"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Antara Jalan dan Kenangan: Kisah Maba Menuju Bandung

Perjalanan Jauh, Langkah Kecil Menuju Mandiri

Pagi itu, Jakarta belum sepenuhnya ramai. Udara lembab, langit masih abu-abu, dan di depan rumah kecil di kawasan Cakung, seorang pemuda tampak memeriksa motornya berulang kali. Helm hitam tergantung di setang, ransel besar di punggungnya. Namanya Adil (20), mahasiswa baru di salah satu universitas islam negri. Hari itu, ia memutuskan melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan seumur hidup: perjalanan jauh sendirian naik motor matic menuju kota kuliahnya.

Kilometer Nol: Langkah Tanpa Ayah

Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi. Ibunya berdiri di depan pagar, menatap dengan mata berkaca-kaca. “Jalan pelan-pelan, ya. Jangan lupa istirahat kalau capek,” pesannya lembut. Adil hanya bisa mengangguk, menyalakan mesin motornya. Suara starter matic itu seolah menjadi tanda keberangkatan — sekaligus pengingat tentang sosok yang tak lagi ada. Sejak ayahnya meninggal delapan tahun lalu, motor itulah peninggalan yang paling sering ia rawat.

“Kalau Bapak masih ada, mungkin beliau yang nganter aku ke Bandung,” katanya pelan. “Sekarang, aku harus bisa jalan sendiri.”

Bekasi–Purwakarta: Jalan Panjang Menuju Mandiri

Begitu meninggalkan Jakarta Timur, jalanan mulai padat. Adil melaju perlahan melewati Bekasi, menembus deretan truk dan mobil industri. Di kilometer 40, udara mulai berubah: lebih terbuka, lebih bebas. Ia mulai tersenyum di balik helm. “Ini pertama kalinya aku sejauh ini sendirian,” gumamnya. “Aneh, tapi seru.”

Memasuki Purwakarta, suasana benar-benar berbeda. Bukit-bukit hijau membentang, udara lebih segar, dan jalan mulai berliku. Di salah satu tanjakan, motornya sedikit kehilangan tenaga. Ia berhenti di pinggir jalan, meneguk air, dan menatap pemandangan Waduk Jatiluhur dari kejauhan. “Capek, tapi bahagia,” katanya sambil mengambil napas panjang. “Kayak baru bener-bener ngerasain hidup.”

Warung di Tepi Jalan dan Nasihat dari Orang Asing

Menjelang siang, Adil berhenti di sebuah warung kecil di tepi jalan Purwakarta. Seorang bapak tua sedang menyiapkan kopi hitam sambil menatap jalan. “Dari mana, Nak?” tanya si bapak. “Dari Jakarta, Pak. Mau kuliah di Bandung.” “Sendirian?” Adil mengangguk. “Berani juga kamu,” kata si bapak sambil tersenyum. “Jalan jauh itu kayak hidup, Nak. Kadang nanjak, kadang turunan. Yang penting, jangan takut buat terus maju.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi bagi Adil, terasa seperti nasihat dari seorang ayah yang lama hilang. Ia diam sejenak, menatap secangkir kopi panas, dan merasa dadanya hangat oleh sesuatu yang lebih dari kafein.

Turun Menuju Bandung: Antara Takut dan Kagum

Selepas Purwakarta, jalan mulai menurun ke arah Padalarang. Angin mulai dingin, langit lebih cerah. Dari kejauhan, pegunungan Bandung terlihat samar di balik kabut tipis. Di hedset kecil yang terpasang di kupingnya, lagu “Perjalanan Panjang” dari Sheila On 7 terdengar pelan-menemani setiap tikungan. “Pas mulai turun ke arah Bandung, itu rasanya kayak lihat masa depan dari kejauhan,” ujarnya sambil tertawa kecil. Ia sempat berhenti di rest area kecil untuk memotret pemandangan. Di bawah sana, kota Bandung tampak seperti permadani hijau dengan bintik-bintik atap rumah. “Bapak, aku nyampe juga,” bisiknya pelan.

Sampai di Bandung: Lelah yang Menjadi Doa

Menjelang sore, plang bertuliskan “Selamat Datang di Kota Bandung” akhirnya muncul di depan mata. Adil menepikan motornya dan memandangi tulisan itu lama-lama. Perjalanan lebih dari lima jam itu akhirnya berakhir. Di kos barunya di kawasan Cipadung, ia duduk di teras, membuka jaket, dan menelpon ibunya. “Bu, udah nyampe.” Suara di seberang terdengar lega. “Alhamdulillah, nak. Bapak pasti bangga lihat kamu bisa sampai sejauh ini.” Kata-kata itu membuat tenggorokannya tercekat. Ia hanya menjawab lirih, “Iya, Bu. Aku juga ngerasa begitu.”

Perjalanan yang Mengubah Cara Pandang

Menurut Dr. Euis Rakhmawati, dosen psikologi pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia, perjalanan semacam ini punya makna emosional mendalam bagi mahasiswa baru. “Ketika seseorang melakukan perjalanan jauh sendirian, apalagi untuk tujuan hidup baru, itu bukan sekadar perpindahan tempat. Itu simbol kemandirian, keberanian, dan penerimaan atas kehilangan,” ujarnya (Bandungbergerak.id, 2024). Adil menyadari hal itu. Bahwa perjalanan dari Jakarta ke Bandung bukan hanya soal jarak, tapi tentang bagaimana ia belajar menggantikan rasa takut dengan keberanian, dan kerinduan dengan semangat baru.

Epilog: Jalan yang Menjadi Doa

Beberapa hari kemudian, saat perkuliahan perdana, Adil tiba di kampus lebih awal. Di parkiran, ia menatap motornya -motor peninggalan ayah yang kini menempuh ratusan kilometer bersamanya. “Dulu, aku sering takut kehilangan arah,” katanya pelan. “Tapi ternyata, kehilangan bisa juga jadi arah.” Setiap kali pulang ke Jakarta, ia selalu memilih jalur yang sama: Jakarta–Bekasi–Purwakarta–Bandung. Jalur yang dulu membuatnya canggung kini menjadi teman perjalanan. Di setiap tikungan, di setiap tanjakan, ada kenangan dan pelajaran baru yang menemaninya tumbuh. Dan di setiap gas motor yang ia tarik, seolah terdengar suara ayahnya yang dulu sering berkata, “Jalan pelan, tapi jangan pernah berhenti.”

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *