Perundingan Damai di Islamabad: Kekhawatiran dan Ketidakpercayaan yang Menghiasi
Perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang akan berlangsung di Islamabad, Pakistan, menimbulkan banyak spekulasi dan kekhawatiran. Dalam beberapa bulan terakhir, kedua belah pihak telah mengirimkan delegasi tingkat tinggi untuk memulai pembicaraan. Namun, sejumlah pihak memprediksi bahwa perundingan ini akan berjalan alot karena adanya ketidakpercayaan yang dalam.
Iran khususnya tampak waspada terhadap kemungkinan adanya “operasi tipu daya” yang mungkin dilakukan oleh AS. Hal ini didasarkan pada pengalaman masa lalu, khususnya selama masa pemerintahan Donald Trump. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa Teheran datang dengan niat baik dan siap mencapai kesepakatan. Namun, ia juga memberikan catatan penting mengenai rekam jejak diplomasi AS yang dinilai tidak dapat dipercaya.
“Pengalaman kami bernegosiasi dengan Amerika selalu disertai kegagalan dan pelanggaran komitmen,” ujar Ghalibaf saat tiba di Islamabad, seperti dikutip oleh NBC News. Ia menambahkan bahwa dalam dua kali dalam kurang dari setahun, AS justru menyerang Iran di tengah proses negosiasi.
Ghalibaf memperingatkan bahwa jika Washington menjadikan negosiasi ini sebagai “operasi tipu daya”, Iran siap menempuh jalur lain untuk mempertahankan hak nasionalnya. Ia menegaskan bahwa meskipun Iran memiliki niat baik, mereka sama sekali tidak memiliki kepercayaan terhadap AS.
Isu Krusial: Kendali Selat Hormuz
Salah satu isu utama yang diyakini akan menjadi hambatan dalam perundingan ini adalah perbedaan pandangan mengenai kendali Selat Hormuz. Jalur perdagangan minyak paling vital di dunia ini menjadi ajang “adu urat saraf” antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Dalam sebuah pesan yang menandai 40 hari wafatnya martir Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Iran akan membawa pengelolaan Selat Hormuz ke fase baru. Iran menuntut ganti rugi penuh atas kerusakan perang, biaya pemulihan korban luka, serta uang darah (diyat) bagi para martir.
“Kami tidak mencari perang, tapi kami tidak akan melepaskan hak-hak sah kami. Seluruh Front Perlawanan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan,” tegas Mojtaba.
Di sisi lain, Donald Trump menunjukkan sikap keras kepala yang serupa. Sebelum menaiki Air Force One, Trump menyatakan bahwa AS tidak akan membiarkan Iran menarik biaya masuk di Selat Hormuz. “Itu adalah perairan internasional. Jika mereka melakukannya, kami tidak akan membiarkannya terjadi,” cetus Trump.
Meski mengakui perundingan ini tidak akan mudah, Trump tetap percaya diri bahwa selat tersebut akan terbuka secara otomatis demi kepentingan ekonomi semua pihak tanpa perlu rencana cadangan.
Tim Negosiasi AS Siap Bertemu Delegasi Iran
Saat ini, tim negosiasi AS yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, Steve Witkoff, dan Jared Kushner telah bersiap untuk bertemu dengan delegasi Iran di Islamabad. Meski demikian, persiapan ini tidak mengurangi kekhawatiran yang ada di antara pihak-pihak yang terlibat.
Perundingan ini diharapkan bisa menjadi langkah awal menuju perdamaian yang lebih stabil. Namun, dengan segala ketidakpastian dan ketidakpercayaan yang ada, proses ini akan sangat menantang. Masa depan hubungan antara Iran dan AS akan bergantung pada seberapa besar kemampuan kedua belah pihak untuk membangun kepercayaan dan menyelesaikan masalah-masalah krusial yang masih ada.











