"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Pengadilan Jalanan Menyebar di Suriah, Siapa Targetnya?

Kekerasan Main Hakim Sendiri Mengancam Stabilitas Suriah

Setahun setelah kejatuhan rezim Bashar al-Assad, Suriah masih menghadapi tantangan besar dalam menciptakan perdamaian. Kekerasan dan pengadilan jalanan terus bermunculan, memperburuk situasi yang sudah kacau akibat konflik berkepanjangan selama lebih dari satu dekade.

Di desa Anaz, wilayah mayoritas Kristen di Provinsi Homs, dua pria ditembak mati pada Oktober lalu. Pelaku menggunakan sepeda motor dan berpakaian hitam. Beberapa pengamat menuduh bahwa pembunuhan tersebut bermotif sektarian, sementara yang lain mengaitkannya dengan sisa-sisa rezim Assad yang ingin memicu kembali ketegangan antar-komunitas.

Namun, penyelidikan lanjutan menemukan bahwa salah satu korban pernah menjadi anggota milisi pro-Assad yang terlibat dalam pembunuhan hingga 700 orang selama perang saudara. Hal ini menunjukkan bahwa penembakan itu kemungkinan besar adalah aksi balas dendam yang terencana.

Kekerasan Main Hakim Sendiri Meningkat

Tidak ada yang tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi di Anaz — dan mungkin tidak akan ada yang tahu dalam waktu dekat. Namun, satu hal yang jelas: itu bukan kasus tunggal. Kekerasan main hakim sendiri semakin meningkat di Suriah.

Dalam dua pekan terakhir Agustus, sekitar 36 persen dari lebih 70 kematian akibat kekerasan tercatat sebagai pembunuhan terarah atau aksi balas dendam individu. Dalam beberapa periode, angka ini bahkan mencapai 60 persen.

Beda dengan kekerasan massal antarkelompok yang pernah mengguncang Suriah, aksi ini lebih sering berupa serangan terhadap satu orang — tepat sasaran, terencana.

“Kekerasan vigilante sejati — kekerasan yang menargetkan kolaborator atau tentara rezim — trennya jelas meningkat,” kata Gregory Waters, peneliti senior di Atlantic Council. “Situasinya berubah tiap minggu, tapi pasti makin memburuk, dan ketiadaan keadilan transisi memperbesar tekanannya.”

Antara Amnesti dan Dendam

Sejak penggulingan Assad pada Desember 2024, pemerintahan sementara berjanji untuk menegakkan keadilan. Mereka berjanji mengadili pelaku kejahatan perang dan pelanggaran hak asasi manusia. Presiden interim, Ahmad al-Sharaa, bahkan turun menemui tokoh masyarakat, meminta warga bersabar.

Namun, banyak yang menjawab, “Kami sudah kehilangan sejuta nyawa, sejuta rumah hancur, jutaan mengungsi. Berapa lama lagi kami harus sabar?” Pemerintah menawarkan amnesti bagi banyak mantan tentara, kecuali bagi mereka yang “memiliki darah rakyat Suriah di tangan mereka.” Namun pelaksanaan janji itu jauh dari memuaskan.

Dalam laporannya untuk Washington Institute, Waters menulis: “Penangkapan pelaku kejahatan rezim berlangsung tak konsisten, tertutup, dan minim komunikasi.” Mereka yang berpangkat tinggi atau terkait pembantaian besar memang ditahan dan dipublikasikan, tapi banyak pelaku tingkat bawah masih bebas berkeliaran.

Tribunal di Media Sosial

Sebagian warga menempuh jalannya sendiri. Di media sosial, bermunculan akun berbahasa Arab yang memajang foto orang-orang diduga eks pendukung rezim. Mereka menulis, “Orang ini dulu tentara Assad, sekarang bebas, berasal dari desa ini.” Itu bisa ditafsirkan sebagai ajakan kekerasan.

Banjir disinformasi memperkeruh keadaan. Banyak korban aksi balas dendam adalah warga Muslim Sunni — kelompok mayoritas di Suriah. “Kolaborator Sunni dibenci komunitasnya sendiri, jadi lebih mudah diserang,” katanya. Namun jika korban berasal dari minoritas, tuduhan sektarian segera muncul — bahkan ketika belakangan terbukti korban terlibat kejahatan perang.

Keadilan yang Tertunda

Pemerintah sementara tampak tak banyak berbuat untuk menghentikan kekerasan balasan terhadap eks pendukung Assad. Apakah karena tak mampu atau tak mau, masih tak jelas.

Waters mencontohkan kelompok bersenjata di Aleppo, yang sejak perang saudara dikenal memburu pejabat rezim. “Pemerintah kesulitan menindak kelompok ini. Mereka lebih mirip sel pemberontak,” katanya. Saat ini kelompok itu menyerang mantan pejabat Assad, bukan aparat pemerintah. “Tapi kalau dua atau tiga orang mereka ditangkap, mereka bisa balik menyerang pemerintah.”

Karena itu, strategi pemerintah tampaknya adalah mendahului para vigilante: menangkap mantan tentara Assad sebelum mereka dibunuh.

Proses Transisi yang Buram

Aaron Zelin, peneliti senior di Washington Institute, menilai, publikasi yang lebih terbuka soal kerja komisi keadilan transisi — yang dibentuk Maret 2025 — bisa membantu meredam kekerasan. “Saya dengar mereka bekerja serius di belakang layar, tapi takut bicara terbuka karena khawatir merusak proses,” katanya kepada DW. “Padahal diam justru menurunkan kepercayaan publik karena tak ada yang tahu jadwal atau arahnya.”

Mohammad al-Abdallah, Direktur Syrian Justice and Accountability Center, menilai meningkatnya aksi balas dendam justru menunjukkan gagalnya proses transisi. “Para pelaku pelanggaran tidak ditahan, mereka berkeliaran di jalanan. Warga melihat orang yang menahan ayahnya, mengeksekusi saudaranya, atau membunuh anaknya masih bebas,” ujarnya. “Mereka akhirnya mengambil keadilan dengan tangan sendiri.”

Situasi ini, kata al-Abdallah, menebar ketakutan, menimbulkan pengungsian baru, dan menumbuhkan keyakinan bahwa di Suriah yang baru, keadilan masih sebatas janji.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *