Pengalaman Berbisnis Selama 14 Tahun
Saya dan suami telah menikah selama 14 tahun, dan selama itu juga kami tidak bekerja di kantor. Karena itu, penghasilan bulanan kami sangat fluktuatif. Pekerjaan utama kami adalah mengolah sawah, sementara suami juga berusaha membuat pupuk organik cair, beternak ayam Elba, serta melakukan trading forex di malam hari.
Sedangkan saya mencari uang jajan dari blog dan ghostwriting. Penghasilan dari blog juga tidak stabil karena kadang ada banyak order nulis dalam satu bulan, lalu bulan berikutnya tidak ada sama sekali. Menurut pengalaman kami, menjalani bisnis sendiri lebih sulit dibandingkan bekerja di kantor atau pekerjaan dengan gaji tetap. Namun, potensi penghasilannya jauh lebih besar jika ditekuni dengan serius.
Membuka Warung Sembako dan Minuman Kekinian
Sebelumnya, saya pernah memiliki warung sembako dan lapak minuman kekinian seperti dalgona, coffee float, dan lava drink, serta aneka rice bowl. Semua ini saya kelola dengan meminjam modal dari KUR BRI. Sayangnya, saya tidak memperhitungkan harga jual dengan modal yang digunakan.
Awalnya, saya hanya berpikir bahwa produk harus laku dan laku di kalangan pelajar dan anak muda sekitar tempat tinggal saya. Untuk memastikan laku, saya menjual minuman dengan harga Rp5.000. Saya pikir untung tipis tidak masalah, yang penting laku. Padahal suami sudah mengingatkan, “Emang udah dihitung, po? Harga segitu gak kemurahan?” Saya menjawab bahwa meskipun dipotong modal, masih untung.
Warung pun dibuka dan ramai. Pembelinya kebanyakan pelajar dari SD hingga SMA. Dalam tiga bulan pertama, empat bulan, lima bulan, pembelinya mulai berkurang. Mungkin karena bosan, atau ada hal lain. Apakah sudah mencapai titik impas? Belum. Yang terpenting dalam pikiran saya saat itu adalah membayar cicilan KUR yang tempo pinjamannya dua tahun.
Menghitung Laba yang Nyata
Setelah dihitung, laba yang saya peroleh ternyata sedikit karena ada biaya listrik, air, bahan baku, dan tenaga, meski dikerjakan sendiri. Ternyata, semua itu harus dihitung. Akhirnya, saya menaikkan harga minuman menjadi Rp7.000 – Rp10.000 dan rice bowl menjadi Rp8.000 dengan harapan tidak mengalami kerugian.
Kesalahan dalam Perhitungan Pasar
Hal yang lupa saya perhitungkan adalah pangsa dan potensi pasar. Minuman kekinian seperti itu sudah banyak dijual di dekat sekolah, pasar, jalan raya, minimarket, dan keramaian lain. Sedangkan saya menjualnya di ujung jalan dusun yang hanya dilewati penduduk dusun sekitar saja.
Ramainya orang beli di warung saya karena mereka penasaran dengan kehadiran warung baru. Mereka ingin tahu rasanya seperti apa. Setelah 2-3 kali membeli, mereka tidak lagi penasaran. Kata mereka rasanya enak, tapi makanan dan minuman seperti itu bukan seperti makanan yang ingin mereka beli setiap hari, kecuali jika dijual di kantin sekolah.
Bisnis Tutup, KUR Terlunasi
Karena mengalami kerugian yang cukup besar, warung rice bowl dan minuman Korea-koreaan itu pun tutup. Kini hanya tersisa warung sembako yang masih jalan, namun sudah sepi pembeli karena ada swalayan baru yang buka di dekat dusun. Orang lebih memilih belanja ke sana meski hanya sepotong sabun mandi.
Sekarang suami saya saja yang masih berbisnis pupuk organik cair dan telur ayam Elba di sela kesibukannya mengurus sawah dan trading forex. Rasanya saya kapok berbisnis, bukan karena tidak bakat dagang. Berbisnis itu butuh tenaga dan pikiran yang super kreatif, inovatif, serta keuletan. Semua orang bisa melatih diri dengan semua itu kalau benar-benar berniat untuk sukses.
Untung saja KUR BRI terlunasi tepat waktu, jadi tidak ada beban utang meski bisnis saya tidak berjalan sesuai harapan.











