"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"
Bisnis  

Pengamat UGM: Tanpa Dukungan Pertamina, Bobibos Hanya Mimpi

Inovasi BBM Baru yang Membawa Harapan

Kemunculan Bobibos, bahan bakar baru yang terbuat dari jerami sisa panen petani, menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Produk ini diklaim memiliki RON setara dengan Pertamax Turbo dan lebih ramah lingkungan. Meski menawarkan potensi besar, pengembangannya masih membutuhkan dukungan yang kuat, khususnya dari pihak-pihak seperti Pertamina.

Bobibos ditemukan oleh Muhammad Ikhlas Thamrin, seorang inovator muda yang ingin menciptakan alternatif bahan bakar yang berkelanjutan. Menurut Dr. Fahmy Radhi, pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Bobibos bisa jadi hanya mimpi jika tidak didukung oleh Pertamina. Ia menjelaskan bahwa untuk dapat diproduksi secara masal, Bobibos harus melewati serangkaian uji coba teknis dan legalitas.

Proses Uji Coba yang Perlu Dilalui

Uji laboratorium menjadi langkah awal dalam menguji kelayakan Bobibos. Lemigas Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dapat melakukan pengujian terkait RON, kandungan sulfur, serta emisi. Setelah itu, uji lapangan juga diperlukan untuk melihat bagaimana Bobibos bekerja pada berbagai jenis kendaraan bermotor. Uji ini harus mencapai 50.000 KM per kendaraan agar sesuai standar internasional.

Setelah semua uji coba berhasil, Kementerian ESDM akan memberikan sertifikat layak produksi dan pemasaran. Namun, proses ini membutuhkan investasi besar dan jaringan distribusi yang luas. Tanpa dukungan dari Pertamina, kesulitan dalam produksi dan pemasaran akan sangat tinggi.

Dukungan dari Pertamina Diperlukan

Fahmy berharap PT Pertamina dapat memberikan dukungan penuh untuk Bobibos. Jika perlu, Pertamina bisa turut berinvestasi dalam pengembangan produk ini. Dengan jaringan SPBU yang dimiliki Pertamina, Bobibos akan lebih mudah diakses oleh masyarakat.

“Tanpa dukungan penuh dari Pertamina, Bobibos akan sulit berkembang. Bisa jadi hanya mimpi di siang hari bolong,” ujarnya. Ia juga mengingatkan agar tidak terjadi nasib seperti Blue Energy, yang sempat diluncurkan pada masa pemerintahan SBY namun gagal berkembang.

Pengembangan Bobibos yang Masih Berlangsung

Sejak diluncurkan pada awal November 2025, Bobibos telah menarik perhatian banyak pihak. Produk ini dibuat dari bahan alami seperti jerami dan biomassa tanaman. Bobibos dirancang sebagai alternatif bensin dan solar, dengan klaim memiliki angka oktan tinggi (RON mendekati 98) dan emisi rendah.

Saat ini, Bobibos masih dalam tahap uji coba dan proses perizinan di bawah Kementerian ESDM. Produk ini belum dipasarkan secara massal karena harus melewati serangkaian pengujian teknis, mulai dari laboratorium hingga uji jalan.

Pemilihan Nama dan Standar Teknis

Ikhlas menjelaskan bahwa Bobibos memiliki dua jenis produk. Untuk produk yang bertujuan menggantikan bensin, pihaknya menggunakan istilah biogasoline. Sementara itu, untuk produk kedua yang bertujuan menggantikan solar, masih dalam diskusi dengan tim EBTKE tentang istilah yang tepat.

“Bobibos ini karena memiliki dua produk, maka produk yang pertama disebut sebagai biogasoline ya. Jadi Bobibos disebut sebagai biogasoline,” katanya. Penentuan istilah dan klasifikasi sangat penting karena saat ini belum ada template parameter untuk biogasoline.

Dengan adanya Bobibos, diharapkan Indonesia dapat memiliki alternatif bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan kolaborasi antara para penemu, regulator, dan pihak-pihak yang memiliki jaringan distribusi yang luas.

Harini Umar

Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *