"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"

Ancaman Perang Dunia Ketiga, Dimana Awalnya?

Tatanan Internasional yang Rapuh

Tahun-tahun terakhir menunjukkan bahwa tatanan internasional pasca-Perang Dingin semakin rapuh. Banyak pengamat, politikus, dan ahli hubungan internasional menyatakan bahwa dunia kini memasuki fase paling berbahaya sejak 1945. Berbagai isu seperti konflik di Timur Tengah, ancaman nuklir, serta ketegangan antara negara-negara besar semakin meningkat.

Majalah The New Yorker menyebut pemerintahan Donald Trump sebagai penggerak “proyek imperialis baru” yang ditandai dengan pendekatan unilateralisme agresif. Dari rencana penguasaan Greenland hingga penggunaan kekuatan di Amerika Latin, pendekatan ini dinilai menciptakan preseden berbahaya yang bisa ditiru oleh negara-negara besar lainnya, terutama Rusia dan China. Akibatnya, risiko konflik global meningkat tajam.

Sementara itu, The Telegraph bahkan menyebut Perang Dunia Ketiga bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan proses yang bisa saja telah dimulai secara terfragmentasi. Dari Taiwan hingga Baltik, garis api global semakin jelas terbentuk. Di mana saja titik api yang berpotensi memicu perang besar yang ditakutkan tersebut?

Bara di Timur Tengah

Timur Tengah adalah salah satu titik api utama. Ancaman intervensi militer Amerika Serikat terhadap Iran, di tengah gelombang protes domestik di negeri itu, memicu eskalasi retorika dan kesiapan militer. Teheran menuduh Washington secara sengaja meningkatkan ketegangan kawasan.

Dua tahun genosida di Gaza yang dilakukan Israel menjadi pemicu memanasnya situasi belakangan. Iran agaknya menjadi sasaran negara Zionis dan AS karena merupakan satu-satunya negara formal di kawasan yang melakukan tindakan nyata atas aksi Israel yang sejauh ini telah membunuh 71 ribu warga Gaza, kebanyakan anak-anak dan perempuan tersebut.

Kelompok-kelompok yang didukung Iran seperti Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon juga melancarkan serangan mencoba menekan Israel menghentikan agresi di Gaza.



Tentara Israel menghancurkan seluruh blok pemukiman di kamp Jabalia, sebelah utara Jalur Gaza, akhir Agustus 2025.

Dalam eskalasi terkini, ketua parlemen Iran memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan dibalas dengan serangan terhadap pangkalan dan kapal Israel serta Amerika di kawasan. Ini mendesak Israel dan sejumlah negara Arab mengiba agar AS menunda menyerang Iran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Ahad (18/1/2025) kembali mengeluarkan peringatan bahwa serangan Amerika Serikat ke negaranya akan memprovokasi sebuah respons keras. Jika serangan itu sampai mengakibatkan terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, hal tersebut bakal dilihat “sama dengan perang berskala besar terhadap bangsa Iran.”

Israel sendiri berada dalam status siaga tinggi. Militer Zionis disebut siap memanfaatkan serangan AS untuk menghantam target-target Iran yang selama ini masuk daftar sasaran mereka.

Para analis menilai eskalasi ini tidak lagi tampak sebagai kecelakaan, melainkan arah kebijakan.

Komplikasi di Eropa

Selama Perang Dingin, selalu ada potensi konflik di Eropa. Namun saat ini, pernyataan-pernyataan pejabat di kedua sisi Atlantik, Rusia dan di seluruh Eropa Barat, menunjukkan kesiapan retoris untuk konflik bersenjata dalam skala yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Perdana Menteri Hongaria Viktor Orbán mengeklaim bahwa para pemimpin Eropa telah membentuk “Dewan Perang” untuk merencanakan kemenangan dalam potensi perang dunia ketiga. “Saya duduk di sana di antara mereka; 27 perdana menteri dan kepala negara duduk mengelilingi meja ketika kita bertemu di Eropa, dan saya memberitahu Anda dengan tegas bahwa mereka akan berperang,” kata Orbán pada rapat umum anti-perang pada Sabtu (17/1/2026).

Mark Rutte, Sekjen NATO, baru-baru ini mengatakan bahwa negara-negara Barat “harus bersiap menghadapi perang besar seperti yang dialami kakek dan nenek kita”. Sementara Panglima Angkatan Udara Inggris Sir Richard Knighton mengatakan bahwa situasi saat ini jauh lebih berbahaya dibandingkan masa-masa sebelumnya dalam kariernya.

Ketika Vladimir Putin terus menunda perundingan perdamaian, ia juga memperingatkan bahwa ia siap berperang dengan Eropa jika diperlukan. Jika hal ini terjadi, kemungkinan besar hal ini akan terjadi melalui provokasi sekutu NATO di Eropa pada sejumlah titik rawan terutama di Baltik, Atlantik Utara, dan Balkan.

Untuk mengantisipasi hal ini, Moskow telah mulai menguji pertahanan NATO dan menyelesaikannya dengan serangkaian serangan wilayah udara ke Estonia, Rumania, dan Polandia.



Tim penyelamat dan polisi berada di lokasi jatuhnya bom serangan Rusia di terminal pos di Kharkiv, Ukraina, Ahad (30/6/2024). Dalam kejadian tersebut setidaknya satu orang tewas dan 10 lainnya terluka, termasuk seorang anak berusia 8 bulan. Kharkiv yang merupakan kota terbesar kedua di Ukraina kerap menjadi sasaran Rusia. – (EPA-EFE/SERGEY KOZLOV)

Laut Asia Timur Bergolak

Selat Taiwan juga disebut banyak analis sebagai medan paling berbahaya di abad ke-21. Beijing memandang Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan dari China, sementara Amerika Serikat semakin terbuka mendukung status quo kemerdekaan de facto pulau tersebut.

Latihan militer besar-besaran Pasukan Pembebasan Rakyat (PLA) China dengan peluru tajam, simulasi blokade, uji tongkang pendaratan amfibi, hingga pengembangan pemotong kabel laut menunjukkan kesiapan China untuk operasi militer kompleks.

Pada tanggal 31 Desember 2025, Beijing merilis pidato Tahun Baru yang disampaikan oleh Presiden Xi Jinping ketika negara tersebut bersiap memasuki tahun 2026. Selain masalah dalam negeri, Taiwan sekali lagi muncul sebagai titik fokus utama, yang mencerminkan tekad Beijing yang semakin besar.

Dalam pidatonya, Presiden Xi menegaskan bahwa “Masyarakat China di kedua sisi Selat Taiwan memiliki garis keturunan dan kekerabatan yang sama. Reunifikasi nasional, sebagai tanda zaman, tidak dapat dihentikan.”

Sebelum menutup tahun 2025, China meluncurkan latihan militer skala besar yang dijuluki “Misi Keadilan” yang dimulai pada 29 Desember 2025. Latihan ini menandai latihan militer berskala terbesar hingga saat ini dan terutama mencakup latihan tembak-menembak.



Hubungan rumit China dan Taiwan

China Central Television (CCTV) menekankan bahwa Beijing “tidak akan menunjukkan belas kasihan dalam memerangi separatisme dan mendorong reunifikasi nasional, melanjutkan operasi anti-separatis dan anti-intervensi, dan dengan tegas menjaga kedaulatan nasional, persatuan, dan integritas wilayah.”

Korea Utara Menambah Ancaman

Korea Utara menambah lapisan ancaman baru. Uji coba rudal balistik, penguatan industri senjata, serta pengembangan kapal perang berkemampuan nuklir menunjukkan ambisi militer Pyongyang yang meningkat drastis.

Hubungan militer dengan Rusia, termasuk pengiriman pasukan ke Ukraina, memunculkan kekhawatiran transfer teknologi strategis. Di saat yang sama, Korea Utara menjauh dari gagasan reunifikasi damai dan meningkatkan provokasi di perbatasan.

Sejumlah analis menilai Korea Utara bisa dimanfaatkan sebagai pion strategis oleh China untuk membuka front baru melawan AS. Konflik di Semenanjung Korea berpotensi menjadi pengalih perhatian global jika Beijing mengambil langkah terhadap Taiwan.

Yang jelas, dunia kini berada pada persimpangan sejarah. Konflik-konflik regional yang saling terhubung membuat satu kesalahan kalkulasi saja cukup untuk menyalakan api perang global. Seperti diingatkan para analis, pertanyaannya bukan lagi apakah eskalasi mungkin terjadi, melainkan apakah dunia siap menanggung konsekuensinya ketika para pemimpin dunia kehilangan akal sehat dan terus memilih konfrontasi.

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *