"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Cinta dan Remaja yang Menggugah

Fase Remaja dan Perasaan Jatuh Cinta



Jatuh cinta adalah hal yang wajar terjadi pada setiap manusia, baik itu tua, muda, atau bahkan anak-anak. Namun, jatuh cinta lebih terasa mendalam ketika kita berada di fase remaja. Pada usia ini, perasaan cinta seperti menaiki wahana roller coaster yang penuh dengan lengkungan dan naik-turun. Ada saat-saat di mana kita merasa sangat menggebu-gebu, sampai-sampai melupakan akal dan logika. Di sisi lain, ada juga saat-saat di mana kita merasa hampa, mengira bahwa cinta bukanlah untuk diri kita sendiri. Semua hal ini biasanya terjadi ketika kita sedang melewati fase remaja.

Terkadang, jatuh cinta tidak memandang latar belakang orang yang kita cintai. Tidak peduli suku, keluarga, asal daerah, atau agama mereka. Cinta bisa membuat kita lupa akan semua hal tersebut. Hampir sebagian besar remaja pernah mengalami situasi ini—mencintai seseorang tanpa memperhatikan latar belakangnya, terutama agamanya.

Agama memiliki peran penting sebagai panduan dalam kehidupan manusia. Agama hadir untuk membimbing kita agar menjalani kehidupan yang baik dan menghindari jalan yang buruk. Selain itu, agama juga mengatur bagaimana kita berinteraksi dengan sesama manusia. Meskipun agama memberikan ruang bagi interaksi tanpa memandang latar belakang, kita tetap harus tahu batasan dalam berinteraksi.

Agama tidak pernah melarang kita untuk mencintai sesama manusia. Bahkan, Tuhan menciptakan cinta untuk mempersatukan umat-Nya, bukan untuk memecah belah. Namun, karena adanya perbedaan keyakinan agama, hal ini menjadi tolak ukur bagi seseorang untuk melanjutkan hubungan ke tahap yang lebih serius. Banyak pasangan yang percaya bahwa agama bukan penghalang dalam mencintai seseorang, namun secara halus, agama melarang hubungan tak seiman.

Dalam kitab II Korintus 6:14 disebutkan, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?” Ayat ini menekankan pentingnya kesamaan ikatan rohani dalam hubungan yang mendalam. Meskipun konteks awalnya lebih luas, ayat ini bermaksud untuk menasihati umat agar tidak membentuk ikatan asmara atau pernikahan dengan mereka yang memiliki keyakinan berbeda.

Di dalam Al-Qur’an, tidak ada penjelasan spesifik tentang hubungan tak seiman. Namun, dalam surat Al-Kafirun ayat 6 disebutkan, “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”. Ayat ini secara jelas memisahkan urusan akidah dan ibadah antara pemeluk Islam dan non-Islam, menekankan adanya batasan dan pengakuan terhadap perbedaan keyakinan. Dua orang dengan agama yang berbeda tetapi memiliki keyakinan yang sama, yaitu bahwa dalam menjalin ikatan cinta, harus memiliki ikatan rohani yang sama.

Sebagai seorang remaja yang sedang dalam fase jatuh cinta, hal ini sangat wajar. Jatuh cinta kepada seseorang adalah hal yang paling indah dalam hidup. Namun, jatuh cinta belum tentu bisa berbalas. Jatuh cinta mudah dilakukan, tetapi memilikinya adalah hal yang sulit untuk direalisasikan. Perasaan cinta bisa muncul dari berbagai arah, seperti dari pandangan pertama, cara berbicara, atau perlakuan seseorang terhadap kita. Hal-hal tersebut menciptakan gejolak di hati kita untuk mencintai atau menyukai orang tersebut.

Terkadang, hal tersebut disalahpahami oleh beberapa orang yang mudah jatuh cinta. Banyak orang lupa bahwa tidak semua orang memahami bahwa perlakuan mereka adalah hal yang lumrah dan sama terhadap orang-orang yang mereka kenal. Mereka seolah-olah menormalisasi perlakuan mereka atas dasar “dekat” dengan orang tersebut. Sehingga, orang akan merasa bahwa mereka adalah orang yang spesial. Padahal, perlakuan tersebut diterapkan kepada semua orang. Peristiwa ini sering disebut “Friendly” di kalangan Gen-Z.

Seseorang dianggap friendly oleh Gen-Z karena mereka memancarkan aura yang inklusif dan tidak menghakimi. Di mata Gen-Z, orang yang friendly adalah orang yang cepat tanggap terhadap pesan. Mereka tidak akan melakukan ghosting—menghilang tiba-tiba—karena itu dianggap sebagai tindakan yang tidak menghargai perasaan dan waktu orang lain.

Friendly sering kali dianggap negatif karena dirasa memberikan harapan palsu. Namun, pada kenyataannya, hal tersebut adalah hal yang normal. Bagi Gen-Z, itu adalah cara mereka menunjukkan sifat ramah mereka.

Di sisi lain, sebagai seorang remaja yang sedang jatuh cinta, kita harus bisa memilih dan menjaga perasaan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Terkadang, kita akan dihadapi dengan orang-orang yang dekat hanya sesaat dan menghilang secara perlahan. Bukan karena tidak ada ketertarikan, tetapi karena mereka takut melanjutkan kedekatan tersebut. Hal ini sering disebut dengan “Avoidant”.

Avoidant sering kali dianggap sebagai sikap acuh terhadap seseorang. Akan tetapi, itulah cara mereka jatuh cinta. Mereka akan menjaga jarak dan menghindar jika sudah merasa hubungannya terlalu dekat. Mereka perlahan-lahan akan menghilang tanpa kabar dan tiba-tiba kembali tanpa rasa bersalah.

Itulah sebabnya, banyak remaja kesulitan mendapatkan cinta yang mereka inginkan. Ada banyak halangan yang harus dihadapi, mulai dari tembok yang terlalu tinggi, perasaan yang tidak pasti, hingga terlalu jatuh cinta kepada orang yang terlihat mencintai kita.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *