Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa ia telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan istrinya pada hari Sabtu (3/1). Penangkapan ini terjadi di tengah serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh pemerintahan Trump terhadap negara Amerika Latin tersebut. Namun, apa sebenarnya alasan Trump melakukan tindakan tersebut?
Trump menuduh bahwa pemerintahan Maduro telah membanjiri Amerika dengan narkoba dan anggota geng. Ia menyalahkan Maduro atas kedatangan ratusan ribu migran dari Venezuela ke AS. Migran-migran ini termasuk dalam delapan juta warga Venezuela yang kabur dari krisis ekonomi dan penindasan di negara mereka sejak tahun 2013.
Tanpa memberikan bukti, Trump menyatakan bahwa Maduro telah mengosongkan penjara dan rumah sakit jiwa, serta memaksa para narapidana untuk bermigrasi ke AS. Selain itu, Trump fokus pada pemberantasan masuknya narkoba, terutama fentanyl dan kokain, ke AS. Ia telah menetapkan dua kelompok kriminal Venezuela, Tren de Aragua dan Cartel de los Soles, sebagai Organisasi Teroris Asing (FTO). Bahkan, ia menuduh bahwa Cartel de los Soles dipimpin langsung oleh Maduro sendiri.
Para analis menunjukkan bahwa Cartel de los Soles bukanlah kelompok hierarkis, melainkan istilah yang digunakan untuk menggambarkan pejabat korup yang membiarkan kokain transit melalui Venezuela. Trump juga telah meningkatkan hadiah hingga $50 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro dan menetapkan pemerintah Maduro sebagai FTO.
Maduro secara keras membantah tuduhan tersebut dan menuduh AS menggunakan “perang melawan narkoba” sebagai dalih untuk mencoba menggulingkannya. Menurutnya, AS ingin menguasai cadangan minyak Venezuela yang sangat besar.
Serangan Amerika Serikat ke Venezuela dimulai sejak Desember 2025. Serangan pertama dilakukan terhadap area dermaga pada 29 Desember 2025, tempat berlabuh kapal-kapal yang diduga membawa narkoba tanpa menyebutkan lokasi serangan tersebut. Jika dikonfirmasi, serangan AS di daratan Venezuela akan menjadi peningkatan tajam dalam kampanye Washington melawan pemerintah Maduro.
AS sejak bulan lalu juga telah mengerahkan 15.000 tentara dan sejumlah kapal induk, kapal perusak rudal, dan kapal serbu amfibi ke Karibia. Ini adalah pengerahan terbesar ke wilayah tersebut sejak invasi AS ke Panama pada 1989. Pasukan AS sebelumnya juga telah memainkan peran kunci dalam blokade angkatan laut AS yang diberlakukan Trump terhadap semua kapal tanker minyak yang dikenai sanksi yang masuk dan keluar Venezuela.
Di antara armada AS terdapat USS Gerald Ford, kapal induk terbesar di dunia. Helikopter AS dilaporkan lepas landas dari kapal tersebut sebelum pasukan AS menyita sebuah kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela pada 10 Desember. AS mengatakan kapal tanker tersebut digunakan untuk mengangkut minyak yang dikenai sanksi dari Venezuela dan Iran. Sementara itu, Venezuela menggambarkan tindakan tersebut sebagai pembajakan internasional.
Maduro: AS Ingin Cadangan Minyak Venezuela
Sehari sebelum serangan, Maduro menyatakan siap untuk melakukan dialog konstruktif dengan Washington untuk memerangi perdagangan narkoba. Namun, menurut dia, Washington ingin memaksa perubahan pemerintahan di Venezuela dan mendapatkan akses ke cadangan minyak mereka. “Apa yang mereka cari? Jelas bahwa mereka berusaha memaksakan diri melalui ancaman, intimidasi, dan kekerasan,” kata Maduro dalam wawancara yang direkam sebelumnya dan ditayangkan di televisi pemerintah.
Ia menyatakan bahwa Venezuela telah memberi tahu pemerintah Amerika Serikat bahwa mereka ingin serius membahas kesepakatan untuk memerangi narkoba. Di sisi lain, Maduro juga menyatakan siap menerima investasi AS jika negara tersebut ingin minyak dari Venezuela. “Seperti dengan Chevron, kapan pun mereka menginginkannya, di mana pun mereka menginginkannya, dan bagaimana pun mereka menginginkannya,” katanya.
Chevron adalah satu-satunya perusahaan minyak besar yang mengekspor minyak mentah Venezuela ke Amerika Serikat. Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Wawancara tersebut direkam pada Malam Tahun Baru, hari yang sama ketika militer AS mengumumkan serangan terhadap lima kapal yang diduga menyelundupkan narkoba.
Namun, pernyataan Maduro tidak diindahkan oleh Trump. Serangan AS dimulai di lepas pantai Karibia Venezuela pada 29 Desember 2025 dan kemudian meluas ke Samudra Pasifik bagian timur. Maduro bahkan telah didakwa dengan terorisme narkoba di AS, dan penangkapannya dihadiahkan US $50 juta atau setara Rp 835 miliar.
Serangan besar-besaran pun dilakukan AS pada Sabtu (3/1) dini hari. Trump mengumumkan pada Sabtu (3/1) pagi bahwa ia telah melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya. Keduanya juga telah dibawa keluar dari Venezuela.
Hal ini disampaikan Trump di akun Truth Social. Ia menyebut operasi ini dilakukan bekerja sama dengan penegak hukum AS. Detail selanjutnya akan diumumkan dalam konferensi pers hari ini pukul 11 pagi waktu Florida, Amerika Serikat atau Sabtu (3/1) pukul 23.00 WIB.
CNN melaporkan terjadi beberapa ledakan dan mendengar suara pesawat hilir mudik pada Sabtu (3/1) dini hari di ibu kota Venezuela, Caracas. Beberapa wilayah kota mengalami pemadaman listrik. Ledakan pertama yang disaksikan oleh tim CNN terjadi sekitar pukul 01.50 waktu setempat atau pukul 12.50 WIB, Sabtu (3/1). Beberapa wilayah kota pun mengalami pemadaman listrik.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











