"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"
Budaya  

Cerpen Rika Johara: ‘Obrolan Malam Ini’

Cerpen Rika Johara: ‘Catatan Jurnalis Dari Negeri Woes: Yuda Tanpa S’

Warung kopi itu berada di ujung gang, seperti rahasia kecil yang sengaja disimpan. Lampu yang menyala dengan warna kuning dan redup membuat asap rokok terlihat mengelilingi kepala. Gue mampir hanya untuk mengisi perut karena dari siang hingga saat ini perut gue terus berisik. Pesanan gue adalah satu bungkus mi instan tanpa telur dan air panas yang cukup banyak.

Di bangku kayu pojokan, ada seorang abang yang memiliki perut yang subur. Bajunya kemeja lapangan yang sedikit terbuka, sehingga perutnya terlihat dengan bangga. Wajahnya licin, kumis tipis, dan matanya tajam seperti kalkulator. Di depannya tersedia kopi item dan roti bakar yang setengah gosong.

Gue memulai obrolan dengan basa-basi. “Sendiri, Bang?” tanya gue.

“Sendiri tapi pikiran saya penuh,” jawab dia sambil menyeruput kopi. “Anda wartawan, ya?”

Gue mengangguk. “Iya, Bang. Masih muda. Masih miskin.”

Dia tertawa kecil. “Wartawan muda idealis biasanya kurus. Tidak heran. Selalu lapar.”

Mie gue datang. Gue mulai mengaduk pelan agar obrolan bisa berjalan. Kita mulai membicarakan pekerjaan. Media saat ini sedang dalam masa sulit, iklan tidak lancar, honor juga sering tertunda sampai kalender berganti bulan.

“Sekarang bisnis media seperti menjual es di musim hujan,” katanya. “Iklan ada, tapi duitnya tidak sampai. Palingan nyangkut di tengah, diserobot oleh orang-orang tertentu, Anda tahu lah, yang suka mencuri rezeki orang.”

Gue tersenyum. “Tahu, Bang. Wajahnya alim, sikunya runcing.”

Dia tertawa keras. “Jadi harus pintar bergerak agar mendapatkan bagian. Idealisme boleh, tapi jangan terlalu idealis.”

Obrolan semakin dalam. Kopi tambahan datang, dan mie gue habis. Malam semakin larut.

“Eh Bang,” gue berkata, “Anda ikut liputan kasus Ahmadiyah yang sedang ramai sekarang? Persatuan ulama datang ke DPR meminta dibubarkan.”

Dia langsung menggeleng. “Ah, saya tidak ikut kasus-kasus seperti itu. SARA. Ribet. Tidak ada duitnya juga.”

Gue agak diam. “Tapi Bang, jurnalis harus punya diversity—”

“Bullshit,” potong dia. “Kalau pola pikirnya cuma slogan. Anda ingin ideal, tapi jika kantor Anda tidak kuat membayar listrik, idealisme menjadi lilin di angin.”

Gue merasa panas sedikit, tapi gue tahan. Dia balik bertanya, nadanya tiba-tiba serius.

“Pernahkah Anda diancam karena tulisan Anda?”

“Belum, Bang,” jawab gue jujur.

Dia tersenyum miring. “Saya sering. Pengalaman. Dulu saya kritik pager kantor bupati. Saya bilang jelek, bikin sakit mata. Eh orang-orang pemdanya naik darah. Bupatinya marah. Setiap ada event, saya minta wawancara, ditolak terus.”

“Terus?” gue condongkan badan.

“Pager itu dicat ulang,” katanya pelan. “Saya bangga. Tapi harga tulisan tidak sebanding dengan harga nyawa. Karena itu, banyak pejabat tidak suka saya. Cuan saya hilang.”

Angin malam masuk melalui celah warung. Abang itu mengeluarkan rokok, menyalakannya, dan matanya menatap ke depan.

“Apakah Anda tahu cerita wartawan SieNeN yang mengundurkan diri?” katanya. “Dia cabut karena liputannya soal konflik disensor, katanya integritas lebih mahal dari jabatan. Dia pilih keluar daripada nurutin redaksi yang takut sama sponsor.”

Gue mengangguk.

“Terus,” lanjut dia, “Anda tahu juga wartawan yang dibunuh karena tulisannya. Dibakar sekeluarga. Rumahnya jadi api. Ngeri, kan?”

Gue menarik napas. “Iya, Bang. Saya nonton sidangnya di IG. Sidang Uji Materiil Undang-Undang TNI di MK, Rabu 14 Januari. Anaknya, Eva Meliani Pasaribu, memberikan kesaksian tentang pembunuhan berencana lewat pembakaran yang membunuh bapaknya, Riko Sempurna Pasaribu, beserta seluruh keluarganya.”

Abang itu diam. Rokoknya menyala sendiri.

“Tapi Bang,” gue melanjutkan, darah gue terasa panas, “tugas jurnalis itu mencari kebenaran, menjaga konstitusi, berdiri di sisi yang dilemahkan. Kita bukan hanya pencatat, tapi penjaga ingatan. Kalau semua mundur karena takut, siapa yang menulis?”

Dia menatap gue. Ada senyum tipis, entah satire atau bangga.

“Kamu benar-benar idealis,” katanya. “Tapi jangan goblok.”

Gue tertawa kecil. “Rocky Gerung saja bisa bebas dari delik-delik akademisnya. Mainkan kata-kata. Harusnya kita juga bisa. Kata-kata itu senjata, Bang. Untuk menyerang, untuk melindungi.”

Abang itu menyeruput kopi terakhirnya. “Mungkin kamu benar. Mungkin saya terlalu banyak menghitung.”

Warung mulai sepi. Jam menunjukkan tengah malam. Kita berdiri bersamaan. Di luar, jalan basah, lampu kota berkedip.

“Jaga diri, Dik,” katanya sambil menepuk bahu gue. “Idealismemu jangan sampai dibakar.”

Gue mengangguk. Di mata gue, semangat masih menyala. Di punggungnya yang gendut, gue lihat bayangan lelah. Obrolan tadi malam meninggalkan rasa pahit-manis—seperti kopi item tanpa gula—tapi membuat kita melek.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *