"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Di Balik Bencana Sumatera

Bencana Banjir dan Longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat

Siapa pun yang menyaksikan berita dan tayangan bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat selama lebih dari 10 hari terakhir pasti merasa pedih dan perih. Cuaca ekstrem berupa badai dan curah hujan lebat yang berlangsung bertahun-tahun telah menggulung air, tanah, dan potongan-potongan kayu menjadi kekuatan penghancur yang sangat dahsyat. Jalan, rumah, kendaraan, harta benda, jembatan, bahkan satu kampung, habis terlindas tanpa ampun. Tak heran jika per 6 Desember 2025 lalu, BNPB mencatat sudah 914 orang meninggal dan 389 orang hilang.

Sebenarnya BMKG telah menyampaikan peringatan beberapa hari sebelum bencana terjadi. Sejak 21 November 2025, para ahli sudah melihat kemunculan bibit badai yang berputar cepat di atas lautan tropis disebut “siklon tropis Senyar” di Selat Malaka, dan mengingatkan kepada para kepala daerah di Sumatera untuk bersiap siaga. Meskipun peringatan itu sudah ada, para pejabat dan masyarakat tak menyangka kalau yang terjadi akan separah ini. Selain itu, kita memang belum siap dengan langkah-langkah yang harus dan bisa diambil untuk menghadapi darurat bencana semacam ini.

Akibat Perubahan Iklim dan Kerusakan Lingkungan

Banjir dan longsor kali ini bukan bencana alam murni, melainkan akibat ulah manusia sendiri. Secara global, bencana ini adalah wujud nyata dari apa yang disebut “perubahan iklim”. Perusakan alam lingkungan dan penggunaan bahan bakar fosil (minyak, batu bara, gas alam) yang berlebihan telah memicu pemanasan global. Selama ini, kawasan khatulistiwa seperti Indonesia tergolong aman dari lindasan siklon tropis Senyar. Namun, akibat pemanasan global, di Selat Malaka, suhu permukaan laut bahkan mencapai 29-30 derajat celsius sehingga memicu siklon tropis itu.

Kita maklum, sejak zaman Soeharto hingga kini, hutan di Kalimantan dan Sumatera, lalu Papua, terus ditebang demi uang. Setelah hutan gundul, muncul perkebunan sawit dan pertambangan (batubara, emas, dan lainnya). Penebangan hutan dan pertambangan itu banyak yang legal (mendapatkan izin resmi pemerintah), namun seringkali mengabaikan analisis dampak lingkungan yang ketat. Bahkan menurut para aktivis lingkungan, makin kesini, makin dipermudah. Selain itu, ada lagi pembalakan hutan dan tambang ilegal, yang diam-diam biasanya juga melibatkan pihak berwenang.

Dampak Hutan Gundul pada Bencana Alam

Karena itu, apa yang terjadi di Sumatera kali ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan secara ilmiah. Tidak perlu menjadi ahli ilmu lingkungan, orang awam saja dapat menilai, jika hutan gundul, maka air hujan akan mengalir deras dari dataran tinggi ke bawah karena tak ada lagi pohon-pohon yang menahannya. Pohon-pohon sawit bukan jenis yang dapat menahan air. Akibatnya, air besar itu bergerak mengikis tanah dan membawa potongan-potongan kayu yang tersisa dari aktivitas penggundulan hutan. Pada saat yang sama, curah hujan yang tinggi membuat tebing-tebing longsor.

Demikianlah akibat manusia tak mau mengikuti petunjuk ilmu (science). Ilmu berfungsi menjelaskan, meramalkan, dan mengendalikan gejala alam. Berdasarkan analisis ilmiah, BMKG telah menjelaskan dan meramalkan apa yang bakal terjadi. Lebih dari itu, jauh sebelum peristiwa ini, para ilmuwan, cendekiawan, bahkan seniman, juga telah mengingatkan bahaya perusakan lingkungan. Namun, kita buta dan tuli pada peringatan jangka panjang dari mereka itu, sehingga kita tidak siap melakukan pengendalian setelah menerima peringatan jangka pendek dari BMKG.

Perspektif Keagamaan Terhadap Kerusakan Alam

Dari sudut pandang keagamaan, tindakan merusak alam tiada lain daripada tindakan melampaui batas, melawan hukum alam yang diciptakan Tuhan. Jika badan lelah, kita pun mengantuk ingin tidur. Jika perut lapar, kita ingin makan, dan jika haus, kita ingin minum. Ini sudah hukum alam, yang berlaku untuk tubuh kita. Hukum alam itu, bagi kaum beriman adalah ciptaan Tuhan, wujud dari ketetapan-Nya, yang dalam istilah agama disebut takdir-Nya. Melawan hukum alam sama dengan melawan kehendak Tuhan. Artinya, kita akan kalah dan menderita.

Dalam pandangan tradisional, manusia adalah mikrokosmos, alam kecil yang mewakili semesta raya atau alam besar, makrokosmos. Sebagaimana tubuh kita tak terlepas dari hukum alam, begitu juga alam lingkungan dan seluruh semesta. Dengan akal dan indera yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, apapun objek dan kejadian di alam ini dapat kita pelajari berdasarkan kerangka sebab-akibat hukum alam itu sendiri. Dengan mempelajarinya, lahirlah ilmu sebagai pemandu hidup kita. Tanpa ilmu, tindakan kita akan asal-asalan, laksana berjalan di lorong gelap yang berbahaya.

Penolakan Ilmu dan Keserakahan Manusia

Mengapa manusia menolak ilmu, padahal kita ini generasi abad ke-21 yang konon jauh lebih pintar dari umat manusia beribu tahun lalu? Menurut Seyyed Hossein Nasr, sebab utamanya adalah karena kita melupakan dimensi ruhani dan moral dalam mengelola alam. Secara ruhani, alam bukanlah objek biasa (profan), melainkan sesuatu yang suci (sakral), yang menjadi tanda bagi kehadiran Tuhan. Jika seorang Muslim takut kualat menginjak Al-Qur’an, dia seharusnya juga takut kualat merusak alam karena keduanya adalah ayat-ayat Tuhan.

Secara moral, kerusakan alam adalah akibat keserakahan segelintir orang, yang merugikan banyak orang. Tamak, serakah bin rakus, adalah penyakit yang sangat berbahaya, karena mendorong orang untuk melakukan apapun tanpa tahu batasnya. Ibarat makan, dia tak pernah merasa kenyang. Kata Nabi, orang yang tamak, jika diberi satu lembah emas, akan minta satu lagi, dan terus meminta sampai ia mati. Kata Mahatma Gandi, bumi dan segala isinya jauh lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi takkan pernah cukup melayani keserakahan manusia.

Kesimpulan: Bencana sebagai Peringatan

Alhasil, banjir dan longsor di Sumatera adalah akibat ulah manusia yang mengabaikan petunjuk ilmu, menganggap alam sekadar objek profan untuk dieksploitasi, dan nafsu serakahnya yang membabi buta. Bencana kali ini mungkin bisa mengetuk hati sebagian orang. Namun, saya khawatir, sebagian lagi tetap tak peduli. Seperti kata Al-Qur’an: “Jika dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi’, mereka berkata, ‘Kami sebenarnya berbuat kebaikan’. Ketahuilah, sesungguhnya mereka itu berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari” (QS 2:11).


Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *