Tahun 2025: Saatnya Menjelajahi Kekuatan Bertahan
Jujur saja, menjalani tahun 2025 tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana. Ada hari-hari yang terasa biasa, mengalir tanpa gejolak. Namun ada pula masa ketika hidup seakan memintaku berhenti sejenak — diam, menepi, tanpa peta yang jelas.
Di titik itu, aku sadar, tidak semua tahun hadir untuk dimenangkan dengan lari kencang. Ada tahun yang datang untuk mengajarkan cara bertahan. Sebagai pekerja dan juga anak, tahun ini kujalani dengan ritme yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ada waktu luang untuk keluarga yang dulu sering terlewat, ada masa bekerja meski tidak selalu stabil, dan ada jeda panjang untuk berhadapan dengan batin sendiri.
Sekilas tampak seimbang, tetapi di baliknya, ada pergulatan yang tidak ringan. Momen paling melelahkan datang ketika proyek kerja yang kujalani harus berakhir. Selesai. Kelar. Kata yang sederhana, tapi maknanya panjang. Itu berarti aku kembali kehilangan pekerjaan.
Tidak ada lagi rutinitas harian yang pasti, tidak ada jam kerja yang mengikat, dan tidak ada kepastian kapan roda itu akan kembali berputar. Hari itu sebenarnya berjalan biasa saja. Tidak ada drama, tidak ada ledakan emosi. Aku hanya pulang ke rumah dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Rumah yang sama, suasana yang sama, tetapi rasa di dalam dada berbeda. Aku kembali berada di fase “diam di rumah”, sebuah fase yang, jujur saja, selalu menjadi tantangan bagiku. Aku mengenal diriku sebagai orang yang mudah goyah ketika tidak memiliki kegiatan yang pasti. Ketika hari-hari tidak bertanda, mood-ku mudah naik turun.
Ada pagi yang terasa ringan, tetapi sore harinya berubah menjadi berat tanpa sebab jelas. Emosi jadi lebih sensitif. Hal kecil mudah memancing marah. Dan di sanalah stres pelan-pelan tumbuh, diam-diam, tapi konsisten.
Yang membuat tahun 2025 terasa berat sebenarnya bukan soal penghasilan. Alhamdulillah, rezeki masih ada, meski datangnya tidak menentu. Bukan itu yang paling menguras. Yang melelahkan justru perasaan kehilangan arah harian. Bangun pagi tanpa agenda yang jelas. Menjalani hari tanpa ritme yang bisa dipegang. Waktu terasa panjang, tetapi energi seolah cepat terkuras.
Dalam kondisi seperti itu, aku mulai banyak bercakap dengan diriku sendiri. Aku menyadari betapa selama ini rutinitas menjadi penopang kewarasan. Ketika rutinitas runtuh, aku dipaksa berhadapan dengan sisi diriku yang paling rapuh. Pikiran ke mana-mana. Perasaan mudah terseret oleh kekhawatiran tentang masa depan.
Ada hari-hari ketika aku duduk lama di depan layar, berniat menulis, tapi tak satu kalimat pun keluar. Ada juga hari ketika rasa bersalah muncul begitu saja, hanya karena merasa tidak cukup produktif. Padahal, aku masih bangun pagi, masih menjalani hari, dan masih berusaha bertahan. Namun standar dunia sering kali lebih keras daripada kemampuan diri.
Pelan-pelan, aku belajar memahami satu hal penting: aku bukan malas. Aku hanya sedang lelah, terutama secara mental dan perasaan. Dan tidak semua lelah harus dilawan dengan paksaan. Ada lelah yang justru meminta ditemani, bukan dimusuhi.
Di titik itu, hal-hal kecil menjadi sangat berarti. Menulis, misalnya. Bukan selalu untuk dibaca orang lain, tetapi sebagai ruang aman untuk menumpahkan isi kepala. Membaca, agar pikiran tetap punya asupan yang sehat. Dan jeda — waktu untuk berhenti sejenak, merenungi diri, melakukan introspeksi. Dalam Islam, proses ini sering disebut mujahadah: bersungguh-sungguh melawan kegelisahan diri sendiri, bukan dengan kekerasan, tapi dengan kesadaran.
Yang paling menguatkan tentu saja doa. Doa-doa yang kupanjatkan dengan bahasa sederhana, sering kali tanpa rangkaian kata yang indah. Dan doa-doa lain yang aku yakini diam-diam dilantunkan oleh orang-orang baik dalam hidupku: orang tua, guru, sahabat. Mereka mungkin tidak selalu hadir secara fisik, tetapi doa mereka terasa nyata — menenangkan, menguatkan, menjaga agar aku tidak jatuh terlalu jauh.
Dari situ aku belajar, pertolongan Allah tidak selalu datang dalam bentuk solusi instan. Tidak selalu berupa pekerjaan baru yang tiba-tiba datang. Kadang Ia hadir dalam bentuk kesabaran yang diperpanjang. Dalam bentuk hati yang perlahan dilapangkan. Atau melalui orang-orang yang tanpa diminta, tetap mendoakan.
Menjelang akhir tahun 2025, aku tidak bisa berkata bahwa semuanya sudah selesai dan rapi. Belum. Masih ada pertanyaan, masih ada ketidakpastian. Tetapi satu hal yang bisa kukatakan dengan jujur: aku masih berdiri. Dan di fase hidup seperti ini, bertahan saja sudah merupakan kemenangan kecil.
Pelajaran terbesar yang ingin kubawa ke tahun berikutnya sederhana: jangan meremehkan kekuatan bertahan. Hidup tidak selalu meminta kita berlari mengejar target demi target. Ada masa ketika hidup justru meminta kita diam, menepi, dan mengenali diri sendiri dengan lebih jujur.
Jika kamu menjalani 2025 dengan rasa lelah yang serupa — merasa tertinggal, bingung, atau sedang berjuang dalam diam — semoga cerita ini bisa menemani. Kita mungkin tidak selalu menang besar, tetapi selama kita belum menyerah, kita masih berada di jalan yang benar.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











