalahan dalam pemilihan kata dan menyampaikannya di ruang publik. Ia juga menyatakan bahwa apa pun latar belakang emosi yang melatarinya, dampak dari pernyataan tersebut tetap menjadi tanggung jawabnya sepenuhnya.

Komentar dan Tanggapan Publik

Dwi menyatakan bahwa ia mencintai Indonesia, dengan segala harapan dan tantangannya, dan semoga bisa terus berkontribusi untuk Indonesia hari ini dan di masa depan. Ia juga berharap di bulan suci Ramadan ini, kita bisa saling menata hati, memperbaiki diri, dan fokus menjalankan ibadah sepenuh hati.

Selain itu, Dwi menegaskan bahwa ia telah memenuhi kewajiban sebagai alumni LPDP dengan berkontribusi di Indonesia pada periode 2017–2023. Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak LPDP terkait polemik tersebut.

Aktivitas Sosial dan Lingkungan Dwi Sasetyaningtyas

Dwi tidak hanya aktif dalam bidang bisnis dan pendidikan, tetapi juga dalam berbagai kegiatan sosial dan lingkungan. Ia terlibat dalam pengelolaan sampah, energi surya, penanaman mangrove, hingga pemberdayaan ibu rumah tangga. Aktivitasnya ini menunjukkan komitmennya terhadap keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat.

Kesimpulan

Peristiwa ini menunjukkan pentingnya komunikasi yang bijaksana dan bertanggung jawab, terutama bagi individu yang memiliki pengaruh di masyarakat. Dwi Sasetyaningtyas telah memberikan respons yang cukup jelas dan tulus, meskipun masih ada pertanyaan tentang bagaimana kejadian ini bisa terjadi. Dengan permintaan maaf yang disampaikan, ia berharap bisa kembali membangun kepercayaan publik dan terus berkontribusi positif untuk bangsa.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *