Langkah Parlemen Eropa untuk Melindungi Anak dari Penggunaan Media Sosial dan Chatbot AI
Sejumlah anggota Parlemen Eropa (MEP) mengusulkan larangan penggunaan media sosial dan chatbot kecerdasan buatan (AI) bagi anak di bawah usia 16 tahun. Usulan ini disampaikan melalui sebuah resolusi yang baru saja disahkan oleh mayoritas anggota Parlemen, pada hari Rabu (26/11/2025) waktu setempat.
Dalam resolusi tersebut, Parlemen Eropa menilai bahwa anak sebaiknya tidak memiliki akses ke media sosial sebelum berusia 16 tahun. Jika anak usia 13 hingga 16 tahun ingin menggunakan medsos dan AI, mereka harus mendapatkan persetujuan khusus dari orang tua. Hal ini dilakukan karena para anggota MEP merasa bahwa platform digital saat ini semakin dipenuhi fitur-fitur yang berpotensi mendorong kecanduan atau adiktif.
Beberapa fitur yang menjadi perhatian utama adalah infinite scrolling (konten yang tidak ada habisnya saat di-scroll), autoplay video, push notifikasi berlebihan, serta sistem pemberian reward atas penggunaan situs atau platform berulang. Menurut Christel Schaldemose, anggota Parlemen Eropa dari Partai Sosial Demokrat Denmark yang merancang resolusi ini, dalam draft awal usulannya ia mengutip sebuah studi yang menyatakan bahwa satu dari empat anak dan remaja menunjukkan pola penggunaan smartphone yang “problematik” atau “disfungsional”, menyerupai perilaku kecanduan.
Ia juga dengan tegas meminta politisi untuk bertindak melindungi anak-anak remaja dari bahaya konsumsi media sosial. “Bukan hanya orang tua. Masyarakat juga perlu turun tangan dan memastikan bahwa platform media sosial menjadi tempat yang aman bagi anak di bawah umur, tetapi hanya jika mereka telah mencapai usia tertentu,” ujar Schaldemose.
Australia sebagai Contoh
Rekomendasi Parlemen Eropa tidak muncul begitu saja. Komisi Eropa saat ini sedang mengkaji kebijakan baru Australia, yang akan mulai menerapkan larangan untuk anak di bawah 16 tahun menggunakan media sosial. Dalam pidatonya di bulan September, presiden komisi tersebut, Ursula von der Leyen, mengatakan bahwa ia akan memantau implementasi kebijakan Australia. Von der Leyen juga menjanjikan akan membentuk panel ahli pada akhir tahun yang bertugas memberi saran tentang pendekatan terbaik untuk melindungi anak-anak.
Desakan pembatasan akses media sosial bagi anak-anak juga datang dari sejumlah negara bagian Eropa. Di Prancis, misalnya, laporan ahli yang diminta Presiden Emmanuel Macron menyatakan bahwa anak-anak seharusnya tidak diberi smartphone sebelum usia 13 tahun, dan baru boleh menggunakan media sosial saat mencapai usia 18 tahun.
Tantangan dan Penolakan
Meski mendapat dukungan dari sejumlah pihak, ada beberapa anggota parlemen yang mengkritik resolusi ini. Mereka menilai, Uni Eropa sudah “berlebihan” jika benar-benar mengabulkan larangan akses media sosial bagi anak-anak di wilayah tersebut. Menurutnya, keputusan soal akses digital anak seharusnya menjadi kewenangan keluarga di tiap negara anggota, bukan ditentukan di Brussel.
Keputusan tentang akses anak-anak harus diambil sedekat mungkin dengan keluarga di negara-negara anggota, bukan di Brussel,” kata Kosma Zotowski, anggota Polandia dari kelompok Konservatif dan Reformis Eropa. Tak hanya itu, penolakan juga datang dari Gedung Putih (White House), yang mendesak Uni Eropa untuk segera mencabut undang-undang digitalnya.
Dalam sebuah pertemuan di Brussel, Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, mengatakan bahwa aturan Uni Eropa tentang perusahaan teknologi perlu lebih “seimbang”. Namun, beberapa MEP dilaporkan menolak permintaan tersebut. Stéphanie Yon-Courtin, MEP asal Prancis dari partai Macron menegaskan bahwa perlindungan anak bukan sesuatu yang bisa dinegosiasikan. “Hukum digital kita tidak untuk dijual. Kita tidak akan mundur dari perlindungan anak hanya karena miliarder asing atau perusahaan teknologi besar memintanya,” ujarnya.
Adapun usulan resolusi Schaldemose diketahui lolos dengan 483 suara setuju, 92 menolak, dan 86 abstain. Resolusi tersebut disahkan hanya seminggu setelah komisi mengumumkan penundaan perubahan Undang-Undang Kecerdasan Buatan dan undang-undang digital lainnya.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











