"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"
Bisnis  

Pemenuhan IPO Superbank (SUPA) Rampung, Investor Ritel Hanya Dapat 3 Lot Saham

Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) Superbank Cetak Rekor dengan Oversubscribe 318,69 Kali

Pengajuan saham baru PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank mencuri perhatian investor ritel di pasar modal Indonesia. Meskipun sudah menyiapkan dana jutaan rupiah, sejumlah investor hanya mendapatkan jatah 3 lot saham dalam penjatahan yang dilakukan.

Superbank akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (17/12) pagi. Saat penjatahan efek rampung, SUPA tercatat sebagai IPO yang paling diminati, dengan kelebihan permintaan atau oversubscribe hingga 318,69 kali. Hal ini membuat rekor baru karena jumlah pesanan yang masuk melebihi satu juta.

Harga pelaksanaan IPO Superbank ditetapkan sebesar Rp 635 per lembar saham. Dalam penawaran ini, Superbank melepas maksimal 4,40 miliar saham baru atau setara 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Setiap saham memiliki nilai nominal Rp 100, sehingga potensi dana segar yang dihimpun mencapai Rp 2,79 triliun.

Pengalaman Investor Ritel dalam IPO Superbank

Salah satu investor yang ikut serta dalam euforia IPO Superbank adalah Damara (32), seorang investor asal Jakarta yang biasa membeli saham lewat IPO. Ia memesan sebanyak 170 lot saham dengan merogoh kocek sebesar Rp 10,79 juta. Namun, saat penjatahan rampung, ia hanya mendapatkan 3 lot atau sekitar 1,76%.

Lalu Putri (24) membeli 3 lot saham dan ternyata mendapatkan 100% dengan nilai Rp 190.500. Ia sengaja tidak memborong banyak karena mengira hanya akan kebagian 1 lot seperti pengalaman IPO sebelumnya. Untuk meningkatkan peluang, Putri akhirnya membeli lewat sekuritas milik kakaknya dan berhasil mendapatkan 3 lot saham.

Ary (30) yang sebenarnya tidak terlalu menyukai membeli saham lewat IPO, mengaku hanya ikut-ikutan saat euforia IPO Superbank. Ia membeli 2 lot seharga Rp 127.000 dengan perkiraan tidak akan mendapat jatah. Namun, saat distribusi, Ary justru memperoleh 2 lot atau 100%.

Dini (25) juga tidak ingin ketinggalan, ia menggelontorkan dana Rp 5.715.000 untuk memesan 90 lot saham pada IPO Superbank (SUPA). Namun, seperti investor ritel lainnya, ia hanya mendapatkan 3 lot saham saat penjatahan.

Aturan Penjatahan IPO Superbank

Dalam IPO kali ini, Superbank menggunakan dua model penjatahan yaitu penjatahan pasti dan penjatahan terpusat. Penjatahan pasti atau fixed allotment diberikan kepada partisipan admin, yaitu Penjamin Emisi Efek yang selanjutnya menyesuaikan pesanan pemodal.

Selanjutnya alokasi penjatahan terpusat diberikan kepada investor ritel. Adapun ketentuannya adalah untuk investor penjatahan terpusat ritel dengan nilai pesanan paling banyak Rp 100 juta dan investor penjatahan terpusat selain ritel nilai pesanan lebih dari Rp 100 juta dengan perbandingan 1:2.

Jika terjadi kelebihan pemesanan saham pada penjatahan terpusat dengan batasan tertentu, jumlah saham yang dialokasikan untuk penjatahan pasti akan disesuaikan dengan jumlah saham yang tersedia. Jika jumlah saham yang dipesan oleh pemodal pada alokasi penjatahan terpusat melebihi jumlah saham yang dialokasikan maka akan dilakukan pembagian rata.

Valuasi IPO SUPA

Dengan harga penawaran Rp 635 per saham, Sucor Sekuritas menilai Superbank memiliki Price to Book Value (PBV) sekitar 2,64 kali. Angka itu menjadi salah satu bank digital dengan valuasi paling rendah dibandingkan kompetitor.

CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya menyebut tingginya minat investor pada IPO Superbank menjadi sinyal positif bagi pasar modal Indonesia. Menurut dia, tingginya permintaan mencerminkan kepercayaan pasar terhadap fundamental serta prospek Superbank.

Bernadus berharap kelebihan permintaan tersebut dapat berdampak positif pada likuiditas perdagangan saham setelah pencatatan, sekaligus menjadi pendorong pengembangan sektor perbankan digital di Indonesia.

“Respons seperti ini menandakan bahwa appetite investor terhadap IPO sektor perbankan digital masih sangat kuat,” kata Bernadus dalam keterangan, Selasa (16/12).

Apalagi sebelumnya ia sempat mengatakan Superbank berada pada level valuasi yang sangat kompetitif. Ia mengaku Superbank adalah salah satu bank digital dengan valuasi termurah di pasar. Menurutnya, SUPA jauh di bawah PBV bank digital seperti Bank Jago (ARTO), Allo Bank Indonesia (BBHI), maupun Bank Aladin Syariah (BANK).

“Jika dibandingkan dengan ARTO, BBHI, atau Aladin yang PBV-nya jauh lebih tinggi, maka secara valuasi Superbank berada pada level yang sangat menarik bagi investor,” kata Bernadus.

Bernadus menilai rendahnya valuasi Superbank membuka ruang besar untuk rerating, terutama jika bank mampu mengeksekusi strategi pertumbuhan dan memaksimalkan ekosistem digitalnya. Ia menjelaskan bank digital umumnya diperdagangkan dengan valuasi premium karena prospek pertumbuhannya tinggi, namun Superbank saat ini justru berada pada level konservatif.

Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *