"Melihat Balikpapan Lebih Dekat, Berita Tanpa Jeda"
Bisnis  

Bank Eropa Hadapi Biaya Pendanaan Tinggi Akibat Risiko Iklim Mengkhawatirkan



JAKARTA — Riset terbaru yang diterbitkan oleh Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) menunjukkan bahwa bank-bank dengan risiko transisi iklim tertinggi menghadapi biaya pendanaan yang lebih mahal di pasar keuangan. Para ahli iklim telah lama menyatakan bahwa pasar pada akhirnya akan memaksa perusahaan dan lembaga keuangan untuk merespons risiko perubahan iklim seiring meningkatnya dampak yang semakin terlihat. Temuan terbaru ini menunjukkan bahwa proses tersebut mulai berjalan, dengan peminjam kini menghadapi penalti finansial ketika mengabaikan risiko iklim.

Dalam makalah yang dirilis bulan ini, ECB menemukan bahwa bank-bank dengan eksposur tinggi terhadap aktivitas yang intensif karbon menghadapi biaya pinjaman yang secara signifikan lebih tinggi di pasar pendanaan. Temuan ini memperkuat hasil riset Bank Sentral Irlandia yang diterbitkan pada Desember tahun lalu, yang menunjukkan bahwa perusahaan dengan risiko fisik iklim juga menghadapi tekanan serupa, termasuk kewajiban menyediakan agunan yang lebih besar.

Kedua studi tersebut meneliti dua jalur utama bagaimana risiko iklim memengaruhi sistem keuangan. Risiko transisi, yang mencerminkan potensi tekanan dari regulasi, pasar, dan perubahan preferensi konsumen terhadap perusahaan beremisi tinggi, selama ini dinilai sulit diukur karena banyak pemerintah menunda kebijakan menuju nol emisi. Sebaliknya, risiko fisik yang mencakup dampak nyata cuaca ekstrem terhadap aset seperti bangunan, semakin sulit diabaikan seiring meningkatnya frekuensi bencana iklim.

“Makalah-makalah ini dengan jelas menunjukkan bagaimana ekonomi transisi iklim bekerja pada level mikro, dalam aktivitas sehari-hari sistem keuangan,” ujar CEO Anthropocene Fixed Income Institute, Ulf Erlandsson, dikutip dari Bloomberg, Selasa (20/1/2026).

Riset ECB yang ditulis oleh Margherita Giuzio bersama Bige Kahraman dan Jasper Knyphausen dari Oxford Saïd Business School mengkaji hubungan antara eksposur bank terhadap debitur beremisi tinggi dan biaya pendanaan di pasar repo Eropa. Pasar repo memungkinkan bank mengelola likuiditas jangka pendek dengan menjual dan membeli kembali surat berharga berkualitas tinggi, seperti obligasi pemerintah.

Peneliti melakukan kombinasi terhadap data pinjaman repo bank-bank Eropa periode 2019–2022 dengan data emisi yang dibiayai (financed emissions), yakni jejak karbon dari portofolio pembiayaan bank. Hasilnya, bank dengan emisi yang dibiayai lebih tinggi secara konsisten membayar biaya pinjaman yang lebih mahal. Kenaikan satu deviasi standar emisi yang dibiayai berkorelasi dengan kenaikan suku bunga repo rata-rata sebesar 7% hingga 12%.

“Studi ini memberikan bukti pertama bahwa risiko iklim memengaruhi penetapan harga likuiditas bank di pasar pendanaan inti Eropa, serta menunjukkan bagaimana risiko transisi iklim dapat memperbesar kerentanan keuangan dan berinteraksi dengan transmisi kebijakan moneter,” tulis peneliti dalam riset tersebut.

“Bank terekspos pada kondisi ekonomi perusahaan yang mereka danai, karena guncangan pada perusahaan tersebut dapat memengaruhi kemampuan mereka membayar pinjaman,” ujar Giuzio. Menurutnya, risiko transisi yang disebabkan oleh faktor-faktor seperti perubahan harga karbon, regulasi, atau preferensi konsumen dapat memengaruhi biaya dan profitabilitas perusahaan, serta meningkatkan risiko kredit.

Meski demikian, sebagian pengawas keuangan masih berpendapat bahwa perubahan iklim belum menjadi ancaman langsung terhadap stabilitas keuangan. Perbedaan pandangan ini memicu perdebatan di Dewan Stabilitas Keuangan (Financial Stability Board) tahun lalu, ketika perwakilan Amerika Serikat menilai pemantauan risiko iklim hanya relevan jika terbukti menimbulkan ancaman sistemik dalam waktu dekat.

Di sisi lain, Bank Sentral Irlandia menemukan bahwa dampak fisik perubahan iklim telah tercermin dalam biaya pinjaman lintas sektor. Dari analisis terhadap 40.852 pinjaman korporasi, perusahaan yang berlokasi di wilayah rawan banjir membayar bunga sekitar 7 hingga 13 basis poin lebih tinggi dibandingkan perusahaan di wilayah tanpa risiko serupa. Selain itu, jumlah pinjaman yang terekspos risiko banjir diperkirakan akan meningkat signifikan seiring pola perubahan iklim, dan perusahaan di zona rawan banjir cenderung lebih sering menyertakan agunan.

Kajian lain dari Frankfurt School of Finance & Management memperluas analisis secara global. Berdasarkan data sekitar 86.000 pinjaman sindikasi perbankan, penelitian yang ditulis Karol Kempa menunjukkan bahwa perusahaan dari negara dengan tingkat kerentanan iklim lebih tinggi menghadapi biaya pinjaman yang lebih mahal. Satu deviasi standar peningkatan kerentanan iklim berkorelasi dengan kenaikan biaya pinjaman sebesar 39 basis poin.

“Peristiwa terkait iklim berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi perusahaan,” tulis Kempa. Dampak tersebut dapat merambat ke sektor keuangan melalui gagal bayar pinjaman dan penurunan nilai aset, yang pada akhirnya berisiko menekan stabilitas keuangan.

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *