"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Iran Tutup Selat Hormuz, AS Khawatirkan Cadangan Minyak Strategis

Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengambil langkah strategis untuk menangani kenaikan harga bensin yang signifikan di dalam negeri. Langkah tersebut melibatkan penggunaan Cadangan Minyak Strategis (SPR) guna menjaga stabilitas pasokan dan harga minyak global. Hal ini dilakukan akibat konflik antara AS dengan Iran, yang berdampak pada ketidakstabilan pasar minyak dunia.

Kenaikan Harga Bensin di AS

Kenaikan harga bensin di AS disebabkan oleh naiknya harga minyak mentah di pasar internasional. Peristiwa ini dipicu oleh gangguan lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz setelah AS dan Israel melakukan serangan udara ke Iran pada 28 Februari. Iran juga terus mengancam kapal-kapal asing yang melewati jalur utama ekspor minyak tersebut.

Akibat dari situasi ini, harga minyak dunia sempat mencapai lebih dari US$ 100 per barel. Meskipun harga sedikit turun setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa perang akan segera berakhir, kondisi tetap memprihatinkan bagi pasar minyak.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran

Iran dikabarkan menutup Selat Hormuz sebagai bagian dari strategi untuk menekan musuh-musuhnya. Pernyataan ini memicu kekhawatiran tentang kemungkinan kenaikan harga minyak hingga US$ 200 per barel. Beberapa kapal asing telah diledakkan oleh Iran di Teluk Persia, sehingga meningkatkan ketegangan di kawasan ini.

Tanggapan Pemerintah AS

Menteri Energi AS Chris Wright sempat mengunggah informasi bahwa militer AS akan melindungi kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Namun, unggahan ini segera dihapus dalam waktu 30 menit. Gedung Putih kemudian menegaskan bahwa informasi tersebut adalah berita palsu.

Pemerintah Iran menilai bahwa penghapusan unggahan tersebut merupakan upaya disinformasi yang dirancang untuk memicu kenaikan harga minyak global. Mereka mengklaim bahwa tindakan ini tidak akan mencegah inflasi yang telah mereka timbulkan kepada rakyat Amerika.

Penggunaan Cadangan Minyak Strategis

Setelah berbagai upaya gagal, pemerintah AS akhirnya memutuskan untuk menguras Cadangan Minyak Strategis. Sebanyak 172 juta barel minyak akan dilepaskan mulai minggu depan. Proses ini akan memakan waktu sekitar 120 hari sesuai laju pelepasan yang direncanakan.

Selain AS, 32 negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) juga terlibat dalam upaya besar-besaran untuk menyuntikkan total 400 juta barel ke pasar global. IEA menyatakan bahwa konflik saat ini menandai “gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.”

Cadangan Minyak AS dan Global

Cadangan minyak AS terletak di gua-gua bawah tanah yang luas di Texas dan Louisiana, dengan jumlah sekitar 415 juta barel. Dalam skala yang lebih luas, negara-negara anggota IEA memiliki cadangan kolektif yang melebihi 1,2 miliar barel.

Pelepasan cadangan minyak ini bertujuan untuk menurunkan harga minyak. Namun, pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap akan ditutup. Akibatnya, harga minyak kembali naik.

Prediksi Harga Minyak

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan dunia bahwa harga minyak bisa mencapai US$ 200 per barel jika Selat Hormuz tetap tertutup. Lebih dari 20% minyak dunia melewati selat ini, sehingga penutupannya sangat berdampak pada pasokan global.

Mantan ekonom IMF, Olivier Blanchard, mengatakan defisit pasokan, dikombinasikan dengan elastisitas permintaan minyak yang rendah, dapat membuat harga minyak mendekati US$ 150 atau bahkan US$ 200 per barel.

Alasan Kenaikan Harga Minyak

Ada dua alasan utama di balik prediksi ini. Pertama, melindungi kapal sepenuhnya di Selat Hormuz hampir mustahil, dan tidak ada alasan bagi Iran untuk berhenti mengancam kapal di selat tersebut.

Kedua, pasar tidak lagi dapat bergantung pada TACO (Trump Always Chickens Out), karena Presiden AS tidak dapat memutuskan sendiri bagaimana konflik akan berakhir. TACO menggambarkan gagasan bahwa presiden cenderung mengubah arah atau menarik kembali kebijakan yang mengganggu pasar.

Marko Kolanovic, mantan kepala analis kuantitatif di JPMorgan, menyatakan bahwa tidak ada solusi TACO Trump untuk Wall Street, karena harga minyak melonjak akibat perang. Ia merujuk pada pernyataan Trump yang mengatakan perang akan segera berakhir, namun Iran ternyata terus membalas serangan.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *