Kelompok Desa Prima Mutiara Selatan Mengelola Sampah Plastik sebagai Peluang Ekonomi
Di kawasan wisata Parangtritis, kelompok Desa Prima Mutiara Selatan menunjukkan cara unik dalam mengelola sampah plastik. Ibu-ibu yang sebagian besar berjualan di Pantai Parangtritis dan Depok ini melihat sampah plastik bukan hanya sebagai masalah lingkungan, tetapi juga sebagai peluang ekonomi. Mereka menjadikan pengelolaan sampah sebagai salah satu sumber pendapatan yang bisa meningkatkan kesejahteraan.
Permasalahan Sampah Plastik di Kawasan Wisata
Pantai Parangtritis dan Depok merupakan destinasi wisata yang ramai dikunjungi oleh banyak wisatawan. Namun, tingginya jumlah pengunjung juga berdampak pada meningkatnya volume sampah plastik. Hal ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat setempat, terutama para ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.
Khawatir akan dampak negatif dari sampah plastik, mereka kemudian berinisiatif untuk melakukan pengelolaan sampah secara mandiri. Tidak hanya untuk menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga untuk menciptakan tambahan pemasukan.
“Awalnya kita hanya melihat banyak sampah di Parangtritis yang begitu melimpah. Jika tidak ditangani secara serius, bisa membawa dampak yang kurang baik. Maka dari itu, kami berusaha menjadi pengelola sampah. Lingkungan menjadi bersih dan menjadi tambahan pemasukan,” ujar Suwarni, anggota kelompok Desa Prima Mutiara Selatan.
Bantuan Dana Keistimewaan Meningkatkan Pendapatan
Kelompok ini beranggotakan lebih dari 30 ibu-ibu, namun khusus pengelolaan sampah diampu oleh tujuh orang. Dengan bantuan Dana Keistimewaan, kelompok ini mendapatkan alat seperti keranjang sampah, drop box sampah, dan alat pencacah sampah. Sebelumnya, mereka hanya memilah sampah dari drop box maupun nasabah, lalu menjualnya.
Setelah memiliki mesin pencacahan, proses pengelolaan sampah semakin efisien. Harga jual plastik pun meningkat karena sudah dicacah terlebih dahulu.
“Kalau sebelum ada mesin pencacah, langsung jual. Harganya lebih tinggi setelah dicacah,” tambah Suwarni.
Pemberdayaan Perempuan Berbasis Kalurahan
Mutiara Selatan merupakan salah satu dari ratusan kelompok desa prima di DIY. Program ini bertujuan memberdayakan perempuan rentan melalui kerja kelompok berbasis kalurahan dan kolaborasi antar komunitas.
Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY, Rofiqoh Widiastuti menjelaskan bahwa kelompok desa prima tersebar di 169 kalurahan dan kelurahan di DIY. Meski menginduk pada satu kelompok, anggota dan program kerja bisa berkembang sesuai potensi dan kesepakatan kelompok.
Pendekatan ekonomi secara berkelompok menjadi upaya agar perempuan di DIY berdaya. Terlebih anggota kelompok desa prima adalah perempuan rentan, seperti dari kelompok miskin, penyintas kekerasan, eks warga binaan, maupun memiliki keluarga ODGJ.
Kolaborasi dan Pendampingan untuk Pertumbuhan Kelompok
DP3AP2 DIY tidak hanya membentuk kelompok, tetapi juga melakukan pengawasan dan pendampingan agar kelompok ini bisa terus bertumbuh. Saat ini, pihaknya tengah mengupayakan Tempat Pengolahan Sampah untuk kelompok Desa Prima Mutiara Selatan. Ini merupakan bagian dari pembinaan dari hulu hingga hilir.
Selain itu, Kepala Bidang Urusan Kebudayaan Paniradya Kaistimewan DIY, Nugraha Wahyu Winarma menyebut sampah sebagai permasalahan bersama yang harus dihadapi dengan kolaborasi semua pihak, termasuk masyarakat.
Sampah menjadi salah satu pilar Jogja Hijau, selain penghijauan, penyelamatan air, dan pemanfaatan sinar matahari sebagai sumber energi. Dana Keistimewaan masuk dalam pengelolaan sampah dengan pemberdayaan dan bersinergi dengan semua pihak.
Pentingnya Edukasi tentang Sampah
Ia menilai edukasi pengolahan sampah sejak dini sangat penting. Dengan edukasi pada anak usia dini, diharapkan dapat mengubah budaya membuang sampah menjadi mengelola sampah. Budaya ini harus diwariskan kepada generasi yang akan datang.
Gender Champion yang juga Direktur Bank Sampah di Bantul, Bambang Suwerda menambahkan kesadaran masyarakat untuk mengolah sampah memang masih rendah. Menurut dia, gerakan kecil ini jika dilakukan secara konsisten akan berubah manis. Seperti Bank Sampahnya, kini memiliki 2.500 nasabah dan berhasil menerima 2.000 pesanan kerajinan dari limbah plastik.
“Dalam pengelolaan sampah kita berusaha mengubah dari pola pungut, angkut, buang menjadi sistem pilah dan tabung di bank sampah. Pemilahan satu sumbernya yaitu rumah penghasil sampah. Rohnya itu pendidikan, ikutannya ekonomi. Menariknya 85 pengelolaan sampah itu ibu-ibu semua. Nah generasi mendatang juga perlu dilibatkan. Ada regenerasi penerus yang harapannya juga peduli lingkungan,” imbuhnya.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











