"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Langkah Besar Dedi Mulyadi: Rekrutmen Lulusan SD Jadi Tenaga Teknis

Visi Kepemimpinan yang Berbeda

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa visi kepemimpinannya tidak konvensional. Ia menekankan pentingnya kerja nyata di lapangan dan memastikan bahwa pembangunan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Dalam pidatonya, ia menyampaikan bahwa pemerintah harus lebih efisien dengan prinsip “sedikit yang menyuruh, banyak yang bekerja.”

Dedi Mulyadi juga mengkritik tenaga kerja pemerintah yang terlalu kaku dan terpaku pada gelar daripada teknis lapangan. Hal ini membuatnya kembali membuat gebrakan baru untuk berencana memprioritaskan rekrutmen tamatan SD menjadi tenaga teknis lapangan.

Filosofi “Pokpek Trak”

Dedi Mulyadi melabeli dirinya sebagai Gubernur Pinggiran. Ia ingin menjadi Gubernur yang keluar dari sekat-sekat kantor dan lebih memilih hadir di pinggir kali, pantai, hingga hutan demi menyerap kebutuhan riil masyarakat. Ia menyebut komitmennya itu sebagaimana filosofi Manajemen Sunda “Pokpek Trak”, yaitu kerja nyata di atas kata-kata.

Dalam hal ini, Dedi Mulyadi mendorong untuk lebih mengutamakan pekerjaan teknis daripada sekadar diskusi akademis yang imajinatif. Ia pun mencontohkan strategi pengembangan pariwisata di Jawa Barat. Ia menekankan bahwa rakyat tidak butuh kajian pariwisata yang bertele-tele, melainkan penataan kawasan yang estetik dengan ikon lokal seperti penggunaan injuk agar mampu menarik wisatawan domestik secara masif.

Menurutnya strategi tersebut terbukti membuahkan hasil unik, di mana rakyat kini berperan menjadi “agen promosi” gratis melalui media sosial. “Hari ini pemda tidak mengeluarkan duit untuk menceritakan keberhasilan pembangunan, tetapi rakyat yang menceritakannya dan mereka mendapatkan penghasilan sebagai content creator,” ungkapnya.

Rekrutmen Tenaga Lapangan Lebih Dibutuhkan daripada Gelar

Salah satu poin paling mengejutkan adalah rencana Dedi Mulyadi soal rekrutmen tenaga teknis pada tahun 2026-2027. Ia menyoroti kebutuhan pemerintah yang seharusnya memprioritaskan tenaga teknis lapangan. Ia pun mencontohkan Jawa Barat mendapat berkah alam yang selama 4 tahun terakhir tidak ada kemarau panjang, sehingga pengelolaan saluran air atau irigasi sangat diperlukan.

Namun, Dedi Mulyadi menyayangkan bahwa pengelolaan irigasi itu kini telah kehilangan ‘kalcer’. Menurutnya saat ini para tukang di lapangan tak lagi digunakan karena pemerintah lebih terpaku ada standar pendidikan. Padahal kata Dedi Mulyadi, para tukang pengelola irigasi tersebut meski hanya tamatan SD bisa bekerja baik dan sangat diandalkan.

Kini tenaga kerja yang banyak direkrut terpaku pada stratifikasi pendidikan seperti lulusan SMA hingga S1, namun kinerjanya hanya berupa laporan foto ke atasan tanpa terjun langsung ke lapangan. Gubernur Jabar itu blak-blakan menyatakan bahwa pemerintah terlalu terjebak pada stratifikasi pendidikan (S1-S3) sehingga mengabaikan urusan teknis di lapangan.

“Kita memiliki banyak doktor di kantor, tapi tidak ada yang bisa memperbaiki lampu jalan (PJU),” ujar Dedi Mulyadi. Untuk itu, Dedi Mulyadi mengusulkan pembentukan Divisi Kebersihan dan Infrastruktur yang tidak mensyaratkan ijazah sekolah, bahkan bagi mereka yang tidak lulus SD, selama memiliki keterampilan dan kemauan untuk bekerja nyata seperti menyapu jalan atau mengelas.

Nantinya para tenaga teknis lapangan ini dijanjikan gaji yang layak, yakni sekitar Rp4,2 juta per bulan, demi menjamin kesejahteraan mereka. “Jadi saya ingin rekrutmen 2026-2027 dengan jumlah besar, tapi inginnya tenaga yang dibutuhkan di lapangan untuk efisiensi,” ujar Dedi Mulyadi.

Perubahan dalam Manajemen Pemerintahan

Dedi Mulyadi mengungkap kebijakan tersebut nantinya akan berdampak pada manajemen kinerja di Pemprov Jabar. Ia ingin tenaga substansi sedikit dan tenaga teknis lapangan yang diperbanyak. “Jadi nanti di manajemen itu harus sedikit yang nyuruh banyak yang kerja,” ujarnya.

Dedi pun mencontohkan terkait pemeliharaan jalan yang selama ini ditangani kontraktor yang cenderung lebih panjang prosesnya. Ia mengusulkan agar pemeliharaan jalan rutin pun dapat ditangani tenaga teknis lapangan.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *