"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"
Bisnis  

NU dan Pertambangan

Konsesi Tambang Batubara dan Persoalan Internal PBNU

Di dalam satu riwayat hadis yang sahih, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah apa yang Allah keluarkan untuk kalian dari keberkahan bumi”. Seorang sahabat bertanya, “Apakah keberkahan bumi itu?” Beliau menjawab, “Bunga (kemewahan) dunia”.

Peristiwa konflik internal di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) baru-baru ini bisa diterangi dengan makna hadis tersebut. Masalah ini bukan sekadar soal penyingkiran Zionisme Israel atau pengelolaan keuangan yang sedang diperiksa, melainkan tarik menarik kepentingan di balik konsesi tambang batubara.

Satu kubu di PBNU menginginkan perusahaan tertentu yang mengelola tambang tersebut, sementara kubu lain menginginkan perusahaan lain. Kubu pertama memilih pengusaha yang dekat dengan menteri, sedangkan kubu kedua lebih memilih pengusaha yang dekat dengan istana.

Sejak awal, ada beberapa anggota NU yang menolak konsesi tambang batubara dari pemerintah. Alasannya, akan terjadi demoralisasi. NU yang seharusnya ikut membela kelestarian lingkungan dan kepentingan rakyat kecil, justru berpihak pada pengusaha.

“Betapa ironisnya jika ormas keagamaan berdiri bersisian dengan perusahaan industri ekstraktif tersebut vis-a-vis dengan komunitas. Ia bukan lagi pengabsah industri tambang, tapi telah menjadi salah satu pelakunya. Menyedihkan mas bro!” tulis aktivis NU dan Gusdurian, Hairus Salim, 3 Juni 2024 lalu.

Namun, godaan uang tambang jelas menggiurkan. Hitam-hitam batubara, biar hitam banyak yang suka. Politik dan ekonomi sangat berkaitan erat, kata Karl Marx. Meski banyak orang mengaku anti-Marxisme, perilaku mereka justru benar-benar bisa dijelaskan dengan teori Marx.

Orang-orang ramai berebut jabatan dengan mengeluarkan uang yang banyak, besar kemungkinan bukan karena ingin membangun dan mensejahterakan masyarakat, tetapi karena ingin “kembalian” yang lebih besar. Hal ini bisa saja berlaku pada siapapun, termasuk para aktivis ormas keagamaan.

Jika informasi yang diberikan dapat kita pegang, maka yang terjadi benar-benar ironis. Tambang belum digarap, untung belum didapat, yang terjadi justru kisruh di tubuh PBNU. Tampaknya, konflik ini tidak akan bisa “didamaikan” dalam waktu dekat karena sudah sedemikian rumit, melibatkan banyak kepentingan.

Jika gambarannya boleh disederhanakan ala hitam-putih, konflik ini bukan sekadar masalah beda pendapat, tetapi sudah masuk ke ranah beda pendapatan, yakni untung-rugi secara ekonomi, entah untuk organisasi, perusahaan, atau orang perorang yang terlibat.

Di sisi lain, boleh jadi peristiwa ini adalah berkah. Sebelum terlanjur basah, konflik di tubuh PBNU ini mungkin dapat menjadi pelajaran bahwa sebaiknya NU tidak ikut-ikutan mengurus tambang. Lebih baik kembali ke asal, mengurus hal-hal yang memang bidang NU seperti pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat bawah.

Bukankah kasih sayang Allah bisa berupa kejadian yang tak menyenangkan agar hamba-Nya kembali ke jalan yang benar? Jika teguran itu diabaikan, maka Allah akan membiarkannya terperosok ke jurang kehancuran. Inilah yang disebut istidrâj.

“Jika satu perkara diberikan kepada ghairi ahlih, maka tunggulah kehancuran,” kata sebuah hadis yang sangat populer di kalangan santri. Frasa ghairi ahlih mungkin bisa diterjemahkan menjadi “bukan ahlinya”, “bukan kompotensinya” atau “bukan tugasnya”.

Jika dikaitkan dengan tambang dan NU, mungkin bisa dikatakan bahwa urusan tambang bukan tugas NU. Sangat mungkin bahwa di organisasi NU ada orang-orang yang mengerti dan berpengalaman di dunia pertambangan, tetapi sebagai organisasi, itu bukan urusan yang menjadi kompetensi dan tugas NU.

Yang lebih serius tentu bukan sekadar soal keahlian dan tugas, melainkan godaan gemerlap dunia. Seperti disinggung dalam hadis sahih yang dikutip di atas, Nabi Muhammad mengatakan bahwa beliau sangat khawatir ketika kelak berbagai “keberkahan bumi” diberikan kepada umatnya.

Kadangkala, kita bukan hanya tidak siap miskin, tetapi juga tidak siap kaya raya, dengan uang berlimpah. Allah berfirman bahwa “Seandainya Allah menghamparkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas (berlaku zalim) di muka bumi” (QS 42:28).

Sebagaimana diriwayatkan dalam lanjutan hadis di awal tulisan ini, setelah Nabi mengatakan bahaya kemewahan dunia, sahabat bertanya, “Apakah kebaikan akan mendatangkan keburukan?” Nabi diam sebentar dan menyeka keringat di dahinya. Kemudian beliau antara lain berkata, “Kebaikan tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan”.

Artinya, jika kekayaan digunakan untuk kebaikan, maka kebaikan melahirkan kebaikan. Namun, manusia seringkali tergoda untuk serakah pada harta benda, sehingga kata Nabi, dia “seperti orang yang makan tetapi tidak kenyang”.

Alhasil, mungkin inilah momentum yang paling pas bagi NU, ormas Islam terbesar di Indonesia, untuk melakukan muhasabah, introspeksi. Apakah langkah-langkah yang telah diambil selama ini sudah tepat berada di jalan yang lurus ataukah sudah menyimpang dari khittah?


Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *