"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Kemenag Fokus Pembinaan, Kemenag Haji Urus Operasional Haji

Perubahan Signifikan dalam Pengelolaan Ibadah Haji

Pemerintah telah mengambil langkah penting dalam pengelolaan ibadah haji dengan mengalihkan tugas operasional dari Kementerian Agama kepada Kementerian Haji dan Umrah. Keputusan ini menandai perubahan besar dalam sistem penyelenggaraan haji nasional, yang diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme dan efisiensi.

Perubahan ini mencakup seluruh aspek operasional haji, mulai dari manajemen keberangkatan dan pemulangan jemaah, pelayanan di tanah air, hingga koordinasi teknis dengan otoritas Arab Saudi. Dengan alih-alih ini, pemerintah berharap bahwa pengelolaan haji akan menjadi lebih terfokus dan terstruktur.

Meskipun demikian, Kementerian Agama tetap memegang peran strategis, khususnya dalam hal pembinaan jemaah. Tugas mereka mencakup pelaksanaan manasik haji, sertifikasi pembimbing, serta pembinaan keagamaan hingga tingkat kabupaten dan kota.

Proses Persiapan Haji 2026

Tahun ini menjadi masa transisi penting dalam penerapan sistem baru tersebut. Proses persiapan pemberangkatan ibadah haji membutuhkan waktu panjang. Bahkan, satu bulan setelah kepulangan jamaah haji 2025, proses persiapan keberangkatan haji 2026 sudah dimulai.

Tahapan awal melibatkan proses administrasi jamaah, termasuk pemeriksaan data calon jamaah. Sebagian besar jamaah yang akan berangkat pada tahun 2026 telah mendaftar sejak sekitar 14 tahun lalu, sehingga data mereka harus diverifikasi kembali.

Selain itu, ada penyesuaian regulasi sesuai Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 yang kemudian diperbarui dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025. Dalam aturan terbaru, jamaah yang sudah pernah menunaikan ibadah haji baru dapat berangkat setelah 18 tahun, dari sebelumnya 10 tahun.

Verifikasi lainnya mencakup ketentuan usia, di mana anak di bawah 13 tahun belum diperkenankan menunaikan ibadah haji. Selain itu, pengecekan alamat calon haji juga dilakukan untuk memastikan bahwa alamat masih sesuai dengan saat mendaftar pada 2014 atau sudah mengalami perubahan.

Tahapan Identifikasi Jamaah

Tahapan berikutnya adalah identifikasi jamaah, mulai dari pembuatan paspor, perekaman biometrik, hingga sidik jari. Seluruh proses tersebut berjalan bersamaan dengan pemeriksaan kesehatan serta tahapan pelunasan biaya haji.

Beberapa perubahan signifikan juga terjadi dalam sistem pembagian kuota. Dulu, pembagian kuota didasarkan pada jumlah penduduk muslim. Namun, setelah melihat kondisi ini, Kementerian Haji melakukan perubahan agar pembagian kuota lebih adil, dengan siapa yang duluan daftar, dia yang duluan berangkat.

Perubahan Masa Tunggu Haji

Perubahan masa tunggu haji yang terjadi belakangan ini disebabkan oleh penyesuaian kuota. Ada daerah yang masa tunggunya berkurang, namun ada juga yang bertambah. Untuk Sulawesi Selatan, justru terjadi penambahan kuota. Kuota haji Sulsel sebelumnya 7.272 jamaah meningkat menjadi 9.670 jamaah, atau bertambah sekitar 2.400 kuota.

Namun, karena pemberangkatan harus mengikuti nomor urut porsi, terdapat beberapa kabupaten/kota yang pada tahun ini tidak mendapatkan jamaah reguler. Sebaliknya, ada daerah memperoleh kuota cukup besar. Kondisi ini bersifat sementara. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, distribusi kuota akan normal dan seimbang di seluruh kabupaten/kota.

Respons Daerah yang Tidak Mendapat Kuota

Pada awalnya, muncul informasi bahwa ada beberapa kabupaten/kota yang tidak mendapatkan jatah kuota haji tahun ini. Namun, setelah rilis resmi diterbitkan, dipastikan seluruh kabupaten/kota di Sulsel tetap memberangkatkan jamaah. Hal ini karena daerah-daerah tersebut memberangkatkan calon jamaah dengan status lunas tunda dari tahun sebelumnya.

Kebijakan Baru Pelaksanaan Haji 2026

Pada pelaksanaan haji 2025, jamaah dilayani oleh delapan syarikah. Sementara pada tahun 2026, pelayanan haji hanya dilakukan oleh dua syarikah. Kebijakan ini memiliki sejumlah keuntungan, di antaranya memudahkan penyatuan jamaah yang terpisah dengan keluarga. Koordinasi antarjamaah juga menjadi lebih mudah, termasuk dalam penggabungan keluarga.

Untuk akomodasi hotel dan layanan lainnya, tidak mengalami perubahan signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Pelunasan Biaya Haji 2026

Dari total 9.670 kuota haji Sulsel, sekira 7.000 jamaah telah menjalani pemeriksaan kesehatan. Namun, yang dinyatakan istita’ah atau mampu secara kesehatan baru sekitar 4.000 jamaah. Sementara itu, jamaah yang telah melunasi biaya haji baru berjumlah 2.669 orang.

Terdapat selisih yang cukup besar antara jumlah jamaah yang istita’ah dengan yang sudah melunasi biaya. Sekira 1.400 jamaah telah dinyatakan istita’ah, tetapi belum melakukan pelunasan. Hal ini menjadi perhatian serius, mengingat batas akhir pelunasan ditetapkan pada 23 Desember 2025. Apabila tidak dilunasi hingga batas waktu tersebut, jamaah otomatis akan diberangkatkan pada tahun berikutnya.

Pengisian Kuota yang Tidak Dimanfaatkan

Kuota yang tidak dimanfaatkan akan diisi secara berurutan oleh jamaah gagal sistem, pendamping lansia, pendamping disabilitas, penggabungan mahram, dan terakhir berdasarkan nomor urut porsi. Selain itu, telah disiapkan jamaah cadangan sebanyak 40 persen dari total kuota Sulsel untuk mengisi kuota yang tidak terpakai. Jamaah cadangan ini diminta untuk bersiap sejak dini.

Kendala Informasi Pelunasan

Salah satu tantangan terbesar adalah menyampaikan informasi kepada jamaah bahwa mereka masuk dalam kuota keberangkatan tahun ini. Kesulitan terutama terjadi pada jamaah yang tinggal di daerah pedesaan dan pegunungan. Melalui media, diharapkan keluarga jamaah yang mengetahui adanya nama anggota keluarga dalam kuota tahun ini dapat segera menyampaikan informasi tersebut dan meminta jamaah melapor ke Kementerian Agama.

Daerah dengan Pelunasan Tertinggi

Untuk sementara, Kabupaten Gowa menjadi daerah dengan tingkat pelunasan tercepat. Dari sekira 1.400 jamaah yang memperoleh kuota, sebanyak 800 jamaah telah melunasi biaya haji. Tingginya antusiasme ini dipengaruhi oleh kondisi sebelumnya, di mana Kabupaten Gowa biasanya hanya memperoleh kuota sekitar 400-450 jamaah. Saat kuota meningkat signifikan, semangat jamaah, penyuluh dan jaringan pendukung turut membantu percepatan pelunasan.

Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *